Menjaga Reputasi Dan Nama Baik

Menjaga Reputasi Dan Nama Baik - Di suatu kota, hiduplah sebuah keluarga kecil bahagia. Sepasang suami isteri dengan puteri tunggalnya, Eiffel.

Suatu hari Eiffel disuruh ayahnya untuk berbelanja barang di toko, milik seorang saudagar kaya yang terkenal pelit dan penuh perhitungan.

Eiffel, seorang anak rajin berusia 12 tahun, tidak pernah menolak tugas yang diberikan sang ayah. Namun kali ini, ayahnya tidak memberikan uang untuk berbelanja barang yang diperlukan.

Timbul rasa enggan, ketika harus berhutang kepada pemilik toko. Eiffel sebenarnya takut untuk ke sana dengan tidak membawa uang, namun karena ayahnya sedang kurang enak badan, sehingga dengan sangat terpaksa Eiffel harus mengikuti perintah sang ayah.

Tiba di toko tersebut, hati Eiffel berdegub dengan kencang, takut jika pemilik toko menolak permintaannya untuk berhutang. Terlebih lagi jika sampai dihina dan dimaki olehnya.

Kejadian yang masih melekat di ingatannya, tatkala pemilik toko melihat dengan mata tajam, setajam sembilu ke arah teman-temannya saat mereka memohon untuk berhutang. Pemilik toko berkata : "Apakah pantas kalian diberi hutang? Coba dulu bercermin yah..."

Kata-kata pedas itu begitu membekas dalam benaknya hingga saat ini.

Saat barang belanjaannya sudah dimasukkan ke dalam keranjang, Eiffel segera menuju ke kasir. Dengan nada perlahan Eiffel berkata : "Saya ingin membeli semua barang belanjaan ini, tapi saya tidak membawa uang dan ingin berhutang dulu..."

Kasir melihat Eiffel dengan muka tidak bersahabat. Pembeli lain yang berdiri di belakangnya, lebih menampakkan muka sinis kepada Eiffel.

Kasir tersebut berkata dengan ketus : "Kalau tidak membawa uang, mengapa datang berbelanja...?"

Eiffel tertunduk dan malu sekali mendapat cemoohan seperti ini. Dunia terasa gelap karena hinaan yang begitu kasar.

Kasir : "Saya tidak yakin dapat memenuhi keinginanmu adik kecil. Tapi, sebentar... saya mau bertanya dulu kepada boss saya, pemilik toko ini..."

Kasir tersebut menelepon pemilik toko...

Tidak berapa lama keluarlah pemilik toko, kelihatannya baru selesai makan, terlihat dari butiran nasi masih melekat di pinggiran bibirnya. Mulutnya masih mengunyah-ngunyah makanan.

Pemilik toko berkata dengan lantang: "Siapa yang hendak berhutang...?"

Kasir menunjuk ke arah Eiffel yang sedang membelakangi pemilik toko karena takut.

Pemilik toko : "Heiii, kamu... adik kecil.... jangan membelakangi saya...."

Perlahan Eiffel mulai membalikkan badannya...

Saat mata pemilik toko mengarah ke Eiffel, seketika juga mengembanglah senyumannya. Tangan kekarnya meraih tubuh mungil Eiffel.

Sambil tertawa lebar, pemilik toko itu berkata : "Rupanya kamu yah... Puteri Bossini...
Tentu saja kamu boleh berhutang. Ayahmu itu selalu dapat dipercaya. Tidak ada keraguan dari diriku kepada ayahmu. Ambil saja barang lain, jika diperlukan. Jangan sungkan-sungkan..."

Kasir dan para pembeli melongo, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemilik toko yang terkenal kikir. Hihgga akhirnya mereka berbalik memandang dengan rasa hormat kepada Eiffel, Puteri Bossini.

Eiffel lebih tidak percaya lagi, namun elusan tangan halus dari pemilik toko ke rambutnya, segera membuyarkan semua keraguannya.

"Puteri Bossini", dua kata keramat ini telah berhasil mengubah pandangan orang sekelilingnya menjadi sebuah rasa hormat.
____________________________

Sebelum mati, pohon pisang akan menyiapkan penggantinya yaitu tunas baru yang tumbuh di samping batang utamanya.

Sebelum kita menutup usia, alangkah mulianya jika kita meninggalkan reputasi dan nama baik buat orang sekeliling.

Perbuatan jahat akan selalu dikenang sebagai hal yang buruk dan dapat berimbas negatif bagi anak cucu kita.

Orang-orang akan mencibir keluarga generasi penerus kita dengan menganalogikan mereka melalui sebuah perumpamaan "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya".

Oleh sebab itu, berbuatlah amal kebaikan sebanyak mungkin, untuk didedikasikan kepada anak cucu. Janganlah kita mewariskan reputasi dan nama buruk yang kelak akan menjadi beban mereka dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar mereka.

Hiduplah, seakan-akan kita akan meninggal besok. Artinya, perbanyaklah buah kebaikan semampunya.

Kesalahan masa lalu yang meninggalkan reputasi buruk akan terkikis sedikit demi sedikit melalui perbuatan baik secara kontinu dan berkesinambungan.

Belajarlah terus dan pantang menyerah dalam hidup ini. Karena nilai kebaikan yang kita tanam, akan dikenang orang sepanjang masa.

"Marilah kita jaga reputasi dan nama baik semaksimal mungkin sebab nama baik yang terjaga, akan jauh lebih berharga daripada segunung harta kekayaan"

(Salam Perdamaian - Salam UFO) by Firman Bossini