Seorang Ayah Yang Berkorban

Seorang Ayah Yang Berkorban - Seorang anak perempuan berparas cantik, mata bulat, hidung mancung dan cekungan lesung pipit yang indah, namun terlahir memiliki cacat tubuh yaitu hanya memiliki sebuah daun telinga.

Saat memasuki bangku sekolah, Sinchan mulai merasakan situasi yang kurang menyenangkan. Beberapa temannya sering sekali mengusilinya dan mem-bully dirinya.

Hal ini menyebabkan terjadi perubahan perilaku Sichan, dari anak yang periang menjadi anak yang pendiam dan tertutup.

Sinchan lebih senang mengurung dirinya dalam kamar setelah pulang dari sekolah. Psikologinya mulai terganggu. Kedua orang tua Sinchan merasa sangat khawatir melihat perkembangan mental puteri tunggalnya yang kurang bagus.

Berulangkali mereka memberikan pengertian dan motivasi agar Sinchan tidak malu dengan kekurangan fisiknya. Sang Ayah selalu membawa Sinchan ke panti asuhan untuk menyadarkannya bahwa masih banyak anak yang hidup lebih menderita darinya.

Ibunya sering mengajak Sinchan ke rumah temannya yang memiliki putera dengan cacat sebelah kaki. Semua ini dilakukan untuk membangunkan spirit dan semangat hidup Sinchan, mau menerima kenyataan sebagai gadis bertelinga satu.

Awalnya, upaya tanpa menyerah dari kedua orang tuanya membuahkan hasil. Sinchan mulai ceria dan mau bermain dengan teman-temannya yang baik, yang tidak mengejek dirinya.

Namun, di masa SMP, saat Sinchan jatuh hati kepada seorang siswa putera ganteng dan pintar dari kelas sebelah, Sinchan kembali harus menelan pil pahit. Cintanya ditolak mentah-mentah.

Bukan itu saja, remaja putera dari keluarga mampu tersebut, malah menghinanya : "Tolong bercermin dulu... Apakah kamu pantas menjadi pacarku? Kamu ini cacat, tauuu...!!!"

Akibatnya, Sinchan kembali ke sifat buruknya sewaktu masih kecil. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan tidak pernah lagi mau keluar rumah, bermain dengan teman-temannya, walau sering diajak, bahkan dipaksa.

Kedua orang tua Sinchan kembali bersedih. Terutama sang ayah, yang begitu mengasihi puteri semata wayangnya. Dari hari ke hari, kondisi mental Sinchan semakin mengkhawatirkan. Seringkali tanpa sebab, mengamuk dan membanting piring, jika sedang marah.

Hingga suatu ketika, kedua orang tuanya mengabarkan sebuah kabar sukacita, bahwa ada seorang donatur yang bersedia mencangkokkan daun telinganya buat Sinchan.

Mata Sinchan berseri-seri.. Harapan untuk hidup normal, seperti anak gadis yang lain, membuatnya tidak sabar menantikan waktu operasi pencangkokan.

Singkat cerita...

Operasi berjalan sukses dan lancar. Sinchan telah berubah menjadi gadis normal yang cantik dan rupawan. Beberapa kali Sinchan menanyakan kepada kedua orang tuanya, tentang sosok manusia yang begitu dermawan sebagai pendonor daun telinga, namun kedua orang tuanya hanya berkata, dermawan tersebut berasal dari Surga dan tidak ingin menunjukkan jati dirinya.

Sang ayah berkata : “Sayangku, kelak kamu akan tahu dengan sendirinya, siapa gerangan orang dari Surga itu...".

Akhirnya Sinchan tidak bertanya-tanya lagi....

Keceriaan hidupnya telah kembali. Beberapa kali Sinchan menjalani hidup berpacaran, hingga akhirnya setelah menamatkan bangku kuliah, Sinchan dipersunting oleh seorang pemuda kaya.

Suami Sinchan mengajaknya tinggal di kediamannya yang terletak di kota lain yang berjarak 200 km jauhnya dari rumah kedua orang tuanya. Sinchan meminta izin dan dengan perasaan berat hati, kedua orang tua Sinchan mengabulkan permohonan Sinchan untuk pindah ke kota lain.

Sebenarnya sang ayah merasa keberatan, namun apa daya, semua ini demi kebaikan Sinchan. Rambut gondrong yang mulai memutih sebahu menjadi saksi kepiluan hatinya ketika melepas kepergian sang buah hati menempuh hidup barunya.

Rasa rindu dan sedih berkepanjangan, menyebabkan kondisi kesehatan sang ayah menurun drastis...

Setengah tahun setelah berpisah dengan Sinchan, sang ayah mengalami sakit keras dan harus diopname di rumah sakit.

Sinchan yang mendapat kabar buruk tersebut, segera berangkat pulang ke kota asalnya dilahirkan, bersama suaminya.

Sayang sekali, ketika sampai di rumah sakit, sang ayah telah berpulang, meninggalkan bilur-bilur kesedihan bagi Sinchan.

Saat memandikan sang ayah, Sinchan baru menyadari bahwa sebelah daun telinga ayahnya sudah tidak ada. Seketika juga hatinya berdetak kencang. Tangan kirinya secara spontan memegang daun telinga hasil cangkokan.

Saat inilah, Sinchan baru menyadari mengapa sang ayah selalu memelihara rambut gondrongnya yang mulai memutih, hingga menutupi salah satu telinganya yang telah diberikan kepadanya.

Sinchan mulai meneteskan air mata... Tangis cecegukan yang ditahannya meledak menjadi sebuah tangisan yang memilukan.

Betapa ia tidak pernah mengetahui bahwa orang yang datang dari Surga itu ternyata adalah ayahnya sendiri dan kini tanpa sepengetahuannya pula, sang ayah telah kembali lagi ke Surga, tanpa keberadaan Sinchan di sisinya.

Sobatku yang budiman...

Memang surga ada ditelapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa kehadiran dan berkat dari Ayah...

Banyak yang menyebutkan : Kasih ibu sepanjang jalan, kasih ayah sepanjang penggaris. Miris bukan?

Sadarkah kita, sebenarnya di balik kecuekan seorang ayah, terdapat nilai-nilai kepahlawanan hidup yang kadang terlupakan oleh kita.

Ayah memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darah Ayah...

Seorang putri membutuhkan ayahnya untuk melengkapi perjalanan hidup. Dan kita seharusnya dapat menjadi sosok pria terpenting itu sewaktu putri kita tumbuh dewasa.

Memang engkau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu..

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini