Bagaimana Mengikuti Arah Tamparan

Bagaimana Mengikuti Arah Tamparan - "Sekuat-kuatnya orang, lebih kuat orang yang mampu mengontrol diri terhadap hinaan, cercaan dan ungkapan yang menjatuhkan mental"

Kepribadian orang dapat dilihat dari bagaimana dirinya menghadapi dan menerima sebuah hinaan. Banyak orang akan segera membalas hinaan yang diterimanya dengan kalimat yang jauh lebih kasar kepada orang yang melancarkan hinaan kepadanya.

Daripada membalas hinaan, lebih baik lagi jika kita dapat membuktikan bahwa hinaan tersebut tidak benar.

Tidak semua orang melakukan hinaan bertujuan positif untuk menyadarkan atau mengingatkan, melainkan hanya untuk memojokkan pihak lain.

Sebenarnya sebuah hinaan dapat membuat kita menjadi tegar dan kuat. Sebuah hinaan akan memacu manusia berakal untuk memperbaiki diri dan introspeksi diri. Hinaan yang tidak benar dan sembarangan akan memacu kita untuk melakukan pembuktian, karena memang kita tidak bersalah atau tidak sehina seperti yang disangkakan.

Akan tetapi, ada hinaan yang bersifat menjatuhkan dan merendahkan martabat. Ini adalah jenis hinaan yang paling rendah dan tidak membangun. Misalnya, “Wajahmu jelek seperti manusia purba...!”. Kita tidak dapat membantah karena memang kenyataannya seperti itu..

Pada umumnya seseorang yang dihina atau dicela akan menghasilkan dua output keluaran, yaitu bersikap marah dan sedih.

Kemarahan yang paling fatal adalah dendam yang kerapkali mengarahkan seseorang melakukan perbuatan kriminal, misalnya mencelakakan orang yang menghina dirinya.

Sedangkan kesedihan yang paling parah adalah kejatuhan mental dan merasa frustasi, dapat mengakibatkan proses bersosialisasi orang tersebut menjadi terganggu, misalnya enggan bertemu orang lain, mengasingkan diri atau menyimpan rasa ketakutan yang berlebihan.

Sobatku yang budiman...

Jangan biarkan rasa sakit hati berdiri di atas diri pribadi dan membuat kita menjadi lemah tidak berdaya

Perbuatan penolakan secara membabi buta semacam ini, secara tidak langsung, seakan-akan turut memberikan persetujuan mengenai hal yang ditudingkan dalam hinaan tersebut. Kita akan berada dalam posisi yang serba salah.

Sesungguhnya kita merasakan sakit hati adalah karena kita melakukan perlawanan terhadap hinaan tersebut.

Kita bisa visualisasikan pada sebuah tamparan....

Jika sebuah tamparan datang dari arah kiri, lalu pipi kita diam atau mengarah sebaliknya, maka yang kita rasakan adalah sebuah tamparan yang sangat menyakitkan. Namun, jika pipi kita bergerak searah dengan tamparan tersebut, maka bisa jadi tak akan terjadi sentuhan fisik antara tangan dan pipi, ataupun jika sempat terjadi kontak fisik, maka dampak tamparan tersebut tidak sampai menyakitkan dan memerahkan pipi.

Beberapa cara jitu untuk menghadapi sebuah hinaan, terangkum dalam berbagai percakapan sebagai berikut :

A : Kamu bodoh sekali, ya!
B : (tersenyum) Terima kasih... Bolehkan Anda mengajari saya supaya sepintar Anda? Bila perlu saya mengadakan les privat sama kamu..
A : Dasar botak kayak Pak Ogah!
B : (tertawa) Oh, terima kasih. Kalau memang botak itu jelek dan menakutkan, semoga Anda tidak seperti saya dan selalu berambut hingga ajal menjelang...

A : Kamu kampungan!
B : (terkekeh) Kok tahu saya berasal dari kampung? Berarti kamu gak punya kampung halaman dong. Kasiannya...

A : Betapa miskinnya dirimu..!!!
B : (menjulurkan lidah) Iya nih, tolong kasih tips bagaimana supaya menjadi manusia kaya seperti kamu...

A : Kawanmu semua kayak kecebong atau kampret!
B : (berteriak : Yess) Termasuk kamu dong...

A : Kamu buta yah... Kok begitu ngotot membela dia?
B : (main mata) Tuh liat, mata saya bisa berkedip. Saya tidak buta khan?

Terkadang sebuah hinaan hanyalah sebuah kata-kata yang "mentah", yang lebih pantas dianggap sebagai angin lalu. Terapkan saja prinsip : masuk telinga kiri, langsung keluarkan melalui telinga kanan.

Mari tanggapi semua hinaan dengan akal cerdas. Jika orang lain memberikan keburukan, maka berikanlah mereka kebaikan.

Simpel bukan...?

Anda pernah dihina orang lain...?
Kapan terakhir Anda dihina orang...?
Siapa gerangan yang menghina...?
Bagaimana sikap Anda...?

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini