Kerinduan Dari Seorang Mantan Kekasih

Kerinduan Dari Seorang Mantan Kekasih ( Bersambung dari Part 4 - Hadiah Untuk Mama dari Pengorbanan Seorang Anak Sambungan ) - "Tok...tok...tok..."
Terdengar suara ketukan pintu yang lumayan keras di sebuah rumah sederhana.

Seorang nenek tua berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu.

Nenek : "Siapa gerangan yang mengetuk pintu?"

Pemuda : "Saya nek, Sammy..."

Nenek tersebut terkesiap...
Beliau sangat mengenal nama tersebut.
Sammy.... Sammy yang telah menghancurkan hidup cucu tersayangnya, Isabella...

Gara-gara laki-laki ini, sang nenek harus berpisah dengan Isabella. Seumur hidupnya dia tidak akan melupakan nama ini.

Nenek : "Buat apa kamu mencari Isabella?"

Sammy : "Tolong buka pintu sebentar Nek. Saya ingin bicara dengan Isabella..."

Nenek : "Isabella tidak ada... Dia sudah pindah jauh sekali..."

Sammy : "Apa..? Isabella sudah pindah? Kemana Nek? Tolong buka pintu sebentar, saya mau mengantar sesuatu untuk Isabella..."

Antara mau dan tidak, dengan penuh keraguan, akhirnya sang nenek bersedia membuka pintu...

Sesosok pemuda tampan berkulit putih tepat berdiri di hadapannya. Terlihat pancaran keingintahuan dari muka pemuda yang memiliki kharisma tinggi ini...

Sammy : "Bolehkan saya masuk dan mohon luangkan waktu sebentar. Saya ingin mengobrol sama nenek..."

Nenek Isabella mempersilakan Sammy duduk di sofa butut yang sedikit berdebu.

Sammy : "Nek, Isabella saat ini ada dimana? Sudah sepuluh tahun saya tidak berjumpa dengannya. Saya kangen sekali..."

Nenek : "Kangen...kengen... Enak saja kamu bilang begitu. Jadi selama sepuluh tahun ini kamu ada dimana? Apa ada kepikiran sama cucuku?"

Sammy : "Tiap malam sebelum tidur, selalu kupanjatkan doa dengan tulus untuk Isabella, wanita yang kukasihi sepanjang hidupku..."

Nenek : "Hmmm..."

Sammy : "Bukannya saya tidak mau mencari, tapi pasporku ditahan oleh ayahku. Saya tidak dapat berangkat ke Indonesia. Saya juga diikat oleh sebuah komitmen dari ayahku untuk membesarkan perusahaan selama sepuluh tahun. Setelah itu, saya akan diberi kebebasan finansial untuk berbuat apa saja dan diperbolehkan memperpanjang passporku. Saya pikir, setelah saya sukses, walau harus menunggu begitu lama, saya pasti akan datang menjumpai Isabella...."

Nenek Isabella terdiam, menajamkan matanya memandang ke arah Sammy. Sementara Sammy sendiri, tertunduk sedih. Beberapa tetes air mata jatuh melintasi pipinya.

Sammy : "Hari ini saya khusus datang ke sini menanyakan kabar Isabella. Saya berencana ingin membina kehidupan baru bersamanya. Saya juga sudah menjelaskan kepada isteriku perihal kejadian masa lalu. Dia sangat mengerti. Isteriku adalah sosok wanita yang baik, namun dia tetap bukan pilihanku. Saya menginginkan Isabella..."

Nenek : "Isabella hidup menderita selama sepuluh tahun bersama anaknya yang ganteng dan rupawan, berbudi pekerti baik dan sangat pintar..."

Sammy : "What...??? Anakkkuuu.... Huhuhuhu..."

Meledaklah tangis Sammy. Dia duduk bersimpuh di kaki nenek Isabella, sambil mengantuk-antukkan kepala ke dengkul nenek Isabella. Hilang sudah kewibawaan Sammy, yang saat ini menjadi boss sebuah perusahaan ternama di Kuala Lumpur.

Sammy : "Nek, mohon beritahu dimana mereka berada..... Saya akan melakukan apa saja asal dapat berjumpa dengan kedua orang yang kukasihi. Seminggu ini saya bermimpi berjumpa dengan Isabella yang mengenakan gaun putih yang indah dengan menggenggam anak kecil yang saya tidak tahu siapa itu..."

Nenek : "Bagaimana jika Isabella ternyata sudah menikah? Apa yang akan kamu perbuat? Merebutnya dari suaminya? Dengan modal apa kamu sanggup merebut Isabella? Apakah kamu berani meninggalkan kehidupanmu di Kuala Lumpur, meninggalkan kedua orang tuamu dan meninggalkan bisnis kamu?"

Sammy : "Benarkah Isabella sudah menikah?"

Nenek : "Jawab dulu pertanyaanku...!!!"

Sammy : "Saya pasti akan meninggalkan semuanya demi Isabella dan anakku..."

Nenek : "Kapan? Setahun lagi atau setelah kalian sudah dipisahkan oleh maut?"

Sammy : "Beri saya waktu untuk mewujudkan impianku, hidup bersama Isabella. Saya akan bicara dengan kedua orangtuaku yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Saya juga akan berterus terang kepada isteriku saat ini. Tolong beri saya waktu..."

Nenek : "Pulanglah.... Setelah kamu sanggup meninggalkan semuanya, baru saya akan mempertemukan kalian bertiga..."

Sammy : "Apa tidak bisa sekarang? Saya ingin sekali menemui mereka saat ini juga...."

Nenek : "Pulanglah... Tinggalkan rumah ini..."

Sammy : "Apakah Isabella sudah menikah...?"

Nenek : "Belum... Tapi kembalilah ke kehidupanmu..."

Tanpa sanggup memaksa lagi, akhirnya Sammy meninggalkan rumah nenek Isabella dan meletakkan sebuah tas berisi uang yang lumayan banyak tanpa sepengetahuan sang nenek sebagai bekal biaya hidup sang nenek dan keluarga kecil Isabella.

Meninggalkan sebuah harapan untuk menggapai impian terbesar dalam hidupnya kelak...

(Bersambung ke part 5) by Firman Bossini