Akhirnya Tabir Terkuak Juga

Akhirnya Tabir Terkuak Juga ( Sambungan Razia Tas Sekolah ( Bagian 1 ) ) - Seorang anak yang tiba-tiba berubah perangainya menjadi seorang pembangkang, tentu akan menimbulkan tanda tanya bagi setiap orang.

Demikian juga Sinchan yang dulunya adalah seorang penurut, seketika berubah menjadi anak yang menentang perintah gurunya.

Walau dipenuhi oleh air mata, namun Sinchan tidak bergeming, tetap memeluk erat tas sekolahnya yang besar, terlihat paling besar diantara tas sekolah milik teman-temannya.

Melihat gelagat dan kondisi yang kurang bagus, akhirnya Wali Kelas membawa Sinchan ke kantor Kepala Sekolah. Mereka masih menghargai Sinchan yang beberapa kali menjadi siswa berprestasi di sekolah ini.

Guru muda yang ditepis tangannya oleh Sinchan, berusaha menggenggam kerah baju Sinchan karena kesal dengan ulah Sinchan sebelumnya. Namun sekali lagi Sinchan menepis tangan kekar itu. Wali Kelas memberikan aba-aba kepada guru muda itu agar tidak menyentuh Sinchan.

Mereka pun membawa Sinchan beserta tas yang didekap di depan dada oleh Sinchan meninggalkan kelas, dengan tatapan puluhan mata penuh kecemasan.

Dengan masih menyisakan tangis sesegukan, Sinchan masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah duduk menghadap ke arah mereka. Sinchan memandang ke arah Kepala Sekolah dengan mimik wajah ketakutan. Lantas kepalanya menunduk ke bawah. Kakinya gemetaran dan sedikit gontai.

Karena Kepala Sekolah mengenal Sinchan adalah siswi yang berprestasi juga berkelakuan baik selama menempuh pendidikan di sekolah ini, maka Kepala Sekolah berupaya menenangkan hati Sinchan. Senyumnya mengembang memberi kesan bahwa beliau tidak marah.

Lantas Kepala Sekolah memerintahkan para pegawai kantor dan guru yang ada agar meninggalkan ruangan. Saat ini di dalam ruangan hanya tersisa tiga orang saja yaitu Kepala Sekolah, Wali Kelas dan Sinchan.

Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Kepala Sekolah membelai rambut Sinchan mengisyaratkan bahwa dirinya bukan seorang yang perlu ditakuti.

Kepala Sekolah yang penuh perhatian ini berupaya menenangkan siswi malang tersebut.

Lantas Kepala Sekolah bertanya kepada Sinchan dengan suara yang lembut : “Sinchan, murid kesayanganku... Apa yang engkau sembunyikan di dalam tasmu ini, putriku sayang..?”

Hati Sinchan melunak dan menatap wajah kedua guru yang berada di sampingnya satu persatu.

Kemudian dengan perlahan, sambil terus memperhatikan keadaan sekitarnya. Memastikan tidak ada mata lain lagi yang melihat tingkahnya, Sinchan mulai membuka tasnya.

Kepala Sekolah dan Wali Kelas melihat dengan penuh keingintahuan. Setelah tas Sinchan terbuka, Sinchan segera mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas Sinchan.

Betapa terkejutnya mereka melihat tumpukan benda-benda yang saat ini berserakan di atas meja.

Kekhawatiran mereka bahwa isi tas adalah barang-barang terlarang, pupuslah sudah. Mereka menghela napas panjang penuh kelegaan.

Di dalam tas Sinchan yang besar, ternyata tidak terdapat barang-barang yang dilarang atau haram, tidak pula diketemukan barang-barang hasil curian atau narkoba, apalagi benda-benda tajam seperti pisau, golok dan sebagainya.

Yang terlihat hanyalah beberapa bungkus plastik yang berisikan kumpulan butiran beras, potongan kaki dan kepala ayam, lauk pauk makanan dan sebuah foto besar seorang pria buta dengan kedua tangan buntung.

Kepala sekolah pun menanyai hal seputar barang-barang tersebut.

Sinchan terdiam sejenak, menghapus sisa-sisa air mata yang masih melekat di kedua pipinya.

Setelah merasa tenang, siswi teladan itu berkata : “Maafkan saya Pak... Saya tidak berniat membuat bapak guru menjadi khawatir...."

Kepala Sekolah : "Tidak apa-apa, puteriku. Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa di dalam tas kamu berisi bahan makanan dan foto seorang pria cacat?"

Sinchan : "Begini pak... Saat meninggalkan rumah menuju sekolah, saya beberapa kali singgah ke pasar untuk mengambil sisa-sisa beras yang terjatuh di lantai, kemudian saya pergi ke rumah orang yang sudah biasa memberikan sisa lauk yang tidak mereka habiskan semalam, terus saya pergi ke rumah tukang ayam untuk mengambil sisa kepala dan kaki ayam...."

Kepala Sekolah : "Mengapa harus begitu? Sampai segitunya?"

Sinchan : "Sisa beras serta potongan kaki dan kepala ayam merupakan lauk yang akan saya masak untuk makanan kami sehari-hari. Lauk yang diperoleh dari orang yang menaruh belas kasihan kepada kami, akan saya panaskan. Tidak jarang yang sudah sedikit basi pun kami lahap. Kami tidak memiliki pilihan lain..."

Air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Sinchan : "Ibuku tinggal seorang diri di rumah. Belakangan ini, ibu sering sakit-sakitan dan tidak bekerja. Ibuku adalah seorang buruh cuci harian. Ayahku sudah lama meninggal karena sakit. Saya kasihan saja dengan kondisi ibu...."

Sinchan menyeka air matanya dengan ujung bajunya, kemudian melanjutkan : "Kami adalah keluarga miskin dan tidak memiliki persediaan makanan. Jika saya tidak membawakan sisa makanan ini dan memasaknya, maka kami berdua terpaksa harus bertahan menahan lapar dengan minum air putih sebanyak-banyaknya..."

Kedua guru Sinchan mendengar cerita pilu itu dengan perasaan haru. Mereka tidak menyangka murid yang baik seperti Sinchan harus melewati cobaan yang begitu sulit dalam hidupnya. Perasaan sayang dan cinta Sinchan kepada ibunya, menggugah perasaan mereka. Tak terasa bulir air mata keluar dari mata mereka.

Kepala Sekolah : "Foto itu ayah kamu?"

Sinchan : "Benar sekali... Almarhum ayah sangat menyayangi diriku walaupun beliau buta dan tidak memiliki kedua tangan. Saya merasa sangat kehilangan ketika beliau wafat. Pelukan kedua kaki beliau ke tubuhku masih saya rasakan sampai saat ini. Makanya saya selalu membawa foto ayahku kemanapun saya pergi. Saya tidak ingin melepaskan diri dari pelukan ayah. Foto ini menjadi saksi betapa saya sangat mengasihi dan merindukan ayah..."

Kembali Sinchan larut dalam tangisnya. Kedua orang guru juga tidak dapat menahan tangis lagi. Mereka bertiga larut dalam kesedihan.

Kepala Sekolah : "Jadi, inilah alasan kamu ngotot tidak mau membuka tas sekolahmu?"

Sinchan : "Benar sekali pak... Walaupun saya orang miskin, tapi saya juga tidak ingin dihina dan diolok-olok teman-teman yang lain karena telah menjadi pemulung bahan makanan. Saya juga tidak akan rela jika ayahku dicela dan diejek oleh teman-temanku. Apabila mereka tahu semuanya, saya tidak mungkin dapat bersekolah lagi di sini..."

Kepala Sekolah : "Tidak...tidak anakku... Kami selaku orang tuamu di sekolah tidak mungkin membuat dirimu menjadi malu. Kami bangga dengan keuletan dan ketekutanmu. Kami harus menjadikan perbuatanmu menjadi teladan bagi anak-anak kami dan murid-murid di sekolah ini. Kami sangat berbahagia melihatmu begitu berbakti kepada ibumu...."

Sambil membungkukkan badan, Sinchan berkata : "Maafkan Sinchan atas kekurangajaran menentang guru tadi. Saya tidak seharusnya berlaku tidak sopan. Terima kasih atas pengertiannya..."

Kepala Sekolah : "Kamu anak baik, anak soleh dan anak yang pintar. Kami akan selalu menjaga dan melindungi dirimu yang begitu suci. Teruslah belajar anakku..."

(TAMAT) by Firman Bossini