Sejarah Dari Mengaitkan Jari Kelingking

Sejarah Dari Mengaitkan Jari Kelingking - Seringkali kita melihat anak-anak kecil saling mengaitkan jari kelingking saat membuat janji. Peristiwa ini sebenarnya bukan melulu milik anak kecil, tidak jarang orang dewasa, sepasang suami isteri, sepasang kekasih, atau bahkan kita sendiri sering melakukannya.

Banyak diantara kita bertanya, termasuk saya, sebelum saya membaca cerita asal usul "Berjanji Dengan Mengaitkan Kelingking", mengapa harus menggunakan jari kelingking? Bukan jari jempol, telunjuk, tengah ataupun jari manis?

Berikut ini adalah kisah cerita jaman dulu, mengenai berjanji dengan mengaitkan jari kelingking....

Pada zaman dahulu, ada seorang Tuan Puteri yang sangat cantik jelita. Tidak sedikit pangeran dan bangsawan ingin melamarnya untuk menikahinya. Namun Sang Puteri membuat berbagai ujian untuk para pangeran, hingga akhirnya tinggal tersisa 5 orang pangeran.

Mereka berkumpul dalam ruangan untuk menjalani ujian terakhir. Sang Putri menyembunyikan satu jari di belakang tubuhnya. Tugas dari para pangeran adalah menebak jari apa yang disembunyikan oleh Sang Puteri. Bagi yang menjawab tepat / benar akan menjadi suami Sang Puteri dan berhak menjadi pewaris tahta kerajaan.

Satu persatu pangeran menebak pertanyaan Sang Puteri mengenai jarinya, namun hingga pangeran keempat tidak ada yang berhasil menjawab dengan benar. Yang bersisa hanyalah pangeran kelima.

Pangeran ganteng tersebut segera menunjukkan jari kelingking. Tepat sekali..!!!

Sang Putri pun tersenyum bahagia sambil memperlihatkan jari kelingkingnya. Pangeran kelima berhasil lulus ujian terakhir dan berhak menikahi Sang Puteri.

Dengan saling mengaitkan jari kelingking mereka berjanji akan hidup bersama selamanya hingga ajal menjelang.

Saat pernikahan berjalan selama tujuh hari, Sang Pangeran harus meninggalkan Sang Puteri, untuk maju ke medan peperangan. Kembali Sang Pangeran mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking isterinya dan berjanji akan kembali setelah perang usai 5 tahun kemudian.

Ternyata di dalam kerajaan terdapat seorang pengkhianat, merasa cemburu kepada Sang Pangeran. Dengan berbagai upaya, akhirnya Sang Pangeran tidak berhasil kembali ke istana. Pengkhianat tadi mengabarkan kepada Sang Puteri, bahwa suaminya telah wafat di medan peperangan.

Selama 5 tahun penantian, namun Sang Pangeran tidak pernah kembali ke pelukan Sang Puteri.

Ayahanda Sang Puteri, Raja kerajaan, memaksa Puteri tunggalnya untuk memilih seorang pendamping hidup, pengganti Sang Pangeran.

Sang Puteri tidak sanggup menolak perintah Raja. Berkat kecantikannya yang dipelihara dengan sempurna, banyak pengeran lain masih tertarik kepada Sang Puteri.

Sang Puteri membuat sayembara kepada semua orang di dunia, tanpa memandang kasta dan asal usul peserta. Untuk memenangkan sayembara ini, peserta harus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika Sang Puteri menunjukkan jari kelingkingnya.

Semua peserta yang hadir dari seantero negeri, tidak ada yang sanggup menebak maksud Sang Puteri. Di akhir batas sayembara, tiba-tiba muncul seorang pengemis untuk mencoba mengikuti sayembara. Walaupun mendapat hadangan dari prajurit kerajaan karena berpakaian kumal, namun pengemis tadi berteriak sekuat tenaga, berharap Sang Puteri berniat untuk memberikan izin kepadanya.

Niatnya terkabul... Sang Puteri mempersilakan pengemis itu untuk menjawab.

Sungguh di luar dugaan, pengemis tadi tidak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sang Puteri.

Sang Puteri menyadari bahwa pengemis itu adalah suaminya yang hilang 5 tahun lalu. Pengemis alias Sang Pangeran menceritakan semua kejadian yang dialaminya, mengakibatkan pengkhianat yang mencelakai Sang Pangeran dihukum gantung.

Dan Sang Putri jelita dan Sang Pangeran tampan pun kembali hidup bersama dalam suasana penuh kebahagiaan selama 40 hari.

Pada suatu malam, malam ke-40 Sang Pangeran mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya dan menghilang secara tiba-tiba. Sang Puteri menangis sedih dan memerintahkan semua prajurit untuk mencari suaminya hidup atau mati.

Keesokan harinya, diketemukanlah jasad Sang Pangeran yang tinggal tulang belulang di hutan dekat istana yang tertutup dedaunan. Rupanya memang benar Sang Pangeran telah tewas terbunuh lima tahun lalu ketika berperang, akibat sebuah pengkhianatan.

Roh dari pangeran datang kembali untuk memenuhi janjinya. Dia hanya diberi waktu 40 hari untuk memenuhi janjinya kepada Sang Puteri. Kesedihan sangat dirasakan puteri rupawan bagaikan seorang puteri kahyangan.

Akhirnya Sang Puteri berbaring di sebelah tubuh pangeran. Dia berniat memenuhi janjinya bahwa mereka akan selalu bersama. Sebotol racun telah ditenggaknya sebelum berbaring di sisi Sang Pangeran.

Sang Puteri mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking pangeran yang tinggal buku-buku tulang, demi memenuhi janjinya untuk sehidup dan semati dengan Sang Pangeran, suami tercintanya.

_____________________________

Ceritanya sungguh mengharukan...

Sobatku boleh mempercayai atau sebaliknya menolak kisah ini. Saya sendiri lebih percaya kisah ini sebagai hikayat atau cerita dongeng. Itu tidak menjadi masalah...

Tapi satu hal yang pasti adalah : "SEBUAH JANJI YANG TERUCAP HARUS DITEPATI WALAU MENGHADAPI BERBAGAI BADAI RINTANGAN".

Setuju gak...???

(Salam Kejujuran - Salam UFO) by Firman Bossini