Penantian Yang Akan Berakhir

Penantian Yang Akan Berakhir ( Sambungan dari Wanita Penjual Rajutan Kain Bermotif ) - Pencarian terus menerus akan sosok mamanya, belum menghasilkan sesuatu yang menggembirakan hati Gundala.

Sammy, juga berupaya mencari sosok mantan kekasihnya ke segala pelosok daerah, namun masih berhasil menemukan Isabella. Dia merasa sangat menyesal mendengar penuturan Gundala tentang kondisi fisik Isabella yang cacat. Sama sekali tidak pernah dibayangkan kisah hidup yang begitu tragis akan dialami wanita yang masih dicintainya.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia secara bersamaan sebulan lalu, Sammy telah melepaskan semua saham perusahaan yang dimilikinya di Kuala Lumpur. Warisan yang diperolehnya, sebagian dihibahkan untuk pembangunan beberapa panti asuhan dan panti jompo, sebagian lagi digunakan untuk modal usaha di tempat barunya, di kota Medan.

Saat ini, Sammy tinggal berdua bersama dengan Gundala di rumah mewah yang eksotik, setelah isterinya Inka Christie kembali ke negara asalnya, Malaysia. Mereka berpisah dengan baik-baik.

Dua bulan sejak pertemuan sang kekasih Amy dan mamanya, Gundala kelihatan mengalami sedikit depresi. Sammy khawatir dengan kondisi kesehatan darah daging yang paling dibanggakannya. Berulangkali Sammy mencoba menghibur Gundala agar bersabar dan jangan pernah menyerah.

Suatu saat, Sammy mengajak Gundala dan Amy berkunjung ke sebuah panti jompo yang baru selesai direnovasi dari hasil donasi Sammy. Mereka membawa banyak sekali makanan enak dan berbagai bahan kebutuhan sehari-hari bagi para penghuni rumah jompo tersebut.

Jumlah penghuni panti ini terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya anak muda dan pasangan suami isteri yang enggan untuk mengurus keseharian orang tua mereka yang sudah sangat sepuh.

Begitu telaten dan penuh ketulusan, mereka bertiga membagikan paket makanan kepada para penghuni panti yang sebagian besar sudah menunjukkan gejala pikun. Tidak jarang mereka ikut menyuapi beberapa penghuni panti, bagaikan sedang menyuapi orang tua mereka sendiri.

Tiba-tiba dari kejauhan, nampak seorang wanita yang berjalan sedikit bungkuk dibantu tongkat, pakaian compang-camping cenderung kumal, dengan mulut terus menerus berkomat-kamit seperti sedang mendendangkan sebuah lagu.

Amy berteriak tertahan : "Itu diaaa.... Itu diaaaa... Wanita penjual rajutan kain bermotif yang saya ceritakan dulu, Mas Gun. Cepat hampiri dia..."

Gundala segera menoleh ke arah wanita yang berjalan mengarah ke tempat mereka sedang membagikan barang.

Gundala terdiam... Diam begitu lama... Seakan tidak percaya melihat kondisi mamanya yang dulu adalah seorang wanita cantik nan rupawan. Lidahnya kelu seakan tidak memiliki kekuatan untuk berteriak, kakinya bagaikan terpasung tidak sanggup untuk melangkah.

Akhirnya wanita itu berjalan semakin dekat, hingga berada sangat dekat dengan Gundala.

Sayup-sayup terdengar suara lirih dari wanita tersebut menyanyikan lagi "Kasih Ibu".

"Kasih Ibu kepada beta...
Tak terhingga sepanjang masa..
Banyak memberi, tak harap kembali...
Hingga Sang Surya menyinari dunia..."

Tanpa sadar, Gundala turut menyanyikan lagu yang sudah sangat dikenalnya sejak masa kecil.

Mendengar ada orang yang menirukan lagu yang dinyanyikan, sontak membuat langkah wanita itu terhenti. Sepertinya dia mengenal suara tersebut. Dia berusaha menoleh ke asal suara. Gundala terus mendendangkan lagu tersebut walaupun wanita itu sudah berhenti bernyanyi.

Dengan suara lirih dan bibir bergetar, wanita yang sebenarnya belum berumur lanjut itu berkata : "Anakku.... Gundala...? Anakku ada dimana? Kamukah Gundala..? Benarkah dirimu adalah Gundala....?"

Gundala tidak menghentikan nyanyiannya. Sang wanita tersebut yang tidak lain adalah Isabella akhirnya ikut bernyanyi kembali. Mereka berdua menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Gundala segera memeluk mamanya dan berkata : " Mamaaa.... Ini aku Gundala, Ma..."

Isabella bertanya untuk memastikan saja, : "Apakah benar itu kamu Gundala...? Anakku Gundala yang kurindukan...?"

Gundala : "Benar maaa... Aku ini Gundala..."

Keduanya larut dalam pelukan yang penuh kehangatan dan kerinduan. Isabella membelai rambut Gundala, mengelus punggung putera semata wayangnya. Sammy tidak dapat lagi menahan perasaan haru biru yang begitu terasa.

Gundala : "Mengapa mama bisa sampai begini...? Sungguh malang nasib mama.."

Bagaikan tersadar dari tidur panjangnya saat kondisi ingatan yang sedikit terganggu sebelumnya, Isabella mulai menceritakan satu persatu kejadian pahit yang dialaminya secara beruntutan.

Setelah pingsan dan mengalami luka parah ditabrak truk ketika hendak menyeberangi jalan, Isabella bertemu dengan seseorang yang terakhir diketahui sebagai pemilik panti jompo ini. Beliaulah yang mendampingi Isabella selama di rumah sakit, hingga akhirnya mengajak Isabella tinggal di panti jompo miliknya agar wanita malang ini dapat dirawat dengan baik oleh para pengasuh panti.

Pengobatan demi pengobatan dilakukan untuk menyembuhkan luka yang dideritanya menunjukkan hasil yang lumayan. Yang tersisa hanyalah luka fisik yaitu sebelah kaki kiri yang pincang karena diamputasi dan terpaksa harus menggunakan kaki palsu, kemudian kedua matanya menjadi buram, karena mengalami benturan keras di kepala hingga mengenai saraf penglihatannya. Memerlukan biaya yang sangat banyak untuk mengembalikan fungsi kedua matanya menjadi normal kembali.

Dia berharap suatu ketika, kedua matanya dapat melihat normal kembali. Dapat melihat keindahan dunia, terutama dapat melihat paras tampan wajah anak tunggalnya.

Oleh karena itu, Isabella berupaya menabung dari hasil menjual rajutan kain bermotif indah buatannya. Saat berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menjajakan hasil karyanya, Isabella tidak henti-hentinya mencari anaknya. Benturan keras di kepala membuatnya sedikit amnesia (gangguan ingatan), sehingga banyak orang menganggapnya sebagai wanita gila.

Sammy berpindah memeluk Isabella dan Gundala, dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Air matanya tidak terbendung lagi. Air mata ketiganya membaur menjadi satu membasahi bumi.

Sammy : "Maafkan diriku... Aku amat bersalah menyebabkan semua ini terjadi. Isabella, pulanglah...ikutlah bersama kami menikmati indahnya masa-masa tua, melihat Gundala tumbuh dewasa dan menikah dengan kekasihnya, Amy. Kamu pasti sembuh...!!! Semua upaya akan saya perbuat untuk kesembuhanmu sayang..."

Akhirnya, mereka bertiga sekeluarga dan pacar Gundala, pulang ke rumah dalam suasana gembira penuh keharuan.

Sammy menghabiskan banyak waktu untuk merawat Isabella. Harta yang tersisa digunakan untuk pengobatan mata Isabella hingga sembuh.

Seringkali mereka berdua pulang kampung, tinggal di sana untuk beberapa waktu sekadar melepaskan kerinduan akan suasana kampung halaman Isabella. Sammy bertekad untuk membayar semua kesalahannya dulu dengan merawat dan menemani Isabella hingga akhir hayatnya.

Gundala juga tidak kalah senangnya melihat kebahagiaan mama dan papanya tercinta.

Untunglah Gundala mendapatkan seorang gadis cantik dan berakhlak baik seperti Amy. Walaupun berasal dari keluarga pas-pasan, anak seorang tukang sate, namun Amy dapat memainkan perannya dengan sempurna sebagai penyemangat dan pendamping hidup Gundala kelak. Amy juga sangat telaten merawat dan menyayangi kedua orang tua Gundala.

Akhir yang membahagiakan bagi semua orang...

(TAMAT) by Firman Bossini