Wanita Penjual Rajutan Kain Bermotif

Wanita Penjual Rajutan Kain Bermotif ( Sambungan dari Part 6 : Gundala Minggat ) - Delapan tahun telah berlalu sejak kejadian minggatnya Gundala dari rumah ayahnya, Sammy.

Saat ini, Gundala telah berusia 21 tahun, seorang anak kampung yang dulunya polos dan lugu, saat ini telah bertransformasi menjadi seorang pemuda ganteng, berbadan atletis dan berpenampilan borju (orang kaya) dengan mengendarai mobil mewah keluaran terbaru.

Gundala kuliah di sebuah kampus internasional ternama di kota Medan, saat ini memasuki tahun ketiga. Setahun lagi dia akan memperoleh gelar untuk disandingkan di depan namanya.

Karena ketampanan dan kekayaannya, banyak gadis muda nan cantik berlomba-lomba untuk menggapai cintanya. Memamerkan kepintaran, kebaikan hati yang dibuat-buat dan kecantikan yang sebagian diperoleh dari operasi plastik, hanya untuk menaklukkan hati pemuda parlente itu.

Namun, Gundala telah menetapkan kriteria untuk pendamping hidupnya. Cantiknya harus secantik mamanya. Baiknya harus sebaik mamanya. Tulusnya harus setulus mamanya.

Akhirnya Gundala menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis manis, anak seorang tukang sate. Semua yang ada pada mamanya, Isabella, ada pada diri Amy, gadis pilihannya.

Mereka menikmati masa-masa pacaran yang sehat dan menyenangkan.

Namun dibalik semua rasa bahagia, Gundala masih sering menagih janji dari ayahnya untuk memberinya waktu bertemu mamanya.

Akhir dari penantiannya bakal terwujud. Sammy memberikan sebuah nomor telepon kepada Gundala. Dengan hati berdebar-debar, Gundala menghubungi nomor tersebut, namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.

Betapa sedih perasaan Gundala menghadapi kenyataan pahit ini.

"Apakah Tuhan begitu kejam, tidak akan mempertemukan saya dengan mamaku dalam sisa hidup mama yang mungin tidak lama lagi? Apakah saya harus menyerah?", gumam Gundala.

Berbagai upaya telah dilakukan, mencari ke berbagai tempat, bahkan sampai ke tempat kerja Isabella yang terakhir.

Pemilik perusahaan juga heran dengan keberadaan Isabella yang tiba-tiba raib dan tidak lagi bekerja tanpa pemberitahuan apa-apa.

Pada suatu pagi, di Minggu yang cerah, Gundala bersama sang pacar Amy, sedang melaksanakan olahraga pagi di sebuah lapangan olahraga.

Ketika Gundala pergi sejenak untuk buang air kecil, Amy berjalan-jalan sendirian dan bertemu dengan seorang wanita berpenampilan awut-awutan, sedang bersenandung sambil menawarkan rajutan kain bermotif. Hasil rajutannya dijual kepada pengunjung yang berniat membelinya, dengan harga yang tidak ditentukannya. Seikhlas dari yang memberikan uang.

Wanita tua itu kelihatan seperti setengah gila, dengan mulut komat kamit dan penglihatan yang kabur. Sebuah tongkat penyangga membantunya untuk berjalan, sekaligus sebagai alat penuntun untuk menunjukkan arah melangkah agar tidak masuk lobang atau tersesat.

Karena merasa kasihan, Amy membeli sekaligus dua buah rajutan kain bermotif indah yang tersisa. Dia sangat kasihan kepada sosok wanita yang mulai menunjukkan gurat wajah keriput, dengan rambut hitam memanjang berantakan. Uban mulai kelihatan menyeruak di antara rimbunnya rambut hitam.

Wanita tua ini, membungkukkan kepala dan mengucapkan terima kasih karena Amy bersedia membeli hasil karyanya. Wanita tua itu merasa puas dengan penghasilannya hari ini dan bergegas untuk pulang.

Di dalam mobil, Amy menunjukkan rajutan kain bermotif indah yang dibelinya tadi kepada Gundala.

Gundala terkesiap melihat rajutan kain bermotif indah yang bertemakan seorang anak kecil sedang dipangku ibunya di sebuah taman bunga. Hatinya berdegup kencang. Angannya melayang ke masa kecilnya, masa-masa indah yang tidak pernah dilupakan.

"Mamaaaa... Mamaaaa...", tiba-tiba Gundala berteriak-teriak histeris. Hatinya meradang. Gundala yakin penjual rajutan kain ini adalah mamanya.

Gundala : "Dimana kamu membeli rajutan kain ini? Cepat antar saya ke sana. Itu mama saya. Cepat...!!!"

Mereka berdua segera turun dari mobil dan berlari ke arah bawah pohon rindang yang menjadi tempat berteduh wanita tadi. Namun sosok wanita yang dicarinya tidak ada lagi. Seperti orang kesurupan, Gundala terus mencari tanpa lelah dan bertanya kepada siapapun yang dijumpainya, namun semuanya berakhir sia-sia.

Hanya ada satu petunjuk dari pemilik warung yang melihat wanita tua setengah buta dan pincang tersebut menaiki bus ke arah utara.

Gundala bertanya kepada pemilik warung: "Apakah wanita tua itu sering berada di sini? Setiap hari mangkal di sini, bu..?"

Pemilik warung menggelengkan kepala : "Wanita tua itu hanya dua hari ada di kota ini, dan besok dia akan berkelana ke tempat lain untuk mencari anaknya. Itu katanya kepada saya ketika makan siang di sini. Walau sedikit gila, tapi wanita ini baik sekali, memberikan uang lebih, yang cukup banyak kepadaku. Katanya untuk biaya sekolah anakku. Sayang sekali dia tidak datang lagi... Ntah sampai kapan lagi saya dapat berjumpa dengan wanita yang begitu dermawan..."

Gundala : "Dia itu mamaku... Bertahun-tahun saya mencarinya namun hingga saat ini saya belum berhasil menemukan mamaku. Saya rindu dengan mamaku... Mamaaaa.... Kembalilah padaku...."

(Bersambung ke part 8) by Firman Bossini