Perbedaan Pandangan Politik Di Antara Sahabat

Perbedaan Pandangan Politik Di Antara Sahabat - Dwitunggal, Soekarno-Hatta. Setiap kali kita menyebut Soekarno, pasti segera akan menambahkan kata Hatta.

Mereka berdua bagaikan layang-layang dan benang. Untuk menerbangkannya harus ada keduanya. Dan tentu saja, tidak terlepas juga dengan kehadiran hembusan angin, yang diibaratkan sebagai rakyat Indonesia.

Kelihatan keduanya sangat kompak, padahal sebenarnya banyak sekali perbedaan pandangan tentang banyak hal, di antara mereka berdua.

Salah satunya adalah...

Bung Hatta berpendapat : “Pendidikan rakyat dulu, baru merdeka”.

Bung Karno berpendapat sebaliknya : “Oh tidak! Merdeka dulu baru pendidikan. Jika demikian maksud kamu, hingga kiamatpun kita tidak akan merdeka”.

Bung Hatta bertemu dengan Bung Karno untuk pertama kalinya di kota Bandung. Saat itu, sekitar tahun 1933, mereka seide untuk melawan penindasan dengan ketajaman berpikir dan buah pena yang kritis.

Pertemuan itu yang tidak disengaja, membuat mereka berdua berada dalam satu perahu, namun berbeda pemandangan. Hatta memandang ke kanan, Soekarno ke kiri, tapi perahu tetap ke depan, menuju kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sepenggal kisah dua pahlawan yang sangat berjasa bagi kemerdekaan Indonesia, menginspirasiku untuk mengulas tentang perbedaan politik diantara dua orang sahabat.

Idealnya, seorang sahabat itu selalu memiliki pandangan yang sama dengan kita. Itu idealnya...

Namun tidak jarang, sahabat kita memiliki pendapat yang berbeda mengenai sesuatu, terutama menyangkut masalah pilihan politik di negara kita.

Banyak teman-teman yang mengeluhkan perilaku sahabatnya (sekarang jadi mantan sahabat) yang memblokir pertemanan di fb dan di medsos lainnya, dan yang lebih ekstrimnya langsung memutus tali silahturahmi dengannya. Penyebabnya sangat sepele, berbeda pilihan pada saat pilpres dulu.

Sebenarnya paling asyik jika kita memiliki sahabat yang berbeda pandangan politiknya, namun tetap menghargai pilihannya masing-masing. Saat bertemu sebisa mungkin untuk tidak membicarakan hal-hal yang berbau politik.

Jika sempat terjadi diskusi mengenai politik, segera menyudahi dan mengalihkan ke topik yang lain. Tidak serta merta meng-counter artikel yang di-published sahabatnya atau menghindari memberikan komen yang dapat merusak suasana persahabatan.

Jika diskusi masih tetap berlanjut, tetaplah dalam keadaan pikiran yang sehat, waras, segar dan tidak emosi.

Setiap perbedaan seharusnya akan memperkaya wawasan dan saling mengisi satu sama lainnya. Hindari isu sektarian, SARA dan tudingan yang bersifat personality, yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan bahan diskusi. Toh yang dibahas adalah mengenai keunggulan jagoan masing-masing, bukannya siapa sich elo, dari mana asal elo atau Tuhan elo siapa?

Marilah kita berjiwa besar untuk menerima semua kekurangan jagoan kita, menelaah dengan hati jernih, bukan dengan kengototan yang tidak pada tempatnya.

Sekali lagi, keragaman pendapat pasti akan memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan kita, selama kita tetap memegang komitmen selalu mengedepankan keutuhan nilai persahabatan yang telah terjalin.

Tirulah pendahulu kita, Soekarno-Hatta, walau memiliki perbedaan pandangan, namun mereka menanggalkan baju keegoan dengan bergandengan mengayuh perahu hingga ke tujuan.

Bukankah begitu sobatku sekalian?

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini