Suspended Coffee dan Makanan Untuk Sesama ( MUS )

Suspended Coffee dan Makanan Untuk Sesama ( MUS ) - Pada dasarnya, semua manusia pasti memiliki hati nurani untuk menolong sesama.

Yang membedakan, hanyalah target tujuan yang ingin dibantu, apakah berdasarkan kriteria yang memiliki kesamaan suku, agama, golongan maupun warna kulit.

Atau sebaliknya membantu sesama tanpa memandang perbedaan yang ada karena menganggap semua manusia itu pada dasarnya adalah sama.

Saya pernah mendengar celoteh seorang teman yang menceritakan pengalamannya mengenai "suspended coffee" atau "kopi yang ditangguhkan".

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya menjadi sedikit bias dan agak ganjil.

Menurut saya, mungkin lebih cocok disebut "coffee sharing".

Tapi apapun istilahnya, yang paling penting adalah tujuan utamanya untuk menyebarkan virus kebaikan dan kasih sayang kepada siapapun tanpa pamrih.

Apakah maksud dari "suspended coffee"?

Ilustrasinya adalah sebagai berikut :

Ketika kita hendak memesan dua gelas kopi, seharusnya kita cuma membayar seharga dua gelas. Namun, ternyata kita membayar bon seharga tiga gelas kopi. Satu gelas kopi yang tidak dinikmati akan kita sampaikan kepada kasir sebagai "suspended coffee".

Singkatnya : Seseorang membayar di muka, pesanan kopinya, kemudian diniatkan untuk membantu seseorang yang tidak memiliki uang membeli minuman hangat (kopi).

Tradisi "suspended coffee" ini dimulai di Naples (kota Napoli), Italia dan sekarang telah menyebar ke seluruh dunia.

Suspended coffee merupakan bentuk tindakan kemanusian yang dapat dilakukan oleh siapapun dalam skala yang sangat sederhana, dan tentunya sesuai dengan isi kantong.

Umumnya yang menggunakan fasilitas "suspended coffee" adalah para tunawisma, gelandangan dan kalangan tidak mampu.

Alangkah indahnya, bila setiap pemilik gerai kopi atau toko makanan di manapun berada, berniat melakukan kebijakan kemanusiaan yang maha mulia ini.

Di Indonesia, menurutku lebih tepat jika diberi istilah baru yaitu "Makanan Untuk Sesama (MUS)".

MUS ini mirip dengan "suspended coffee", namun lebih ditujukan kepada aktifitas "pemberian makanan".

Ide MUS sama dengan "suspended coffee" yaitu memberikan makanan yang telah dibayarkan oleh orang lain, kepada para kaum dhuafa yang benar-benar tidak memiliki kesanggupan untuk membeli sebungkus makanan.

Mereka yang membutuhkan makanan, cukup melangkahkan kakinya menuju gerai atau toko yang menuliskan pengumuman "Tersedia Makanan Untuk Sesama (MUS)", lalu masuk memberitahu pegawai toko dan dapat mengambil makanan yang "masih" tersedia.

Jika Anda adalah pemilik bisnis makanan, silakan coba menawarkan konsep MUS ini kepada para konsumen.

Saya haqul yakin dan percaya, konsep ini pasti akan didukung oleh mereka. Dan Anda telah menyediakan ruang bagi sesama untuk berbuat kebaikan.

Sungguh indah didengar, tatkala kita sedang membeli makanan terdengar kalimat : "Mas, saya pesan lima bungkus, tiga bungkus untuk MUS yah".

“Berilah makan yang lapar, kunjungi yang sakit dan bebaskanlah budak”
(HR. Bukhori)

Azan telah berkumandang...

(Salam "Makanan Untuk Sesama" - Salam MUS) by Firman Bossini