Hentikanlah Kebiasaan Untuk Mencela Anak

Hentikanlah Kebiasaan Untuk Mencela Anak - Seorang pengusaha restoran yang memiliki banyak gerai cabang di berbagai kota, bernama Polo merupakan salah satu tipikal manusia sukses yang menjadi panutan banyak orang, terutama dalam urusan mencari sesuap nasi.

Dengan memanfaatkan kemampuannya dalam berbisnis, Polo berhasil memperoleh penghasilan tinggi, memiliki rumah mewah dan beberapa mobil keluaran terbaru, lengkap dengan supir yang diperuntukkan bagi isteri pergi berbelanja dan anak-anaknya pergi ke sekolah atau les.

Ketampanan dan tubuh yang cukup atletis bagaikan olahragawan, didampingi isteri cantik dan tinggi semampai bagaikan artis, membuatnya memiliki banyak penggemar tersembunyi.

Namun, dibalik semua keunggulan dan kehebatannya, ternyata Polo memiliki masalah psikis yang cukup mengganggu. Saat sedang berbicara, suaranya terdengar lirih, perlahan dan sedikit terbata-bata. Kondisi ini diperparah lagi, saat Polo menghadapi tekanan pikiran atau saat ditanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, maka suara gagapnya akan muncul.

Semua karyawan atau teman berbicaranya sering kesulitan untuk menangkap maksud dari ucapan Polo. Mereka seringkali mencoba menebak-nebak arah pembicaraan bossnya.

Mereka enggan meminta Polo untuk mengulangi ucapannya, karena dikhawatirkan dapat menyinggung perasaan dan malah membuat Polo semakin tertekan. Demikian juga dengan teman-teman Polo, mereka sudah terbiasa dengan situasi demikian.

Ketika ditelusuri lebih lanjut, ternyata "penyakit" Polo, bersumber dari perlakuan kurang baik yang sering diterimanya semasa kecil hingga masuk di bangku sekolah.

Di masa kecilnya, Polo selalu mendapat ejekan, celaan dan kalimat-kalimat yang bernada minor dari kedua orang tuanya.

Saat melakukan kesalahan kecil, sang ayah sering mengucapkan : "Kok bodoh kali dirimu. Lihat saja si anu, usia segini sudah bisa begini...."

Saat Polo tidak mau atau tidak sanggup melakukan sesuatu yang diminta ibunya, seringkali sang ibu memakinya : "Kok gitu aja gak bisa? Dasar anak tolol, kamu ini bukan anakku. Kamu ini saya pungut dari tempat sampah..."

Saat Polo hendak mengucapkan sesuatu, ibunya selalu memotong ucapan dari mulut Polo, sehingga kata yang paling sering keluar dari mulut Polo adalah kata : "Eeee.... eeee.... eeee..." Inilah cikal bakal terciptanya suara gagap dalam diri Polo.

Tanpa disadari kedua orang tuanya, Polo tumbuh menjadi anak yang berjiwa pemalu, rendah diri dan tertekan saat berhadapan dengan orang lain.

Celaan dan nada-nada sumbang yang keluar dari mulut kedua orang tuanya, membekas dalam benaknya dan terus bersemayam dalam sanubarimya.

Saat duduk di bangku sekolah, beberapa temannya selalu mengejek Polo, dengan meniru gaya dan mimik berbicaranya yang gagap. Ini tentunya semakin menambah parah kondisi kejiwaan Polo.

Walaupun mendapat warisan harta melimpah dari kedua orang tuanya, namun Polo tetaplah menjadi manusia "kerdil" dan "hina" di matanya sendiri.

Saat ini, Polo sedang berusaha mengembalikan "kenormalan jiwanya" melalui upaya terapi kejiwaan di salah satu klinik terkenal di kotanya. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah...

Selain memerlukan waktu, tenaga dan tekad yang kuat dari dalam diri Polo, hal ini juga harus didukung oleh orang-orang sekelilingnya.

Inilah akibat ketidaktahuan orang tua, saat mendidik anak-anaknya. Tanpa disadari, setiap celanaan dan hinaan dapat menjerumuskan buah hatinya menjadi seorang pemalu, minder dan gagap.

Berhentilah untuk memojokkan dan mencela anak kita, generasi penerus harapan bangsa.

(Salam Pengharapan - Salam UFO) by Firman Bossini