Perpisahan Ketiga Yang Amat Menyakitkan

Perpisahan Ketiga Yang Amat Menyakitkan ( Sambungan dari Kerinduan Dari Seorang Mantan Kekasih ) - Isabella dan Gundala pulang ke rumahnya dulu, yang sekarang ditempati sang nenek.

Sesampainya di rumah yang memberinya banyak kenangan pahit maupun manis, Isabella tampak merenung.

Ingatannya kembali ke masa lalu...

Digenggamnya kalung emas pemberian Gundala yang bertuliskan GAIS, yang dimaknai Isabella sebagai "Gundala Anak Isabella dan Sammy".

Lamunannya buyar ketika suara sang nenek menyambut kepulangannya : "Cucuku Isabella sudah pulang... Gundala sudah besar, ganteng seperti bapaknya..."

Isabella terkejut dengan kalimat terakhir dari sang nenek.

Isabella : "Kok nenek bisa tau ganteng kayak Sammy? Dia ada kemari nek?"

Nenek : "Iya, sebulan yang lalu, Sammy datang ke rumah ini. Dia ngotot untuk berjumpa denganmu. Tapi nenek tidak memberi izin..."

Raut muka Isabella sedikit berubah... Matanya berkaca-kaca menahan haru.

"Ternyata dia masih memikirkan diriku. Saya kira hanya saya saja yang memikirkan dirinya", Isabella bergumam lirih.

Nenek Isabella amat menyayangi Gundala yang saat ini telah berusia 10 tahun. Parasnya yang rupawan dengan lesung pipi yang indah dan tutur bahasa yang sopan, begitu menarik perhatian dan kasih sayang sang nenek. Sang nenek terlihat begitu bahagia ketika bercengkerama dengan Gundala.

Keesokan harinya...

Ketika sedang menyapu halaman rumah, Isabella sangat terkejut melihat kehadiran sepasang anak manusia, tepat berdiri di hadapannya saat Isabella menegakkan badan setelah memungut sampah di atas tanah.

Kakinya lunglai, hampir saja dia jatuh, sebelum sebuah tangan kekar menggapai tubuhnya yang kurus akibat terlalu sering diselimuti kepedihan hidup.

"Sammy...", teriakan tertahan muncul dari mulut Isabella.

Sentuhan tangan yang begitu dikenalnya dulu, saat ini telah menggetarkan seluruh tulang dan otot tubuhnya.

Sammy memapah Isabella ke dalam rumah untuk duduk di atas kursi sofa. Di belakangnya turut melangkah seorang wanita yang sekarang menjadi pendamping hidupnya.

Singkat cerita...

Sammy berniat membawa Gundala, merawat dan membesarkannya hingga dewasa. Isabella dan neneknya tidak memperbolehkan.

Nenek Isabella kembali menagih janji Sammy dulu, yang akan meninggalkan kehidupannya di Kuala Lumpur...

Sammy : "Beri saya waktu... Saat ini saya sengaja membawa isteriku Inka Christie untuk meyakinkan kalian bahwa saya memang berniat tulus akan membina hidup bersama Isabella dan Gundala kelak..."

Wanita muda yang anggun dan cantik itu mengangguk mengiyakan perkataan Sammy.

Sammy melanjutkan : "Ayah bundaku sudah sangat tua, sering sakit-sakitan. Saya tidak tahu sampai kapan mereka akan hidup. Jika saya meninggalkan mereka berdua, apakah saya pantas disebut anak yang berbakti...? Nenek mengerti maksud saya khan..?"

Nenek Isabella diam seribu bahasa. Sebuah alasan yang masuk akal... Tidak tega juga membiarkan Sammy berlaku begitu kejam terhadap orang tuanya.

Sammy : "Bolehkah saya membawa Gundala? Saya pasti akan membesarkan dan mendidiknya dengan sepenuh hati... Sekaligus untuk menghibur ayah bundaku yang merindukan kehadiran seorang cucu. Isteriku Inka tidak dapat memberikan anak untuk keluarga kecil kami...."

Semua orang terdiam, hanya terdengar suara kokok ayam dari kejauhan, menandakan hari menjelang siang.

Sammy : "Saya sudah memberitahukan kedua orang tuaku tentang kehadiran cucu mereka, yang sebelumnya ingin mereka gugurkan dari rahim Isabella. Mereka begitu berharap dapat berjumpa dengan anakku. Kami juga sudah membeli sebuah rumah di Medan. Kami berempat sering sekali tinggal di sini. Suasananya begitu damai dan menyenangkan.... Mereka berdua ingin menghabiskan masa tua mereka di sini, berharap dapat bercengkerama dengan cucu tunggal, pewaris tahta perusahaan kami..."

Isabella menggelengkan kepala...

Isabella : "Maaf, saya masih sanggup untuk membesarkan anakku Gundala... Pergilah dari kehidupanku..."

Berulangkali Sammy membujuk dan memohon, namun Isabella menolak dengan tegas.

Sammy tidak dapat berbuat apa-apa. Keteguhan hati Isabella akibat derita hidup selama ini telah mengokohkan hatinya sekeras karang.

Sammy kembali pulang dengan tangan hampa... Dia sempat meninggalkan sebuah alamat di Medan, jika sewaktu-waktu Isabella berubah haluan. Hatinya sedikit tenang setelah memastikan Isabella dan Gundala dalam keadaan normal dan sehat...

Waktu berlalu begitu cepat...

Dua tahun sejak pertemuannya dengan Sammy membuat Isabella terus menerus memikirkan Sammy. Rasa cemburu menyeruak ketika mengingat bagaimana Sammy menggandeng erat isterinya Inka Christie.

Di awal masuk sekolah SMP, terjadi suatu musibah...

Gundala mengalami kecelakaan, diserempet oleh bus angkutan umum yang ugal-ugalan. Supir bus melarikan diri meninggalkan Gundala yang terkapar berlumuran darah di atas aspal hitam.

Setelah diberitahu pihak rumah sakit, karena Gundala selalu menyimpan nomor telepon mamanya di dompet kecilnya, Isabella merasa cemas dan sangat khawatir atas keselamatan putera semata wayangnya.

Awan mendung kembali menyelimuti hari-harinya...

Dokter yang menangani Gundala, memberitahu bahwa luka Gundala tidak berbahaya bagi kesehatannya. Dalam waktu dua minggu semua akan pulih seperti sedia kala. Tubuh Gundala yang kuat akan sangat membantunya dalam menyembuhkan luka luarnya.

Namun, setelah menjalani pemeriksaan intensif, ternyata Gundala menderita kelainan jantung. Ini cukup berbahaya. Sewaktu-waktu jika terjadi serangan jantung, nyawa Gundala tidak dapat terselamatkan.

Bukan awan mendung lagi yang terlihat oleh Isabella saat ini. Hujan badai plus petir menggelegar, begitu dirasakan Isabella ketika mendengar penuturan sang dokter.

Isabella bingung... Bingung sekali... Tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tabungannya pasti tidak akan mencukupi membiayai pengobatan Gundala.

Tidak ada solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini...

Jalan satu-satunya adalah menyerahkan Gundala kepada keluarga besar Sammy. Mereka pasti mampu membayar biaya operasi jantung Gundala.

Untuk mengutarakan maksudnya, Isabella membawa Gundala ke sebuah taman bunga. Mereka bermain dengan gembira, berjoget-joget, berkeliling menikmati pemandangan bunga yang sedang mekar sambil menyanyikan lagu "Kasih Ibu" :
"Kasih Ibu kepada beta...
Tak terhingga sepanjang masa..
Banyak memberi, tak harap kembali...
Hingga Sang Surya menyinari dunia..."

Untuk sementara waktu, Isabella benar-benar melupakan semua kepedihannya, hanyut dalam suasana penuh kegembiraan bersama Gundala.

Setelah merasa capai, Isabella mengajak Gundala duduk di kursi taman. Sambil memangku Gundala, Isabella mengutarakan niatnya dengan kalimat yang sederhana, dan mudah untuk dimengerti oleh Gundala.

Gundala menangis menolak keinginan Sang Mama tercinta.

Gundala : "Saya sudah sehat. Tidak akan sakit-sakit lagi. Mama tidak usah khawatir dengan kondisiku. Jika sudah besar, saya akan mencari duit sebanyak-banyaknya untuk perawatan penyakit saya. Saya akan memberikan semua uang kepada Mama. Mama tidak usah bekerja lagi. Saya sayang Mama. Tidak mau berpisah dengan Mama.... Tidak mau...!!!"

Tangis kedua sosok manusia lemah berbaur dengan deraian air mata kesedihan.

Besoknya, Isabella mengajak Gundala ke sebuah rumah mewah di kota. Ternyata rumah itu adalah rumah keluarga Sammy.

Sammy beserta kedua orang tua yang kebetulan sedang berada di Medan, langsung menyambut mereka dengan hangat. Orang tua Sammy sebenarnya cuma menginginkan Gundala seorang saja, bukan Isabella.

Mereka sangat bahagia melihat perilaku sopan dan juga ketampanan Gundala. Mereka langsung jatuh hati dengan bocah yang dahulunya ingin dibuangnya.

Setelah menceritakan kondisi Gundala kepada Sammy, Isabella berniat segera meninggalkan kediaman Sammy, meninggalkan sang buah hati, dengan harapan Gundala dapat memperoleh pengobatan yang lebih baik dan penghidupan yang lebih layak.

Gundala meronta-ronta ingin pulang bersama mamanya. Walaupun diberikan mainan kesukaannya, Gundala tetap meraung-raung ingin meraih tangan Isabella.

Gundala menjerit : "Saya ingin bersama mama. Jangan pisahkan kami... Mamaaaa...."

Isabella mencoba memberikan pengertian, tapi Gundala menolaknya. Dia merangkul dengan erat kaki Isabella, mencoba menahan langkah sang mama dengan sekuat tenaga.

Gundala : "Mengapa mama mau pergi meninggalkan Gundala? Apakah mama tidak sayang lagi kepada Gundala? Saya janji tidak akan sakit-sakit lagi. Mammaaaa...!!!!"

Isabella tidak bergeming. Dia menarik kakinya dari pelukan Gundala sambil berkata : "Memang benar Mama tidak sayang kepadamu lagi. Tinggallah di sini seterusnya... Mama akan pergi...."

Gundala terkejut mendengar ucapan mamanya. Dia terus meronta-ronta dan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak percaya mamanya tidak sayang lagi kepadanya...

Isabella terus melangkah menjauh meninggalkan Gundala yang sedang menangis histeris.

Dari kejauhan Isabella sempat mendengar rintihan tangis pilu yang menyayat hati dari putera yang paling disayanginya : "Mamaaaa, Gundala cuma mau mama seorang.... Bawalah Gundala bersama mama... Gundala tidak akan pernah sakit lagi. Nanti tidak ada lagi yang memeluk mama. Tidak ada lagi yang menemani mama tidur... Tidak ada lagi yang menyuapin mama ketika mama sakit... Mamaaaa.... kembalilah padaku...."

Hati Isabella begitu pedih...
Perpisahan yang ketiga kali dengan orang yang paling dikasihinya kali ini sangat memilukan hatinya. Pertama, dengan sang kekasih Sammy, kedua, dengan sang nenek, dan yang ketiga dengan Gundala, putera tunggalnya yang mampu mengusir kegetiran hidupnya selama ini.

Sepanjang perjalanan pulang, air mata Isabella tidak dapat terbendung lagi. Isabella merasakan inilah puncak dari kepedihan hidupnya. Dia ingin mengakhiri semuanya...

Sesampainya di rumah neneknya, Isabella berniat untuk mengakhiri hidupnya. Sebilah belati disiapkan...

Gerakan tangannya untuk mengiris nadi di pergelangan tangan seketika terhenti oleh sebuah jeritan tertahan dari sang nenek..

Nenek : "Isabella, cucuku tersayang.... Mengapa kamu berpikiran sependek ini? Hentikan semua ini...!!! Tuhan tidak akan menerimamu... Apakah kamu yakin kelak anakmu Gundala akan diperlakukan baik oleh keluarga Sammy? Bagaimana jika tidak? Siapa yang akan menolong Gundala jika kamu mati?"

Kalimat terakhir dari sang nenek, segera menyadarkan Isabella...

"Saya tidak boleh mati... Saya harus melihat Gundala hidup bahagia, walau dari kejauhan...."

Masih terngiang begitu jelas sebuah nyanyian yang sering ia dan Gundala nyanyikan :

"Kasih Ibu kepada beta...
Tak terhingga sepanjang masa..
Banyak memberi, tak harap kembali...
Hingga Sang Surya menyinari dunia..."

(Bersambung ke part 6) by Firman Bossini