Ahok dan Soe Hok Gie, Pejuang Pemikir Yang Tidak Pernah Mengenal Rasa Takut ( Part 4 )

Ahok dan Soe Hok Gie, Pejuang Pemikir Yang Tidak Pernah Mengenal Rasa Takut ( Sambungan dari Persahabatan Soe Hok Gie dan Prabowo Sugianto ) - “Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah” (Soe Hok Gie)

Ahok “Sang Pendobrak” dari Negeri Laskar Pelangi, Bangka, pernah mengalami masa-masa kelam dalam perjalanan hidupnya. Usahanya ditutup gara-gara keberaniannya melawan arogansi dan kesewenang-wenangan pejabat pemerintah.

Akibatnya, Ahok sempat kecewa dan berniat meninggalkan Indonesia untuk menetap di luar negeri. Tapi sang ayah, Kim Nam, melarangnya dan memberi petuah : “Jika tidak setuju terhadap ‘sesuatu’ maka ubahlah, jangan lari. Orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan lawan pejabat".

Menurut Kim Nam, tidak mungkin ada orang yang paling kaya seduniapun yang sanggup menolong semua rakyat miskin menjadi kaya. Sehebat dan sedermawan apapun orang kaya menolong orang miskin pasti tetap punya keterbatasan dan hambatan.

Menurutnya, para pejabat pemegang kebijakanlah yang seharusnya mampu menolong orang miskin secara nyata.

Sang ayah memberikan sebuah ilustrasi sederhana, jika orang kaya yang dermawan ingin membagikan uang 1 milyar kepada orang miskin masing-masing 500.000 rupiah, maka uang tersebut hanya cukup untuk 2000 orang. Tapi jika uang 1 milyar tersebut digunakan untuk berpolitik, dapat dibayangkan berapa jumlah uang APBD yang bisa dikuasai dan digunakan untuk menolong orang miskin.

Nasehat yang begitu nyata dan bermakna membuat seorang Ahok tersadar dan bangun dari tidur lelahnya menghadapi ketidakadilan. Nasehat dari ayahnya begitu membekas hingga kini.

Nasehat ayahnya tentang ilustrasi APBD benar-benar telah menginspirasi dan menyadarkan Ahok untuk terjun ke dunia politik. Pengalaman hidupnya yang pahit ketika melawan kesewenang-wenangan pejabat serta keinginannya untuk membantu rakyat miskin dalam skala yang lebih besar semakin memantapkan langkah Ahok masuk ke dunia politik.

Selain nasehat ayahnya yang penuh inspirasi, dalam berpolitik Ahok juga sangat memegang teguh kata-kata seorang pejuang Sulawesi, Sam Ratulangi,”Hidup untuk menghidupkan manusia lain. Hidup untuk memanusiakan manusia lainnya”.

Selain pemikiran Sam Ratulangi, pemikiran Soe Hok Gie yang fenomenal sebagai tokoh gerakan perubahan juga menginspirasi Ahok untuk berkiprah di dunia politik.

Menurut Soe Hok Gie : "Politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”.

Kini, Ahok benar-benar bisa merasakan langsung betapa kotornya perpolitikan di negeri ini. Ahok menyadari bahwa dalam politik : “Tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”.

Dan, kepentingan abadi yang dimiliki Ahok adalah mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Cita-cita besar nan mulia yang hingga akhir hayatnya belum bisa diwujudkan oleh seorang Soe Hok Gie karena terlebih dahulu dipanggil Sang Khaliq di usia teramat muda.

Ahok terjun ke dunia politik dengan alasan yang amat berbeda dengan politisi lainnya. Jika sebagian besar politisi di negeri ini lebih memilih berjuang untuk kepentingan diri dan kelompoknya, maka Ahok memilih jalan berbeda. Ahok berjuang untuk kepentingan rakyat...!!!

Belakangan ini, Ahok bahkan berani mengabaikan jalur parpol untuk menghadapi Pilkada DKI Jakarta 2017, dan malah bersekutu dengan "Teman Ahok", kelompok relawan pendukung Ahok dalam mengusung dirinya sebagai calon gubernur dari jalur independen.

Bagi Ahok politik adalah jalan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Raya, mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Kisah perjuangan Ahok hampir mirip dengan kisah pergulatan hidup Soe Hok Gie. Sama-sama dilahirkan dari keturunan Tionghoa, sama-sama berjuang penuh dengan cucuran keringat, dalam mewujudkan pemerataan yang berkeadilan bagi rakyatnya.

Simaklah sepenggal puisi karya Soe Hok Gie yang hinggá kini masih tetap fenomenal dan menjadi inspirasi perubahan.

Hidup adalah soal keberanian…
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah…

Meskipun raganya telah terlelap dalam pelukan bumi dan abunya telah menyelimuti alam Pangrango, tapi hingga kini semangat dan cita-cita Soe Hok Gie untuk mewujudkan kejayaan Indonesia, tak akan pernah mati.

Soe Hok Gie menjadi simbol perlawanan para reformis idealis yang menentang kemunafikan para politisi dan pejabat oportunis. Banyak kata-kata dan pemikiran Soe Hok Gie yang tetap tumbuh subur dan gak ada matinya.

“Lebih baik diasingkan daripada tunduk dan menyerah pada kemunafikan”.

Kini, ketika rakyat merindukan sosok Soe Hok Gie yang pemberani dalam membela kebenaran dan kepentingan “wong cilik”, muncullah sosok seorang Ahok dengan karakter dan sosok yang hampir mirip dengan Soe Hok Gie.

Meskipun badai dan rintangan selalu menghadang, baik Soe Hok Gie maupun Ahok rela menjadi "tumbal" demi terwujudnya cita-cita Indonesia Raya.

“Jika kepala lurus, bawahan tidak berani tidak lurus” (Ahok).

(Bersambung ke Part 5) by Firman Bossini