Tentang Kehilangan Anak

Tentang Kehilangan Anak - Banyak sekali kita mendengar berita kehilangan anak di mal-mal, di pusat perbelanjaan modern dan tradisional atau barangkali kehilangan anak yang "spooring" minggat dari rumah.

Semua contoh di atas adalah arti kehilangan yang benar-benar terjadi.

Namun yang belakangan terjadi dan bakal menjadi tren di masa depan adalah orang tua "kehilangan" anak, saat sang anak berada di sisinya.

Apakah maksud pernyataan di atas?

Sebenarnya, banyak di antara kita, merasa kehilangan anak bukan di tempat keramaian atau minggat dari rumah, namun kerapkali kita kehilangan anak justru di dalam rumah kita sendiri, dimana posisi sang buah hati persis di depan mata kita.

Hal ini dapat terjadi karena kita sering mengacuhkan, mencuekkan, tidak mempedulikan dan tidak mau membangun hubungan komunikasi yang baik dengan anak kita.

Awal dari perpisahan atau kehilangan anak kita, terjadi di saat kita membiarkan baby sitter, pembantu atau kakek nenek dan saudara dalam mendidik, merawat dan membesarkan anak kita sepanjang hari, dari pagi sampai malam, hingga mereka tidur terlelap dalam peraduannya.

Atau di saat kita lebih mementingkan urusan pekerjaan, mengutamakan chatting via medsos atau bermain game di gadget, maka di saat itulah mulai terbentang jurang pemisah yang semakin lama semakin melebar.

Banyak orang tua membelikan gadget buat anaknya agar sang anak tidak mengganggunya ketika sedang berselancar di dunia maya atau sedang menikmati tontonan drama Korea.

Seringkali kita merasakan anak kita menjadi sesosok orang asing yang tidak dikenal di dalam rumah. Wajahnya kita kenal namun sifat dan kepribadiannya tidak lagi dikenal.

Bahkan tidak jarang teman-teman dan pembantu yang mengurus anak kita, jauh lebih memahami perilaku dan keseharian anak kita.

Dampaknya, di saat kita membutuhkan mereka untuk bercerita, sharing, bercengkerama dan bersenda gurau, anak kita malah memilih untuk melakukan hal tersebut bukan dengan orang tua kandungnya. Sungguh miris bukan?

Seandainya mereka bersedia duduk mendengarkan celotehan kita, kedua bola matanya memandang dengan asing, seperti melihat orang yang baru dikenalnya, gerak-geriknya terasa kaku seperti sebuah robot hidup.

Jangan sepenuhnya menyalahkan anak-anak sekarang, jika kelak membiarkan orang tuanya hidup di panti jompo. Jangan pula menyudutkan mereka sebagai anak yang tidak berbakti. Padahal kita sendiri yang salah dalam pola pengasuhan anak sendiri.

Karma perbuatan akan terjadi, di saat anak kita membutuhkan kasih sayang dan perhatian, kita malah cuek, maka di saat kita membutuhkan mereka, anak-anak kita akan berlaku sama mengacuhkan keberadaan kita.

Sobatku yang budiman...

Tidak ada kata terlambat untuk "mengambil alih" tanggungjawab mendidik dan membesarkan buah hati kita dari mereka yang bukan orang tua kandungnya.

Jika tidak dapat seharian bersama dan bercengkerama dengan anak-anak kita, namun setidaknya sediakan waktu beberapa jam dalam sehari untuk bermain dan mendengarkan celotehan mereka...

Simpel bukan...?

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini