Hadiah Untuk Mama dari Pengorbanan Seorang Anak

Hadiah Untuk Mama dari Pengorbanan Seorang Anak Sambungan Dari
Perihnya Luka, Tidak Seperti Hati Yang Melangsa ( Part 2 ) - Sinar pagi bersinar terik,
menembus lubang-lubang kecil,
melalui dinding berdaun nipah,
masuk hingga ke dalam rumah yang beralaskan tanah.

Seorang anak kecil berusia sembilan tahun, sedang bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Sang Mama berada di dapur, menyiapkan bekal sarapan dan makan siang buat permata hatinya.

Mereka melakukan rutinitas sehari-hari dalam suasana hati riang, karena Sang Mama, Isabella selalu mengajarkan kepada Gundala, putera satu-satunya untuk selalu tersenyum dengan mimik wajah gembira, kepada siapapun yang dia jumpai, selalu menghormati orang tua dan yang paling utama tidak boleh bersedih.

Isabella sudah merasakan begitu banyak lika-liku kegetiran hidup, tidak ingin Gundala turut merasakannya.

Gundala : "Mamaaa, Gundala sudah siap nih... Mau cepat-cepat ke sekolah, takut terlambat..."

Isabella segera menuju ke pintu depan menjumpai Gundala sudah selesai mengenakan sepatu bututnya yang robek di bagian depannya, memperlihatkan sedikit ujung jari jempolnya.

Isabella : "Hati-hati di jalan yah... Kamu harus rajin belajar, jujur, selalu mendengarkan nasihat guru, jangan berkelahi dan harus menolong orang yang memerlukan pertolongan. Tetap semangat, anakku..."

Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Gundala kerap mendapat nasehat yang sama berulang-ulang. Gundala mengangguk dan mencium punggung telapak tangan Sang Mama, dibarengi dengan sebuah usapan lembut di rambut oleh Isabella.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepatnya...
Sembilan tahun telah berlalu...

Sejak Gundala menderita sakit keras, Isabella menjadi sangat peduli dengan pertumbuhan tubuh dan kesehatan Gundala. Setiap hari dia memasak makanan bergizi, dengan lauk sederhana dan harganya tidak mahal.

Isabella juga rajin menanam tanaman hijau. Setiap pagi sebelum bekerja dan setiap sore menjelang malam, dia selalu menyirami tanaman tersebut. Tidak jarang Gundala turut membantu mencabut rumput liar.

Gundala tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas dan berakhlak yang baik. Semua tetangganya sangat menyayangi Gundala.

Gundala sayang sekali kepada Sang Mama. Setiap hari libur, di saat Isabella tidak bekerja, Gundala sering mengajak Sang Mama berekreasi ke danau, tepian sungai maupun taman.

Tidak pernah sekalipun Gundala merengek minta dibelikan mainan ataupun cemilan. Dari rumah, Isabella selalu meyiapkan makanan kecil dan minuman pelepas dahaga.

Pernah suatu ketika, ketika melewati sebuah toko emas, Isabella melihat seuntai kalung emas yang bertuliskan huruf "GAIS". Isabella langsung teringat dengan mantan kekasihnya, Sammy, ayah dari Gundala.

Dia menganggap "GAIS" itu adalah kepanjangan dari "Gundala Anak Isabella Sammy", padahal GAIS itu adalah nama perusahaan pembuat kalung tersebut.

Gundala melihat keseriusan Sang Mama mengamati, menyentuh, menimang-nimang dan mencoba melilitkan kalung emas tersebut ke lehernya. Kelihatan begitu anggun mempesona, tulisan GAIS itu begitu nyata dan berkilau.

Isabella menanyakan harga kalung idamannya. Setelah diberitahu harganya, seketika Isabella mengurungkan niatnya tersebut, sebab harganya lumayan mahal.

Menurutnya, kalung itu tidak begitu penting, jika uang tabungannya dibelikan kalung, Isabella khawatir jika sewaktu-waktu ada keperluan lain, malah akan menjadi menimbulkan kesulitan baru.

Mereka pulang ke rumah dengan tangan hampa.

Sesampainya di rumah, Gundala melihat Sang Mama lebih sering termenung, tidak seperti biasanya.

Gundala berkata dalam hati : "Mama sedih karena tidak sanggup membeli kalung emas tadi. Saya harus berupaya untuk membelinya. Saya tidak ingin Mama larut dalam kesedihan. Saya sayang sekali kepada Mama. Papa entah ada dimana...?"

Malamnya Gundala bersujud memohon petunjuk dari-Nya dalam uraian air mata, hingga tertidur di atas lantai tanah yang beralaskan plastik.

Keesokan harinya, sepulangnya dari sekolah, Gundala menjumpai pemilik toko. Pemilik toko mengenalnya, ibunda anak ini, yang kemarin berkunjung ke tokonya dan tidak jadi membeli kalung emas. Gundala mengutarakan niatnya untuk membeli kalung emas tersebut.

Gundala : "Saya ingin membeli kalung itu, tapi tidak sekarang. Bolehkah saya membelinya dua bulan lagi? Kebetulan saat itu berdekatan dengan ulang tahun mamaku..."

Pemilik toko tersebut hanya mengangguk-angguk saja mendengar permintaan Gundala. Tidak begitu mempedulikan ucapan seorang anak kecil.

Selama dua bulan ini, Gundala tidak pernah jajan, berangkat ke sekolah berjalan kaki, tidak menggunakan angkot, walau dengan beralaskan pelepah pisang yang dibuat berbentuk sandal, untuk menghindarkan kerusakan sepatu sekolahnya, jika berjalan terlalu jauh.

Sepulangnya sekolah, Gundala menyambi menjadi loper koran dan tukang semir sepatu. Sering juga membantu mencuci piring di sebuah rumah makan. Semua pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, demi sebuah kalung emas.

Besok adalah ulang tahun Sang Mama...

Gundala segera menuju ke toko emas dengan membawa sejumlah uang hasil jerih payahnya selama ini.

Sang pemilik toko terkejut dan tidak menyangka Gundala akan kembali ke tokonya, menepati janjinya membeli kalung emas.

Pemilik toko bertanya, darimana Gundala memperoleh uang yang tidak sedikit jumlahnya. Gundala menceritakan semuanya sejelas-jelasnya.

Pemilik toko sangat terharu dan tidak menyangka anak seusia Gundala dapat melakukan hal yang luar biasa. Beliau hendak memberikan potongan harga, namun Gundala menolak, karena tidak ingin dikasihani.

Bahkan Gundala memberikan uang lebih sebagai jasa "bunga" menyimpan dan tidak menjual kalung tersebut kepada pembeli lain.

Prinsip hidup yang luar biasa...

Gundala pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Dia membayangkan Sang Mama akan senang sekali menerima hadiah yang sangat diimpikan sepanjang hidupnya.

Keesokan harinya, sebelum Sang Mama, Isabella bangun, Gundala berjalan ke kamar tidur ibunya, memberikan sebuah ciuman hangat dan memeluk tubuh kurus Sang Mama.

Isabella terkejut dan bangun dari lelapnya, sambil berkata : "Ada apa Gundala?"

Gundala : "Hari ini adalah hari ulang tahun Mama, saya ingin memberikan hadiah kejutan buat Mama..."

Gundala menyerahkan sebuah bungkusan kado kecil. Isabella menerima dan membukanya dengan sangat hati-hati, takut merusak bungkusan kado yang indah.

Alangkah terkejutnya Isabella melihat sebuah kalung emas bertuliskan "GAIS". Dia merasa sangat terharu dan gembira bukan kepalang.

Namun, seketika dia berpikir, darimana Gundala mendapatkan uang untuk membeli kalung emas yang mahal itu. Jangan-jangan Gundala berbuat tidak baik, merampok, mencuri atau memeras orang lain.

Dengan muka sedikit memerah, Isabella bertanya kepada Gundala : "Anakku... Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?"

Gundala diam saja...

Isabella bertanya kembali : "Coba jawab sejujurnya, dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli kalung emas ini?"

Gundala tetap diam...
Dia tidak ingin Sang Mama mengetahui aktifitasnya mencari uang. Gundala takut Sang Mama merasa sedih, takut dianggap melalaikan pelajaran sekolahnya.

Isabella mulai menunjukkan amarahnya : "Gundalaaa... Kamu mencuri? Benarkah? Setiap hari Mama selalu menasehati kamu agar menjadi anak yang baik, mengapa kamu melanggarnya? Walaupun kita miskin, kita tidak boleh berbuat jahat.. Mama kesal dan marah sekali...!!!!"

Gundala tidak bergeming dan tetap diam membisu...

Dengan emosi, Isabella mengambil sebuah rotan, lalu menghantamkannya ke pantat dan kedua kaki Gundala.

Gundala tidak berteriak, hanya suara isak tangis tertahan yang muncul dari mulutnya yang mungil.

Sebenarnya, Isabella juga tidak mau menghukum Gundala, namun dia berpikir, inilah jalan satu-satunya untuk mendidik dan memberi pelajaran kepada Gundala. Hati Isabella sangat perih...

Tetangga berhamburan keluar ke rumah Isabella setelah mendengar suara teriakan Isabella dan suara pukulan yang bertubi-tubi.

Mereka sangat sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa...

Namun, tiba-tiba muncul seseorang yang menahan tangan Isabella... Dia adalah pemilik toko emas... Isabellla mengenalnya. Beliau memang berniat mengunjungi rumah Gundala untuk memberika sebuah sepeda bekas yang sudah tidak digunakan anak-anaknya.

Sang pemilik toko hendak menjelaskan bahwa Gundala tidak melakukan perbuatan jahat, namun sebaliknya malah mengorbankan rasa sakit dan lelah di tubuh kecilnya, demi sebuah barang impian mamanya.

Gundala berlari ke arah pemilik toko, memohon untuk tidak menceritakan apapun, berlutut di atas lantai meminta agar pemilik toko jangan mengatakan hal yang sebenarnya kepada mamanya. Biarlah dia sendiri yang menanggung semuanya.

Pemilik toko mengelus kepala Gundala sambil berkata : "Anak yang baik... Kamu tidak boleh berbohong... Tidak boleh menyembunyikan sesuatu rahasia dari mamamu. Ketahuilah, mamamu sangat menyayangi dan mencintai dirimu. Kamu harus jujur kepada mamamu..."

Gundala menangis dalam pelukan pemilik toko.

Setelah mendapatkan penjelasan seutuhnya dari pemilik toko, Isabella tidak dapat menahan tangisnya.

Di bawah tatapan belasan orang yang datang ke rumahnya, Isabella memeluk tubuh belahan jiwanya seerat-eratnya. Dia sangat menyesal telah menuduh Gundala berbuat jahat, terlebih lagi, telah menghujani tubuh Gundala dengan rotan yang menimbulkan bekas bilur-bilur merah di pantat dan kaki Gundala.

Isabella : "Maafkan Mama, anakku yang sangat berbakti..."

Gundala : "Mama tidak salah... Gundala yang salah, Ma..."

Sambil terisak, Isabella menyanyikan sebuah lagu yang biasa dinyanyikannya untuk Gundala sebelum tidur.
Gundala turut mengeluarkan melodi suara lirih, ikut bernyanyi bersama Sang Bunda tercinta...

"Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku"



(Bersambung ke Part 4) by Firman Bossini