Politik Tanpa Sahabat Sejati

Politik Tanpa Sahabat Sejati - "There are no true friends in politics. We are sharks circling and waiting for traces of blood to appear in the water" (Alan Clark)

Membahas persoalan politik Indonesia memang tidak akan habisnya. Dan berbicara tentang politik, pasti ada kaitannya dengan faktor kepentingan dari para politisi.

Tak ada teman ataupun musuh sejati, yang ada hanyalah kepentingan sejati.

Kalimat ini mungkin sudah sering didengar, khususnya di bidang politik. Seorang teman "sepermainan", seketika dapat menjadi musuh bebuyutan ketika masing-masing kepentingan (baca : kemauan) tidak lagi sejalan. Pertemanan yang terbina hanya karena ada maunya saja.

Lihat saja, bagaimana KMP yang sempat didengung-dengungkan sebagai koalisi permanen, akhirnya harus "pisah ranjang". Bubar di tempat dengan sangat tragis.

Masing-masing ketua partai yang bergabung dalam KMP telah memperhitungkan untung ruginya ketika hendak bergabung di KMP dulu dan juga ingin memisahkan diri seperti sekarang ini.

Egois....!!! Ego yang membawa kepentingan masing-masing. Munafik...!!! Lebih mementingkan untung rugi.

Dalam berpolitik memang dikenal dengan istilah "sejuta janji". Para politisi termasuk ketua partai akan sangat gampang mengumbar janji setia untuk selalu melangkah bersama-sama.

Penampilan mereka sangat meyakinkan saat mengucapkan janji-janjinya, sehingga yang mendengarnya (baca : Prabowo) merasa yakin dan optimis bahwa janji tersebut akan terealisasi.

Walau akhirnya muncul penyesalan dalam diri beliau setelah menyadari bahwa janji setia yang terucap hanyalah sebuah lelucon dan kebohongan semata, bak kalimat sinisme, hanya sebuah "pepesan kosong" belaka.

"Tak ada sahabat sejati dalam politik. Ini serius, Jenderal...!!!

Jadi, politik adalah kepentingan dan kepentingan adalah politik.

Bukan untuk kepentingan rakyat banyak, melainkan untuk kepentingan pribadi dan parpol naungannya.

Wahai Jenderalku yang gagah berani...
Mari turunkan ego dan turun gununglah untuk membaur membangun negeri tercinta...

Anda sudah ditinggal, maka tidak ada gunanya untuk memikirkan mereka yang telah mengkhianatimu...

Jangan hanya berdiam diri dalam singgasana terhormatmu, Jenderal...

Sepiring...piring kosong...(lagi malas makan)....menemaniku melihat sosok Sang Jenderal yang sedang meringis menangis mengais asa dalam tatapan mata bengis nan tragis....

(Salam Indonesia Raya - Salam UFO) by Firman Bossini