Kisah Dari Tiga Goni Beras

Kisah Dari Tiga Goni Beras - Kisah ini adalah kisah sedih dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Rumah sederhana berdindingkan daun rumbia kerjng dan beralaskan tanah, dihuni oleh seorang ibu, Asih dan seorang anak perempuan yang bernama Sinchan.

Ayah Sinchan telah meninggal dunia, tanpa meninggalkan harta warisan untuk Sinchan dan ibunya. Alhasil tinggallah mereka berdua yang berusaha bertahan hidup dalam kemelaratan.

Sang ibu bersusah payah membesarkan Sinchan seorang diri. Bekerja serabutan, kadang menjadi buruh tani dan sesekali menjadi buruh pengangkat barang di sebuah pasar tradisional.

Saat itu, di kampung tersebut belum tersedia listrik. Untuk belajar, Sinchan hanya bergantung kepada terangnya sinar lampu teplok, dengan bahan bakar minyak tanah. Di saat Sinchan sedang belajar, sang ibu menemaninya sambil menjahit atau merajut baju untuk puteri tercintanya. Kadang-kadang hasil jahitan atau rajutan bajunya, dijual untuk menopang biaya sekolah Sinchan.

Saat Sinchan hendak memasuki sekolah menengah atas, Sang ibu menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. Hal ini cukup mencemaskan Sinchan.

Hingga akhirnya Sinchan memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Sang ibu tidak setuju, dan memaksa Sinchan untuk segera mendaftarkan diri ke sekolah negeri. Hasil rapor Sinchan cukup baik, sehingga pasti dapat langsung diterima di sekolah tersebut tanpa mengikuti tes dan ujian tertulis lagi.

Sekolah favorit tersebut, memiliki keunikan, karena meniadakan usng pendaftaran, namun memgharuskan murid-muridnya membawa 30 kilogram beras setiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Bagi yang tidak mampu dan melalaikan kewajiban ini akan langsung dikeluarkan dari sekolah.

Sinchan menyadari kemampuan ibunya dapat menyediakan beras yang diminta sekolah, dan sekali lagi memohon kepada sang ibu untuk berhenti sekolah saja.

Sinchan : "Bu, saya mau berhenti sekolah dan membantu ibu bekerja di sawah".

Ibunya mengelus kepala Sinchan dan berkata : "Kamu memang anak yang baik dan soleh. Ibu senang sekali mendengar niat tulusmu, tapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau ibu sudah melahirkan kamu, pasti ibu dapat merawat, menjaga dan menyekolahkan dirimu....".

Sebuah tamparan yang cukup keras melayang ke pipi kanan Sinchan, tatkala Sinchan bersikeras untuk berhenti sekolah. Ini merupakan pukulan pertama seumur hidup Sinchan. Sang ibu, sebenarnya tidak tega, tapi dia harus tegas dan tanpa kompromi untuk urusan pendidikan.

Pada awal bulan pertama, dengan menumpang sebuah beca dayung, ibu Sinchan menyerahkan sekarung beras kepada pengurus sekolah.

Pengurus sekolah menimbang dan memeriksa beras yang dibawa wanita yang sudah menunjukkan garis-garis keriput di wajahnya. Beras dalam genggaman tangan pengawas, ternyata sedikit bercampur dengan gabah dan pasir.

Pengawas itu berkata sinis : "Saya sering menjumpai kecurangan yang dilakukan orang tua murid. Mengapa engkau melakukan hal yang kurang terpuji ini?"

Ibu Sinchan terdiam dan merasa sangat malu. Berulang kali kata maaf terlintar dari mulutnya.

Ibu Sinchan : "Maafkan saya... Cuma beras ini yang dapat saya berikan ke sekolah ini. Bulan depan saya akan membawa beras yang lebih bagus lagi..."

Pengawas : "Okelah, saya maafkan. Jika sampai bulan depan masih seperti ini, lebih baik anak ibu belajar sendiri saja di rumah...."

Sebulan telah berlalu...

Ibu Sinchan kembali dengan menumpang beca langganannya, membawa sekarung beras ke sekolah.

Pengawas yang mengenalnya, lantas memeriksa kualitas beras yang dibawa ibu Sinchan. Hasilnya, pengawas kembali menggeleng-gelengkan sambil berkata : "Mutu beras ini lebih baik dari bulan lalu. Namun tetap tidak layan untuk dikinsumsi manusia. Kamu sekeluarga bukan ayam yang biasa makan beras, gabah atau pasir, bukan?"

Hinaan yang sangat menyakitkan ini, membuat air matanya mengalir turun. Namun sang ibu tidak mampu menjawab pertanyaan pengawas yang "kejam" itu.

Ibu Sinchan hanya dapat mengucapkan kata maaf dan berjanji untuk membawa beras yang lebih baik lagi.

Pada awal bulan ketiga, ibu Sinchan kembali ke sekolah dengan membawa karung beras. Kali ini kualitas berasnya sudah bagus, namun yang menjadi masalah adalah beratnya. Setelah ditimbang beratnya hanya 20 kilogram, artinya masih kurang 10 kilogram.

Pengawas tersebut kelihatan sangat emosi dan mengira ibu Sinchan adalah seorang penipu.

Pengawas : "Selama tiga bulan berturut-turut, beras yang kamu bawa tidak memenuhi syarat. Saya akan melapor kepada kepala sekolah, agar segera mengeluarkan anakmu dari sekolah ini..."

Dengan berlinang air mata Ibu Sinchan pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya ibu pengawas, sebenarnya beras ini didapat dari mengemis dan mengumpulkan sisa-sisa beras yang jatuh di pasar. Saya tidak mampu lagi bekerja karena kaki saya mengalami sakit rematik yang membuatku sulit untuk berjalan. Tapi saya tidak mau anakku menjadi bodoh karena putus sekolah...".

Ibu Sinchan menggulung celananya, memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Setelah mendengar kata-kata penuh iba dan melihat langsung penyakit dari ibu Sinchan, ibu pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia baru menyadari perjuangan seorang ibu, membanting tulang dalam membesarkan anaknya. Tak terasa matanya menjadi berkaca-kaca karena rasa haru.

Ibu Sinchan menceritakan kegetiran hidupnya selama ini sambil bersimpuh di atas kedua lututnya.

Setiap hari, pagi-pagi buta, setelah menyiapkan sarapan dan bekal makanan Sinchan di sekolah, dengan menenteng sebuah kantong kosong dan bantuan tongkat, beliau pergi pasar untuk mengutip beras yang jatuh di atas tanah sebutir demi sebutir. Sebagian untuk dimasak untuk santapan dia dan Sinchan, sisanya dikumpulkan dalam karung untuk diserahkan ke sekolah.

Ketika hari sudah menjelang gelap, barulah dia perlahan-lahan kembali ke rumah. Sinchan sendiri tidak mengetahui aktivitas sang ibu sebenarnya.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar, air mata ibu pengawas mulai mengalir. Kemudian dia mulai memapah ibu Sinchan dari lantai dan berkata: "Bu, saya sangat prihatin dengan kepedihan yang ibu alami. Baiklah.... Sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya diperbolehkan mengumpulkan sumbangan buat ibu sekelurga "

Ibu Sinchan menggelengkan kepala dan buru-buru menolak : "Jangan... kalau saja anakku tahu saya pergi mengemis dan mengumpulkan sisa-sisa beras jatuh untuk membiayai sekolahnya, saya khawatir hal ini dapat membuat harga dirinya jatuh dan pelajarannya pasti akan terganggu. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Secara diam-diam ibu pengawas memberitahukan kepala sekolah dan atas kemurahan hati kepala sekolah, membebaskan biaya sekolah dan memberikan bantuan bulanan untuk biaya hidup keluarga Sinchan selama tiga tahun.

Tiga tahun berlalu dengan cepatnya...

Sinchan berhasil lulus dengan nilai yang bagus. Ibu Sinchan merasa sangat bangga atas keberhasilan Sinchan melewati bangku sekolah SMA. Bukan itu saja, Sinchan berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa melalui proses seleksi.

Pada acara perpisahan di sekolah, ibu Sinchan diundang untuk hadir dan duduk di bangku kehormatan. Sebenarnya dia merasa heran, mengapa harus dia yang duduk di bangku yang terlihat berbeda dengan yang lain.

Sebuah panggilan dari pembaca acara, mengundang Ibu Sinchan hadir di atas pentas. Di samping tempat duduknya, terdapat tiga karung beras, persis dengan karung beras yang pernah diserahkannya kepada ibu pengawas dulu. Sinchan merasa heran...

Pengawas sekolah mulai menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis dan mengumpulkan sisa-sisa beras demi anaknya bersekolah. Kepala Sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras lusuh dengan penuh haru dan berkata : "Inilah Sang Ibu yang ada dalam cerita tadi."

Sinchan berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke atas mimbar, melepaskan tangis haru sambil memeluk erat tubuh ibunya. Kemudian berlutut bersimpuh mencium kedua kaki wanita yang begitu menyayanginya selama ini. Pengorbanan seorang ibu yang menutupi semua penderitaan hidup dari dirinya.

Sinchan berkata : "Lain kali Ibu tidak boleh bohong lagi kepadaku. Saya pasti bisa bekerja mencari uang untuk keluarga. Sinchan sekarang sudah besar. Ibu jangan khawatir... Saya pasti bisa....!!!"

Sobatku yang budiman...

Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman, sepanjang kenangan dan seumur hidup buah hatinya...

Seorang ibu yang begitu tulus ikhlas terus dan terus memberi kepada anaknya serta tidak pernah mengharapkan balas jasa kembali dari sang anak.

Kemuliaan hati seorang ibu demi menghidupi sang anak bkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta kesuksesan dimasa depannya.

Mulai sekarang, katakanlah kepada ibu kita dimanapun beliau berada dengan sebuah kalimat tulus : " Terimakasih Bunda... Aku Mencintaimu... Aku Mengasihimu...selamanya".

(Salam Kebahagiaan - Salam UFO) by Firman Bossini