Untuk Mengetahui Sudut Pandang

Untuk Mengetahui Sudut Pandang - Sebuah keluarga sedang menantikan masa-masa menegangkan, saat sang ayah, seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab, sedang berjuang melawan malaikat maut.

Akhirnya, sang ayah menyadari bahwa ajalnya akan tiba. Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Dia harus segera menyampaikan kalimat-kalimat terakhir kepada keluarga yang akan ditinggalkan olehnya.

Kepada isterinya, sosok setia pendamping hidupnya selama ini, dia berpesan agar selalu menjaga diri dan menjaga rumah kediaman yang sedang ditempati dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai berpindah tangan.

Kepada puteri tunggalnya, Emeno, sang ayah berpesan untuk selalu menjaga ibu mereka dengan setulus-tulusnya dan bersama sang ibu meneruskan bisnis yang ditinggalkannya.

Dan sebelum sang ayah benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya, dia memberikan pesan kepada kedua putera tercintanya, si sulung Opekiu dan si bungsu Uvewe sebagai berikut : "Pergilah kalian dari rumah untuk mencari pengalaman dan pelajaran hidup. Ayah sudah menyiapkan masing-masing sebuah tas yang berisikan uang sebagai modal kalian untuk berusaha".

Dengan nafas tersengal-sengal, sang ayah melanjutkan nasehatnya : "Anakku... ada tiga pesan penting yang ingin ayah sampaikan agar kalian berdua dapat mencapai keberhasilan hidupmu."

Sang Ayah meneruskan :
"Pertama : Jangan pernah membeli barang bekas, Kedua : Jangan membiarkan tubuhmu terkena debu dan asap hitam knalpot yang membuat kulit kalian menghitam, Ketiga : Carilah pendamping hidupmu yang cantik".

Ketiga pesan-pesan terakhir sang ayah, ternyata sedikit membingungkan Opekiu dan Uvewe. Sang ibu juga tidak berkata apa-apa, hanya menitipkan pesan kepada keduanya agar dalam bertindak jangan sampai melenceng dari pesan dan nasehat dari ayah tercinta.

Sepuluh tahun berlalu dengan cepatnya...

Sang ibu bersama puterinya, Emeno mengunjungi kedua puteranya...

Sewaktu menghadiri pernikahan kedua puteranya beberapa tahun lalu, sang ibu merasa sangat terharu dan merasa sudah melewati sebuah langkah berarti dalam hidupnya. Kedua puteranya sudah dewasa dan mandiri. Akan tiba saatnya bagi beliau untuk menimang-nimang cucunya.

Pada kunjungannya yang terakhir ini, sang ibu melihat perbedaan yang mencolok pada kehidupan Opekiu dan Uvewe.

Kehidupan si bungsu Uvewe tidak begitu menggembirakan, bisnisnya kurang sukses dan keuangannya dililit oleh hutang.

Sang ibu bertanya kepada Uvewe : "Wahai anak bungsuku, mengapa kondisi bisnis dan keluargamu begitu buruk? Apakah engkau tidak menuruti saran ayahmu?"

Uvewe menjawab: "Aku selalu mengikuti pesan ayah.. Saya selalu membeli barang baru, pakaian baru dan mainan baru. Saya juga mengikuti pesan ayah yang kedua untuk tidak mengotori badan oleh debu dan asap, sehingga saya selalu naik taxi kemana-mana. Ketiga, saya sengaja memilih isteri yang cantik jelita, pintar bersolek dan selalu menggunakan barang dan pakaian yang up to date. Pokoknya tidak ketinggalan jaman dech. Terus saya juga mempekerjakan baby sitter untuk menjaga anak-anakku.."

Sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya, manandakan tidak setuju dengan tindakan Uvewe.

Lantas sang ibu mengajak Uvewe berkunjung ke rumah abangnya Opekiu.

Kehidupan Opekiu berbeda jauh sekali dibandingkan Uvewe. Bisnisnya sukses, keluarganya bahagia dalam kesederhanaan. Isterinya tidak cantik bak artis, namun tidak juga jelek-jelek amat.

Sang ibu pun bertanya kepada Opekiu : "Wahai putera sulungku mengapa hidupmu sedemikian beruntung?"

Opekiu menjawab : "Semua ini karena saya selalu mengikuti pesan ayah... Yang pertama, saya tidak pernah membeli barang bekas untuk peralatan usahaku karena belum tentu barang bekas yang dibeli memiliki kualitas yang bagus. Seringkali orang menjual barangnya karena barang tersebut sudah rusak atau bermasalah. Saya takut nanti malah mempersulitku saat bekerja. Namun untuk barang-barang perabotan, saya memilih memilih barang bekas, karena saya hanya perlu memperbaiki sedikit, perabotan tadi akan layak untuk digunakan".

Sang Ibu mengangguk-angguk..

Opekiu melanjutkan kembali : " Saya selalu berangkat pagi-pagi sekali sebelum kendaraan banyak berseliweran di jalan dan pulang setelah matahari terbenam, saat kendaraan sudah tinggal sedikit di jalan. Saya juga menggunakan jaket dan helm penutup muka sehingga asap dan debu tidak mengenai tubuhku".

Opekiu berhenti sejenak, sambil melihat isterinya yang berparas biasa-biasa saja tanpa make up : "Ayah berpesan kepadaku untuk mencari pendamping yang cantik, dan pesan ini benar-benar saya patuhi. Saya bersyukur mendapatkan pendamping hidup yang "cantik" akhlak dan perilakunya, tidak pernah mengeluh, mendukung dan mendampingiku di saat susah maupun senang dengan ikhlas serta mau "berkeringat" untuk merawat dan menjaga anak-anakku seorang diri".

Akhirnya, si bungsu Uvewe menyadari kesalahannya. Berkat bantuan dan dukungan Opekiu, akhirnya kehidupan dan bisnisnya menjadi normal kembali.

Sobatku yang budiman...

Dua anak manusia memerima pesan yang sama dari orang yang sama, namun dikarenakan masing-masing memiliki sudut pandang dan persepsi berbeda sehingga mereka melakukan tindakan yang berbeda satu sama lain. Dan tentunya hasil yang diperoleh juga akan berbeda.

Jangan mengartikan sebuah pesan secara "lurus dan datar tanpa improvisasi", apalagi jika hati kecil mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu tidak benar.

Berhati-hatilah dengan sudut pandang dan persepsi, gunakan hati nurani sebagai filternya.

Sebuah persepsi positif pasti akan memberi hasil menakjubkan. Dan sebaliknya persepsi negatif tentunya akan memberikan hasil menghancurkan....

Percayalah...

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini