Hiduplah Seakan-Akan Besok Mati

Hiduplah seakan-akan kamu akan mati besok. Belajarlah seakan-akan kamu akan hidup selamanya.” (Mahatma Gandhi)

Ungkapan di atas sungguh dalam maknanya bagi kebahagiaan hidup umat manusia.

Sepenggal cerita menarik ini akan membuka cakrawala tentang arti hidup dalam kehidupan yang damai...

Seorang guru spiritual didatangi oleh seorang pria yang sudah berkeluarga. Dia mengeluhkan kehidupannya yang serba susah, bisnisnya hancur meninggalkan hutang yang banyak, hubungannya dengan keluarga besarnya juga tidak harmonis, seorang anak remajanya sedang dalam proses rehabilitasi kecanduan narkoba dan isteri tercintanya mulai mengacuhkannya serta setumpuk masalah hidup yang menerpanya tiada henti.

Pria paruh baya ini sangat frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya...

Dia menjumpai Sang Guru spiritual untuk mengutarakan maksudnya.

Pria : "Guru saya tidak tahan lagi... Saya ingin segera mengakhiri semuanya. Saya ingin mati".

Sang Guru : "Sebenarnya kamu ini sedang sakit. Mari saya obati biar sembuh..."

Pria : "Tidak, saya tidak sakit. Saya sehat walafiat. Saya tidak tahan lagi dengan semua penderitaan ini. Akhirnya saya menderita insomnia. Mohon perkenankan diriku untuk mati.."

Guru : "Kamu menderita penyakit alergi, alergi kehidupan. Mari saya obati biar sembuh..."

Pria : "Tidak Guru, saya ingin matiiii... Jangan halangi niat ini Guru..."

Guru : "Baiklah, jika itu maumu. Saya akan memberikan sebuah botol yang berisi racun. Jika kamu minum, tiga hari kemudian kamu bakal meninggal. Sekarang pulanglah..."

Pria tersebut meninggalkan Sang Guru dengan hati riang. Tidak ingin berlama-lama lagi, dia berhenti di tengah jalan, lalu menghabiskan isi botol tersebut hingga tetes terakhir.

Sesampainya di rumah, pria tersebut mulai merenung..

"Tiga hari lagi, saya akan segera mati. Saya harus melayani diriku sebaik-baiknya dengan hati riang gembira. Sebelum mati saya juga akan menyenangkan hati keluarga besarku, anak isteriku dan rekan bisnisku, bahkan kepada siapapun yang saya jumpai. Waktu saya tinggal sedikit lagi", pria tersebut berkata di dalam hatinya.

Alhasil, sepanjang sore ini hingga hingga tiga hari kedepan, pria tersebut benar-benar melaksanakan semua yang telah dia tekadkan untuk menghibur dan menyenangkan hatinya.

Dia menelepon satu persatu keluarga besarnya setelah menurunkan gengsi dan keegoan, membelikan makan malam untuk dinikmati semua anggota keluarga, menelepon dan bercanda gurau dengan rekan bisnisnya yang selama ini selalu dia hindari, mencium dan memeluk sang isteri sebelum tidur, memberikan senyum termanis kepada tetangga dan orang-orang yang dijumpai di jalan, hingga membantu menyeberangkan seorang nenek tua ke seberang jalan.

Perilaku ini berubah 180 derajat, dibandingkan kebiasaan buruknya dulu, akhirnya menimbulkan kesan yang positif bagi orang lain. Semuanya berbalik menaruh simpati dan hormat kepadanya.

Keluarga besarnya menjadi "lunak" dan menunjukkan sikap bersahabat, rekan bisnisnya tidak lagi membicarakan hutang sebaliknya malah menawarkan tawaran modal untuknya memulai bisnis baru, hingga anak isterinya yang berubah menjadi lebih peduli dan semakin sayang kepadanya.

Padahal, dulunya pria ini adalah seorang yang keras kepala, gengsian, mau menang sendiri dan egois, tidak ramah dan selalu berpikiran buruk terhadap orang lain.

Setelah tiga hari, menjelang "kematiannya", pria tadi kembali menjumpai Sang Guru untuk menceritakan semua yang telah dilakukan sebelum ajalnya tiba.

Sang Guru : "Bagaimana perasaan kamu sekarang? Tenang, senang dan bahagia? Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah mereka berubah menjadi baik?"

Pria : "Benar sekali Guru, hatiku plong, tenang, damai dan penuh kegembiraan. Orang-orang sekelilingku juga berubah menjadi baik. Sepertinya mereka tahu, saya bakal mati hari ini?"

Sang Guru : "Pulanglah... Tetap lakukan seperti yang kamu kerjakan selama tiga hari belakangan ini. Jangan pernah mengurangi kadarnya sedikitpun. Kamu sudah sembuh..."

Pria : "Sebenarnya sekarang ini saya menyesal telah meneggak racun yang Guru berikan. Saat ini saya begitu menikmati kebahagiaan yang tiada taranya. Ingin sekali merasakan kedamaian hati ini selamanya..."

Sang Guru : "Kamu tidak akan mati... Isi botol yang kamu anggap racun, sebenarnya hanyalah air biasa saja. Pulanglah...."

Akhirnya pria setengah baya itu pulang dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Mulai sejak itu, dia berubah menjadi baik dan dihormati oleh orang sekelilingnya.
_____________________________

Apabila kita hidup dalam kekinian dan menyadari bahwa malaikat maut akan menjemput kapan dan dimana saja tanpa pemberitahuan, maka kita akan dapat menikmati setiap detik kehidupan dalam suasana damai, tenteram dan bahagia.

Oleh karena itu, marilah kita segera mencairkan keegoan diri, kesombongan dan sikap angkuh, pemarah dan tidak percaya diri dalam tutur bahasa yang sopan dan tidak menyakitkan pribadi yang lain.

Hiduplah selembut hembusan angin sepoi-sepoi yang akan selalu dinanti-nantikan kehadirannya.

Selamat menikmati indahnya fenomena Gerhana Matahari Total yang sangat langka, sobatku, dimanapun Anda berada...

Selamat merayakan Hari Raya Nyepi bagi yang sobatku yang merayakannya.
Semoga Tuhan memberkati setiap langkah hidup kita...
Amin...

(Salam Kebahagiaan - Salam UFO) by Firman Bossini