Preman Berdasi Yang Paling Ditakuti di Negeri Ini

Preman Berdasi Yang Paling Ditakuti di Negeri Ini - Kejadian apa yang paling sering terjadi jika hendak mendirikan atau menambah ruangan di rumah kita sendiri?

Dapat dipastikan akan bermunculan para "preman" yang memiliki surat izin resmi maupun para "preman" yang berkaos organisasi tertentu untuk meminta "uang jasa" atas kegiatan pembangunan di lingkungan kekuasaan mereka.

Perilaku ini rupanya juga diikuti oleh seorang Ahok....

Pemilik bangunan yang akan menambah tinggi bangunan di beberapa wilayah strategis di Jakarta akan dimintai "uang preman" oleh Pemprov DKI.

Misalnya, di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, sebuah gedung telah memiliki 17 lantai. Kemudian PT Indonesia Prima Property Tbk, pemilik gedung, mengajukan penambahan tinggi bangunan menjadi 26 lantai plus 5 tingkat bawah tanah. Ahok bersedia memberikan izin setelah ada analisis daya dukung tanah dari para peneliti, tapi dengan syarat harus membayar uang Rp 570 milyar.

Tanpa ada kompromi...!!!

Menurut Ahok, pemilik gedung dapat menyewakan lebih banyak ruangan, dan Pemprov DKI harus turut menikmati keuntungan ini.

Uang tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun Jalan Layang Jembatan Semanggi, agar kemacetan yang ada di Jakarta dapat dikurangi.

Jalan Layang Jembatan Semanggi merupakan fasilitas publik yang akan dibangun dari "uang preman" ini. Pembangunannya dimulai dari April 2016 dan selesai Agustus 2017.
Luar biasa...!!!

Uang preman tidak dikantongi atau dibagikan ke konco-konconya, melainkan digunakan untuk kepentingan publik.

Lewat Peraturan Gubernur Nomor 175 Tahun 2015, Ahok menetapkan kompensasi penambahan tinggi bangunan bisa dibayar dalam bentuk fasilitas publik.

Pasal 4 pada Peraturan tentang Pengenaan Kompensasi Terhadap Pelampauan Nilai Koefisien Lantai Bangunan digunakan untuk membangun fasilitas publik, bisa berupa ruang terbuka hijau, rumah susun, atau infrastruktur lainnya.

Dengan begitu, kompensasi tersebut bisa langsung dimanfaatkan masyarakat dan dapat menghilangkan potensi penggelapan (korupsi) lantaran pembangunannya diawasi warga Jakarta.

Kebijakan yang sama sekali tidak berpihak kepada golongan pengusaha, telah berulangkali dilakukan oleh gubernur yang tidak takut mati ini.

Lihat saja bagaimana kenekatan beliau menutup Diskotik Stadium yang sudah melegenda, memaksa pengusaha untuk membayar pajak secara benar yang berbasis online jika tidak ingin dipenjara, "menderen" (mengutip) secara halus maupun kasar ke para pengusaha agar perusahaan miliknya menyediakan CSR (bantuan sosial perusahaan) dan terakhir meminta "uang preman" kepada pemilik gedung yang hendak menambah bangunan ke atas maupun ke bawah tanah.

Saat ini, Ahok benar-benar merupakan "Preman Berdasi yang paling ditakuti di negeri ini".

Semangkok mie pansit tanpa kuah menemaniku melihat sepak terjang "preman koboi" yang pro rakyat, dan memiliki "1000 nyawa" ini.

(Salam tuing-tuing - Salam UFO) by Firman Bossini