Sepucuk Surat Dari Anak Yang Tidak Diharapkan

Sepucuk Surat Dari Anak Yang Tidak Diharapkan - Buat Bundaku tersayang...

Bagaimana kabar Bunda saat ini?
Semoga Bunda baik-baik saja dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa...
Aku juga baik-baik saja Bunda... Semua penghuni di sini baik banget sama aku, karena aku adalah sosok yang paling muda di antara mereka semua.

Tuhan juga sayang sekali sama diriku. Beliau membimbingku dan melindungiku dari godaan makhluk jahat yang bernama setan dan iblis.

Tuhan tahu betapa aku sangat merindukan diri seorang Bunda...
Oleh karenanya Tuhan menyuruhku menuliskan sepucuk surat untuk Bunda, sebagai tanda aku sangat mendambakan Bunda.

Tidak ada yang dapat menggantikan rasa cintaku kepada Bunda. Benar-benar tidak ada Bundaaa...

Walau kadang sepi menghadang, namun aku tidak ingin bersedih terlalu dalam dengan keadaanku yang belum sempurna.

Aku berterimakasih kepada Bunda yang merelakan rahim Bunda untuk aku huni, walaupun hanya sesaat, hanya seumur jagung.

Bunda, sejujurnya, aku ingin sekali berlama-lama berada dalam ruangan yang paling mulia dan paling aman di dunia...

Aku ingin sekali merasakan kembali bagaimana Bunda menyulangiku setiap saat di kala diriku sedang kehausan atau kelaparan melalui "tali kehidupan" yang melekat di pusat perut Bunda.

Namun ternyata...

Bunda sama sekali tidak menginginkan kehadiran diriku dalam kehidupan Bunda.

Bunda merasa keberatan menjaga dan melindungi diriku hingga aku berwujud sempurna setelah 9 bulan bersama dengan detak jantung Bunda.

Aku harus rela serela-relanya menerima keputusan yang Bunda buat dengan menukar kehidupanku demi segenggam kebahagiaan Bunda.

Saat Bunda melepaskan, meluruhkan dan membuang diriku, aku merasakan sakit yang begitu nyata, sekujur tubuhku serasa dicabik-cabik oleh gigitan taring super kuat dari binatang buas...

Bergumpal-gumpal darah yang menurut banyak orang sebagai hal yang menjijikkan berhasil keluar dari rahim Bunda, membuatku meraung-raung kesakitan. Aku merasa bagaikan seonggok sampah yang tidak dihargai dan tidak diinginkan...

Sebenarnya daku tidak pernah mau lagi menangisi takdir pilu yang harus kualami, yang bukan merupakan kesalahanku. Air mataku sudah kering di saat awal ketibaanku di sini. Deraian air mataku tidak akan pernah mengubah nasibku menjadi sosok bayi yang sempurna. Tidak akan pernah lagi...!

Aku selalu berpikir postif, bahwa dengan meluruhnya diriku dari rahim Bunda, akan mengantarkanku untuk secepatnya bertemu dengan Tuhan Yang Pengasih dan Maha Penyayang. Aku selalu dirawat dan dimanja oleh para malaikat yang sangat cantik di dalam surga-Nya.

Pernah suatu ketika, di saat diriku berada dalam pangkuan kakak Malaikat yang begitu sayang kepadaku, aku menangis dan bertanya, "Mengapa Bunda membuangku saat diriku masih belum sempurna, padahal aku sangat nyaman berada di dalam tubuh Bunda? Mengapa Bunda tega membiarkanku terpisah dari Bunda dan membiarkanku hidup sendirian dalam sepi dan hening?"

Aku terus meracau menumpahkan semua keluh kesahku kepada kakak Malaikat yang begitu sabar mendengar.

Aku melanjutkan lagi : "Apakah Bunda tidak sayang kepadaku. Apakah Bunda takut di kemudian hari aku bakal merepotkan diri Bunda? Tidak Bundaa... Saya berjanji akan menjadi anak baik dan tidak rewel. Saya berjanji tidak akan marah jika Bunda menghukum diriku atau bahkan memukulku, jika aku sampai membuat Bunda kesal. Bundaaaa......aku kangennnn...."

Aku tidak mampu lagi membendung sisa-sisa air mata yang mengalir membasahi pakaian putih kakak Malaikat.

Kakak Malaikat mengelus tubuhku sambil berkata : "Sebenarnya Ibu kamu merasa malu, adikku yang malang..."

Aku heran, "Mengapa Ibu harus malu?"

Kakak Malaikat : "Karena kamu adalah anak haram, anak yang terlahir dari buah kasih yang terlarang".

Aku : "Anak haram? Apa maksudnya anak haram? Bukanlah semua orang terlahir sebagai makhluk polos nan suci?"

Kakak Malaikat : "Anak haram adalah anak yang dilahirkan tanpa ayah..."

Aku : "Diriku terbentuk dari sel sperma ayah dan sel telur dari ibu. Mengapa dibilang dilahirkan tanpa ayah? Atau barangkali ayah tidak mau mengakui diriku sebagai darah dagingnya?"

Kakak Malaikat : "Benar sekali adikku yang pintar... Dirimu hadir dalam cerita cinta tanpa ikatan pernikahan yang sah. Hal itulah yang membuat Ayah dan Ibumu tidak menginginkan dirimu lahir di dunia..."

Aku : "Mengapa Ayah dan Bunda tidak mengikatkan diri dalam ikatan pernikahan yang sah terlebih dahulu sebelum membentuk diriku?"

Kakak Malaikat : "Itulah dosa yang paling sering diperbuat oleh sepasang sejoli yang sedang dimabuk kasmaran. Mereka melupakan apa itu dosa, perbuatan yang paling dibenci Tuhan. Mereka terlalu dibuai oleh hasrat asmara yang dikendalikan oleh para setan dan iblis jahat".

Aku terdiam membisu setelah mendengar penjelasan dari kakak Malaikat.

Bunda, aku ingin mengadu...

Aku sebenarnya merasa sangat iri dengan semua bayi yang terlahir sempurna dalam kehidupan keluarga yang harmonis.

Impianku hanyalah ingin berjumpa dengan Ayah dan Bunda...

Bertobatlah dan memohon ampun kepada Tuhan...

Tuhan itu Maha Baik dan Maha Pengampun...

Aku tidak ingin terpisah di kehidupan kedua ini dengan Ayah dan Bunda...

Aku tidak sabar menantikan kehadiran Ayah dan Bunda di alam surga yang begitu damai dan indah...

Bundaku tersayang...

Berilah kesempatan buatku untuk merasakan nikmatnya suasana harmonis dalam keluarga kecil kita. Aku berjanji akan berbakti dan mendengarkan semua nasehat Bunda. Aku ingin mengusap air mata Bunda di kala Bunda sedang bersusah hati...

Permintaanku yang terakhir, Bunda, aku bersujud memohon agar Bunda jangan memperlakukan adik-adikku kelak seperti yang Bunda lakukan kepada diriku. Aku mohon dengan sangat, Bunda...

Tolong berikan kesempatan buat adik-adikku untuk merasakan kenikmatan hidup di dunia agar kelak mereka dapat menggantikan peranku menjaga dan merawat Bunda hingga akhir hayat.

Sudah demikian banyak aku menulis dan aku yakin Bunda mengerti apa yang aku maksudkan dan aku inginkan...

Aku berjanji tidak akan menangis lagi...

Bunda, aku mau main boneka-bonekaan dengan kakak Malaikat di sini...

Aku tunggu kedatangan Ayah dan Bunda di surga ini...

Aku sayang banget sama Bunda...
Muachhh...muach...muach...

Tertanda :
•••Aku yang selalu merindukan belaian Bunda•••

(Salam UFO) by Firman Bossini