Penulis Antagonis Berwajah Manusia

Penulis Antagonis Berwajah Manusia - Seorang penulis seharusnya menelurkan ide-ide positif atau pencerahan yang berguna bagi kemaslahatan pembaca setianya.

Saat ini kita sering mendapat sharing artikel dari seorang "penulis terkenal" dengan peran antagonis di dunia medsos mengenai kebenciannya kepada orang lain.

Penulis, yang katanya memiliki follower (pengikut) hingga ratusan ribu orang, sering melakukan blunder dalam penulisan artikel, bahan bacaan atau statusnya di media sosial, seharusnya dipertanyakan eksistensi dan kejujurannya. Berita mengenai foto seorang pemimpin, yang katanya hasil editan, akhirnya dikoreksi tanpa kata maaf setelah dicounter oleh sang fotografer.

Penulis yang dengan sengaja memutarbalikkan fakta, memelintir berita serta memanipulasi informasi, seharusnya sudah tersingkir dari jagat raya dunia para blogger dan ditinggalkan para pengikutnya.

Namun, ini tidak terjadi dengan penulis tersebut...

Penulis tersebut yang katanya sering mengadakan seminar mengenai cara fantastis menjadi penulis hebat, dengan penuh kesadaran membelokkan informasi yang benar agar menjadi acuan referensi bagi pengikutnya.

Dia pasti sadar bahwa status yang dibuatnya, serba sembrono, sama sekali ngawur, berdasarkan opini dari otak yang dipenuhi saraf kebencian dan yang pasti statusnya itu tidak bermanfaat selain untuk menghasut dan memecah belah.

Dia sangat sadar karena dia pasti orang yang pintar, bahwa untuk menjadi sosok terkenal dapat melalui proses instan (serba cepat) yaitu "menyemburkan dan menyebarkan" status serba kontroversi.

Agar taktik perangnya berhasil, dia akan "menyerang" secara membabibuta kepada sosok yang memiliki pengaruh besar di suatu wilayah, misalnya seorang presiden atau gubernur.

Kontroversi yang diciptakan akan menimbulkan rasa marah, kesal dan emosi berlebihan dari para pendukung tokoh yang dihujatnya. Mereka akan balik melawan, sehingga terjadi "perang" di media sosial. Begitu gampangnya, api akan tersulut dan membesar untuk memecah masyarakat menjadi dua kelompok yang saling berhadapan.

Strategi mempermainkan emosi negatif, perasaan marah, benci, dendam dan sakit hati harus terus dijaga, terus dibakar agar tetap menyala. Inilah niat paling jahat dari seorang penulis yang ingin menjadi terkenal, menjadi buah bibir dan menikmati setiap like, sharing dan komentar dari followernya yang "kejam dan penuh fitnah".

Dengan kepintarannya, dia mengamati perilaku para follower dan sebagian masyarakat yang malas membaca informasi dari sumber terpercaya, enggan menganalisa referensi berita dan lebih suka dengan berita kontroversi.

Sebagian lagi, kemungkinan adalah orang-orang yang putus asa karena gagal "memenangkan pertarungan merebut hati rakyat" terdahulu, sehingga memiliki kesempatan untuk memamerkan segudang kalimat-kalimat busuk, jorok dan sumpah serapah penuh amarah, tanpa unsur rasional yang bijak.

Nah, pertanyaannya...

Mengapa tulisan kontroversi itu begitu digandrungi dan sangat cepat penyebarannya?

Jawabannya, karena tulisan tersebut berisikan hal-hal negatif.

Otak manusia dirancang untuk mempertahankan hidup dan menjadi sangat waspada terhadap hal-hal yang bersifat negatif. Secara alami, sebagian manusia akan lebih tertarik kepada berita kecelakaan, perampokan, pemerkosaan, sentimen sara dan segala berita yang berkaitan dengan penderitaan hidup anak manusia.

Bagi penulis yang berpikiran picik nan licik ini, substansi (isi) artikel dan tulisan, bukan merupakan hal yang penting.

Mempertahankan loyalitas (kesetiaan) para pengikut (follower) adalah tujuan utamanya sebagai target market penjualan produk. Ujung-ujungnya dia akan menyediakan arena iklan berorientasi fulus. Popularitas berujung rupiah atau dollar. Wow...

Sadarlah wahai penulis antagonis berwajah manusia...

Tuhan telah menganugerahkan potensi dan bakat yang begitu mulia buat dirimu untuk membangunkan libido semangat hidup banyak pengikutmu. Jangan disia-siakan...hanya untuk memuaskan birahi duniawi dalam menimbulkan kebencian dan kerusakan moral di muka bumi pertiwi.

Engkau dapat mengelak dari hukuman dunia, namun tidak mungkin menolak hukuman dari Tuhan.

Kelak... Tuhan pasti akan meminta pertanggungjawabanmu sebagai manusia, hanya dari seorang manusia, bukan dari seekor hewan...

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini