Sombong dan Jumawa

Sombong dan Jumawa - Sekelompok monyet tinggal di sebuah hutan lebat, dekat dengan sebuah air terjun yang jernih dan indah pemandangannya. Hutan tersebut dipenuhi oleh tumbuhan yang rindang dan berbuah banyak.

Kawanan monyet tersebut bergelantungan dari satu dahan ke dahan lain dengan sangat lincah. Seakan-akan memamerkan kemampuan akrobatik yang luar biasa hebatnya.

Mereka menikmati permainan ini dengan suara pekikan yang saling sahut menyahut. Buah-buahan yang bergelantungan menjadi penangkal rasa lapar tatkala perut dilanda keroncongan.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara derap kaki kuda yang menandakan adanya kehadiran orang asing.
Deru suara semakin lama semakin jelas terdengar...

Akhirnya terlihat dengan jelas oleh kawanan monyet, bahwa tempat tinggal mereka sedang didatangi oleh serdadu kerajaan yang dipimpin langsung oleh Sang Raja Bimasakti.

Raja Bimasakti sedang menikmati perjalanan bertamasya menyusuri jalan-jalan yang jarang dilalui oleh orang. Beliau sangat senang melihat pemandangan serta keindahan gunung dan hutan belantara.
Monyet-monyet yang sedang bergelantungan di atas pohon menjadi sangat ketakutan dan berlarian kocar-kacir untuk menghindari kontak dengan manusia. Bersembunyi naik lebih tinggi ke arah gunung.

Diantara kawanan monyet tersebut, ada seekor monyet yang tidak ikut berlari dan tetap berada di tempat.

Sesekali dia memegang telinganya sambil menjulurkan lidah, kemudian menari dan melompat-lompat, sepertinya tidak peduli dengan keberadaan Raja Bimasakti dan para serdadu kerajaan.

Monyet tersebut senang sekali memamerkan kelincahannya dan amat mengganggu pemandangan. Para serdadu berusaha menghalau dan mengusir monyet nakal tersebut. Bukannya menghindar, monyet tersebut bertambah semangat untuk mengejek Sang Raja. Hal ini menimbulkan kemarahan dari Raja Bimasakti.

Sang penguasa negeri segera menarik busur panahnya. Monyet ini sama sekali tidak takut dan terkesan menantang Sang Raja. Beberapa anak panah yang melesat ke arahnya berhasil ditangkap dengan sempurna.

Merasa tertantang, Raja Bimasakti segera memerintahkan para serdadu kerajaan untuk mengejar dan memanah monyet itu dari berbagai arah.

Akhirnya salah satu anak panah berhasil menembus jantung hingga ke punggungnya. Monyet yang sombong tadi tewas dengan sangat tragis.

Raja Bimasakti berkata kepada para serdadunya, "Monyet ini adalah seekor monyet yang sangat sombong dan suka memamerkan diri, ingin mempertunjukkan kelincahannya, dengan mempertaruhkan hidupnya. Kejadian ini sangat menyedihkanku. Wahai serdaduku semua, jangan meniru monyet ini yang suka memerkan kebolehannya di depan orang, karena tidak setimpal dengan taruhan nyawanya".

_____________________________
Sobatku yang budiman...
Petuah yang ingin disampaikan dalam cerita ini adalah :
(1) Jika memiliki sedikit kemampuan atau keterampilan dibandingkan yang lain, janganlah kita menjadi jumawa, sombong dan suka memamerkan kepintarannya.
(2) Orang yang bijak selalu rendah hati dan menghindari kebiasaan buruk untuk memamerkan kelebihannya kepada orang lain, seperti yang dilakukan salah seorang kandidat calon Gubernur DKI Jakarta yang bergelar S3, yang dengan sembarangan menganalisa hasil survey untuk menjatuhkan rivalnya.

(Salam Pencerahan - Salam UFO) by Firman Bossini