Sampai titik darah terakhir!

Sampai titik darah terakhir! - Kita hidup di sebuah negara di mana tak ada tempat buat orang - orang pintar mengabdikan dirinya. Profesor termuda amerika adalah orang indonesia tapi dia terpaksa mengabdikan ilmu dan pengetahuannya untuk Amerika bukan karena dia tak nasionalis tapi karena negara ini memang tidak peduli dengan orang - orang pintar seperti dia. Dan masih banyak lagi anak negeri ini yang mengalami nasib serupa.

Negara ini adalah tempat bagi orang yang pintar menipu, pintar angkat telor, pintar menjilat dan pintar komentar. Tempat dimana orang - orang culas terus menindas! tak usah heran kalau pejabatnya korup. Tak usah heran jika ada "Mama minta pulsa", tak usah heran kalau banyak orang jago jadi penipu di negeri ini. Karena memang negeri ini adalah negeri untuk orang - orang seperti itu!

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Untuk apa aku meminta anakku untuk belajar keras agar jadi anak pintar? Padahal kelak ketika dia jadi anak pintar, tak ada tempat buat dia di negari ini?

Negara seperti ini lah yang akan kita wariskan bagi anak cucu kita. Dan aku memilih untuk melawannya!

Sampai titik darah terakhir!

Kita juga hidup di sebuah negara di mana tidak ada tempat bagi orang baik yang ingin membuat kebaikan buat bangsanya. Negara dimana berkarya bisa berujung penjara. Negara dimana saat kita ingin melakukan hal baik dengan niat baik selalu di persulit dan di perumit.

Lalu untuk apa kita mengajarkan anak - anak kita supaya jadi anak yang baik? anak yang berbakti dan berguna bagi bangsa dan negaranya? Padahal nanti ketika dia besar dan dia ingin mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negaranya dia malah di persulit dan di perumit?

Demi anak- anak dan cucu-cucu kami nanti!
Kami pilih untuk melawan!
Kami tak mau mewariskan keadaan ini!
Kami lawan bukan dengan komentar tapi dengan mengembalikan kebaikan sebagai panutan!

Dan inilah simbol perlawanan kami! by Ian Medan