Rawatlah Orang Tua Anda Semampu Anda

Rawatlah Orang Tua Anda Semampu Anda - Seorang gadis remaja yang bernama Sinchan hidup dalam lingkungan keluarga yang cukup berada. Dia selalu mendapat kasih sayang dan perhatian penuh dari kedua orang tua dan neneknya. Almarhum kakeknya juga sangat menyayangi Sinchan, namun beliau harus pergi selama-lamanya karena menderita penyakit tua.

Suatu saat, keadaan ekonomi keluarga sedang kurang baik. Kedua orang tua Sinchan harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan penghasilan lebih. Hampir setiap hari pulang larut alias lembur. Untunglah Sinchan bukan anak yang manja.

Bahkan dalam kesehariannya, Sinchan selalu menjaga dan merawat neneknya yang sudah lanjut usia. Semua rutinitas ini dilakukan Sinchan dengan senang hati.

Kedua orang tua Sinchan merasa khawatir dengan pelajaran anaknya, karena begitu banyak waktu yang disediakan Sinchan untuk merawat sang nenek.

Hingga suatu saat mereka berniat untuk menitipkan sang nenek ke panti jompo, tempat penitipan orang yang sudah berusia lanjut.

Tanpa memberitahukan Sinchan, karena mereka khawatir nantinya ada penolakan dari puteri semata wayangnya, mereka bertekad "mengasingkan" sang nenek. Mereka menyiapkan pakaian dan perlengkapan sang nenek untuk dimasukkan ke dalam sebuah koper besar.

Ketika ditanya oleh Sinchan, mau kemana, mereka membohongi Sinchan dengan mengatakan neneknya akan menginap selama beberapa hari di rumah teman mereka. Di rumah tersebut juga terdapat orang yang sudah lanjut usia dan dapat menjadi teman mengobrol buat sang nenek.

Sesampainya di panti jompo, orang tua Sinchan menyuruh Sinchan untuk tetap tinggal di dalam mobil. Sinchan mencium dan memeluk sang nenek dengan penuh rasa haru, enggan untuk berpisah dengannya.

Ayah Sinchan menenteng koper, sedangkan ibu Sinchan memapah sang nenek masuk ke dalam panti.

Setelah mengurus surat menyurat administrasi dan membayar sejumlah uang, sang nenek dituntun ke sebuah kamar oleh pegawai panti dan kedua orang tua Sinchan. Seluruh isi koper sang nenek dikeluarkan untuk disimpan dalam lemari yang tersedia.

Sang nenek terlihat sangat tegar, padahal hatinya sangat sedih bagaikan teriris sembilu. Karena kondisi yang renta dan merasa dapat merepotkan anak dan cucunya, sang nenek akhirnya pasrah harus berpisah dengan orang-orang terkasih, entah sampai kapan, mungkin hingga ajal menjelang.

Setelah berpamitan, mereka berdua segera meninggalkan sang nenek dalam kesendirian yang memilukan.

Saat kedua orang tua berada di parkiran dan hendak menuju ke pintu mobil, secara tiba-tiba Sinchan melompat keluar dari mobil sambil menunjuk plang nama yang tertulis "PANTI JOMPO WELAS ASIH".

Sinchan berteriak : "Mama dan Papa telah membohongi Sinchan... Saya tidak mau berpisah dengan nenek. Jika sampai harus berhenti sekolah, Sinchan rela...."

Kedua orang tua Sinchan terkejut, tertegun tidak dapat berkata-kata.

Sinchan meraih koper kosong dari tangan ayahnya, lalu berlari masuk ke dalam panti secepat mungkin. Kedua orang tuanya berlari menyusul langkah puteri tunggal mereka.

Mereka bertiga sampai di kamar sang nenek. Di saat itu pula, sang nenek terlihat sedang merapikan baju dan perlengkapan di atas lantai untuk disusun lebih rapi. Kelihatan matanya memerah, sehabis menangis.

Sinchan segera memeluk sang nenek dengan erat. Dia memasukkan semua barang milik neneknya kembali ke dalam koper kosong tadi.

Sambil memapah sang nenek untuk berdiri, Sinchan menatap tajam ke arah kedua orang tuanya : "Mungkin suatu hari nanti, koper ini dapat dipakai lagi untuk mengantar ayah dan ibu ke panti ini. Apakah ayah dan ibu bersedia...?".

Mendengar ucapan tajam Sinchan, mereka tertegun dan mulai menitikkan air mata. Mereka merasa sangat menyesal atas perbuatannya kepada sang nenek.

Mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Di saat kehidupan sedang sulit, seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu masalah secara berlebihan. Apalagi yang berkaitan dengan rasa bakti terhadap orang tua.

Akhirnya, berkat ketulusan Sinchan, kehidupan utuh satu keluarga terwujud kembali dalam suasana nyaman, harmonis dan penuh kebahagiaan, walau berada dalam kondisi kekurangan.

Sobatku yang budiman...

Hukum alam mengenai sebab akibat itu bersifat kekal dan abadi. Apa yang ditabur, maka itulah yang akan dituai. Benih mangga pasti akan berbuah mangga, bukan manggis.

Oleh karena itu, rawatlah dan bahagiakanlah orang tua kita, semaksimal mungkin, sesuai kemampuan sebagai seorang anak yang berbakti...

Semoga sepenggal kisah ini dapat menjadi pembelajaran yang berharga untuk kita semua. Silahkan berbagi kepada yang lain sebagai bahan inspirasi menuju hidup yang lebih mulia.

(Salam Harmonis - Salam UFO) by Firman Bossini