Jangan Pernah Untuk Menyerah

Jangan Pernah Untuk Menyerah - “Jangan pernah menyerah, karena ada tempat dan saat dimana ombak paling tinggi sekalipun akan berbalik arah.”

Hidup ini penuh perjuangan dan tidak mudah untuk dilalui. Ada kalanya kita merasa gembira karena berhasil mendapatkan sesuatu yang kita mau. Namun tidak jarang, hasil mengecewakan yang akan kita peroleh.

Banyak orang, diwakili oleh sosok yang bernama Uvewe, menyikapi suatu keberhasilan dengan "berfoya-foya", mengadakan "pesta" yang akan menghabiskan semua hasil yang telah diperolehnya.

Di saat pestanya telah usai, Uvewe terpaksa harus memulai hidup dari titik nol. Mencoba berjuang kembali untuk memperoleh apa yang pernah diraihnya, namun ternyata situasi telah berubah, sehingga perjuangannya menjadi lebih sulit dan berliku.

Euforia keberhasilan masih melekat pada dirinya, hingga membuat Uvewe menjadi rapuh dan malas. Gelombang kegagalan berada di depan mata dan harus segera dihadapi. Namun Uvewe sudah terlanjur mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Akibatnya, dirinya tidak lagi mampu menerima arti sebuah kegagalan.

Kecewa, frustasi dan tekanan hidup bertubi-tubi menghinggapi batinnya, dan menjerumuskan semangat bertarungnya ke jurang kegelapan. Stress berubah menjadi depresi mendekati gila. Ujung-ujungnya, Uvewe harus menikmati sisa hidupnya di panti yang menampung orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, ada sebagian orang, yang diwakili oleh Opekiu, menyikapi suatu kegagalan dengan tabah dan tawakal. Mencoba bertahan dan bergerak mengikuti ombak yang menghempaskan tubuhnya kesana kemari.

Setelah ombaknya mereda, lantas Opekiu mulai memacu dan meng-endorse dirinya untuk berenang menuju ke tepian. Bangkit dan mulai melangkah. Berupaya memanfaatkan setiap detik waktu dan kesempatan untuk berlari sedikit demi sedikit.

Keteguhan hati dan kekuatan iman mengantarkan Opekiu berjalan di atas lintasan keberhasilan. Semua rintangan dan batu kerikil berhasil disingkirkan. Semangat juang terus menyala hingga finish di ujung keberhasilan.

Opekiu tidak menjadi sombong atau tinggi hati. Kesuksesan yang diraihnya, dijaga dengan penuh kehati-hatian. Sebab dia sadar, jika sampai "terpeleset" lagi, maka diperlukan waktu dan pengorbanan yang lebih besar lagi untuk bangun, berdiri dan berlari mengejar ketinggalan.

Opekiu tetap mawas diri, tidak membiarkan nafsu duniawi menggerogoti hasil yang berhasil digenggamnya. Tidak lantas menghambur-hamburkan apa yang berhasil diperolehnya, setelah melalui perjuangan yang diwarnai oleh kegagalan demi kegagalan. Dia menyiapkan "tabungan kehidupan" yang kelak dapat dinikmatinya di saat dirinya tidak lagi produktif.

Sobatku yang budiman...

Dua tipe manusia yang sangat bertolak belakang di atas, akan menjadi pembelajaran hidup yang sangat berarti.

Sebuah pinsil yang patah menjadi dua, bukan lantas menjadi barang bekas yang tidak berguna. Kedua potongan pinsil, dapat ditajamkan (diraut) kembali, menghasilkan dua buah alat tulis yang identik dan sama-sama berguna.

Sebuah kegagalan harus dimaknai sebagai keberhasilan yang tertunda, asalkan tetap berlandaskan pada komitmen perjuangan yang tidak pernah menyerah.

Kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya...

Jangan pernah menyerah dan jangan sekali-kali menghambur-hamburkan kesuksesan yang berhasil diraih.

Niscaya, hidup kita akan senantiasa diselimuti oleh awan kebahagiaan...

(Salam Pencerahan - Salam UFO) by Firman Bossini