Penyesalan - Hadiah Dari Ayah

Penyesalan - Hadiah Dari Ayah - Sinchan adalah seorang putera tunggal dari keluarga yang cukup berada.

Sang Ibu telah lama meninggal dunia dalam upaya melahirkan seorang adik perempuan Sinchan. Namun, sayangnya... Nyawa keduanya tidak dapat tertolong.

Ayah Sinchan merasa sangat terpukul dan sedih bukan kepalang. Kesedihan ini terus dipikul sepanjang hidupnya tanpa berniat untuk mencari sosok pengganti seorang ibu buat Sinchan.

Dalam membesarkan anaknya, Sang Ayah hanya ditemani oleh seorang bibi tua yang membantu mengurus rumah.

Alhasil, ayah Sinchan menjadi seorang single parent, bertindak sebagai ayah merangkap sebagai ibu buat Sinchan.

Sang Ayah sangat memanjakan Sinchan dan bertekad menjadikan Sinchan sebagai manusia yang memiliki pendidikan tinggi. Sekolah yang dipilih adalah sekolah berkualitas internasional.

Akhirnya, Sinchan berhasil menamatkan bangku kuliah dengan nilai yang fantastis.

Sebentar lagi Sinchan akan diwisuda dan memperoleh gelar sarjana. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah Sang Ayah, yang sudah menunjukkan sedikit keriput di leher dan wajahnya.

Beberapa bulan yang lalu, saat berjalan-jalan melewati sebuah showroom mobil impor sport, Sinchan mengajak Sang Ayah untuk mampir.

Di dalam showroom terpampang begitu banyak mobil sport yang super canggih dengan design dan warna yang begitu menawan.

Sinchan tertarik dengan sebuah mobil Ferrari berwarna merah dengan pintu yang dapat diangkat ke atas. Dia menunjukkan minat yang begitu besar dan memberitahukan impiannya kepada Sang Ayah.

Sepulangnya ke rumah, Sinchan yakin sekali, ayahnya pasti akan membelikan mobil impian tersebut, sebagai hadiah wisudanya.

"Saya ini adalah putera tunggal dari salah seorang pengusaha kaya di kota ini. Mana mungkin Ayah tidak sanggup membelikan mobil keren ini untukku. Lagipula saya adalah putera satu-satunya dari ayah", begitu kata Sinchan dalam hati.

Namun, pergaulan sehari-hari Sinchan kurang diperhatikan Sang Ayah, dan tanpa sadar telah membentuk pribadi yang buruk pada diri Sinchan.

Dalam benak Sinchan, dia berangan-angan mengendarai mobil sport Ferrari yang sangat mentereng. Semua teman-temannya bakal berdecak kagum...

Setelah melewati prosesi wisuda, Sinchan beserta Sang Ayah segera bergegas pulang ke rumah untuk menghadiri syukuran atas keberhasilan Sinchan dalam menyelesaikan kuliahnya.

Sanak saudara dan rekan-rekan bisnis Sang Ayah turut hadir menyemarakkan acara yang digelar dengan sangat mewah.

Hingga saatnya, Sang Ayah menyerahkan sebuah hadiah yang dibalut dengan kertas kado yang indah.

Dengan berdebar-debar Sinchan menerima hadiah dan segera merobek bungkusan hadiah dari Sang Ayah tercinta.

Namun...

Saat mengeluarkan isi kado tersebut, ternyata bukan sebuah kunci yang diterimanya, melainkan sebuah buku kitab suci bersampulkan kulit asli, dan terukir namanya dengan tinta emas.

Sinchan marah besar...

Impian untuk mengendarai mobil sport pupuslah sudah...
Belum lagi rasa malu karena sudah terlanjur bercerita banyak kepada teman-temannya..

Dengan emosi yang memuncak, Sinchan memarahi Sang Ayah di muka umum, "Ayah ini gimana sich? Mengapa cuma sebuah buku ini yang Ayah berikan untukku? Saya juga bisa membeli sendiri dengan uangku. Mana mobil Ferrari impianku? Mana Ayah...?? Ayah memang sudah tidak sayang sama Sinchan..."

Sekonyong-konyong Sinchan membuang dan membanting buku kitab suci itu ke lantai dan berlari meninggalkan ayahnya yang terbengong melihat tingkah laku putera kesayangannya.

Untuk kedua kali dalam hidupnya, Sang Ayah harus kembali kehilangan orang yang disayanginya, setelah kematian Sang Isteri tercinta 18 tahun lalu. Saat itu Sinchan masih berusia 4 tahun.

Bagai tersadar, Sang Ayah berusaha mengejar dan berteriak : "Kamu salah sangka anakku. Kembalilah... Apa yang kamu impikan telah Ayah sediakan. Pulanglah Sinchan... Kamu bakal menyesal di kenudian hari..."

Namun sayang, Sinchan telah pergi bersama dengan sebuah taxi yang kebetulan lewat, ntah kemana...

Sang Ayah berlutut bersimpuh di gerbang halaman rumah, sambil meratapi kepergian buah hatinya. Hatinya hancur tak berbentuk. Dia tidak mempedulikan lagi sorotan ratusan mata orang yang hadir.

Hari demi hari...
Bulan demi bulan...
Tahun demi tahun...

Semua berlalu dengan cepatnya...

Sinchan benar-benar meninggalkan Sang Ayah dengan modal tabungan yang sangat banyak yang telah disiapkan Sang Ayah.

Jejaknya sama sekali tidak berbekas. Sinchan hilang bagaikan ditelan bumi...

Sang Ayah berusaha semaksimal mungkin mencari Sinchan namun selalu menemui jalan buntu. Entah mungkin Sinchan juga sengaja menyembunyikan diri, enggan bertemu dengan ayahnya.

Sang Ayah semakin kerdil dan keriput...
Beban batin dan selaksa kerinduan akan diri Sinchan membuatnya semakin terpuruk dan mulai sakit-sakitan...

Sementara itu...

Setelah meninggalkan Sang Ayah, Sinchan pindah ke kota lain yang terletak di pulau sebelah.

Dengan bermodalkan tabungan yang sebelumnya telah disiapkan Sang Ayah, serta kepintaran dan kerja kerasnya, Sinchan berhasil menjadi seorang yang sukses dan terpandang.

Sinchan berhasil mempersunting seorang gadis model yang cantik nan cerdas.

Di hari pernikahannya, sempat terbersit keinginan Sinchan untuk mengundang Sang Ayah sebagai wali pengantin, namun karena dendam yang masih membara ketika mengingat peristiwa dulu, Sinchan membatalkan niatnya tersebut.

Hasil pernikahannya membuahkan sepasang putera dan puteri yang rupawan. Rumahnya paling besar di kota tempatnya bermukim saat ini.

Sementara itu, Sang Ayah semakin hari semakin tua.

Akhirnya dia tinggal di rumah jompo setelah meninggalnya bibi tua yang mengurus rumahnya. Separuh harta yang tersisa diserahkan kepada pengurus panti jompo untuk dibangun tempat hunian yang layak, bersih dan indah buat para penghuni panti yang rata-rata sudah berusia lanjut. Separuh lagi akan diwariskan buat Sinchan.

Hampir setiap malam dia merenung dan merindukan Sinchan. Sang Ayah berharap suatu saat dapat bertemu Sinchan dan meyakinkan Sinchan bahwa dahulu Sinchan salah paham. Dia ingin meyakinkan bahwa hanya Sinchan satu-satunya harapan hidupnya.

Tiga bulan setelah hidup dalam keindahan suasana di panti jompo, Sang Ayah akhirnya dipanggil Tuhan.

Untuk menyerahkan harta warisan yang ditinggalkan Sang Ayah kepada ahli waris, pihak notaris membuat pengumuman di surat kabar nasional, dengan harapan sang ahli waris dapat membacanya.

Untung saja, Sinchan ada membaca pengumuman tersebut dan segera terbang menuju ke kota asalnya.

Sebenarnya, Sinchan tidak berniat untuk menguasai harta warisan Sang Ayah, melainkan hanya ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Sang Ayah.

Sebuah penyesalan muncul, ketika niatnya untuk kembali ke kota asal untuk menjumpai Sang Ayah selalu tertunda karena urusan pekerjaan.

Sebenarnya, seminggu sebelum kematian Sang Ayah, Sinchan telah membeli tiket pesawat untuk isteri dan anak-anaknya. Mereka sekeluarga berniat pulang kampung dan Sinchan berniat meminta maaf kepada Sang Ayah.

Namun sekarang semua sudah terlambat...

Bersama anak isteri dan petugas notaris, Sinchan melangkah masuk ke dalam rumah peninggalan Sang Ayah.

Kenangan semasa dia masih kecil, begitu nyata bermain-main dalam pelupuk matanya.

Bagaimana dulu Sang Ayah begitu memanjakan dirinya, menggendongnya, menyanyikan lagu anak-anak sebelum tidur, mendongeng, naik kuda-kudaan di punggung ayahnya, mandi bersama Sang Ayah, dan yang paling diingatnya saat Sang Ayah berlinang air mata ketika Sinchan bertanya, dimanakah ibunya berada...

Sinchan merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.

Saat Sinchan membuka lemari besi milik ayahnya. Sinchan menemukan sebuah buku kitab suci dan masih terbungkus utuh dengan kertas kado yang sama, persis seperti kejadian belasan tahun yang lalu.

Air matanya mengucur dengan deras...

Dia mulai membuka halaman kitab suci tersebut...

Sebuah kertas terselip bertuliskan :
"Buat anakku yang paling kukasihi...
Kesempatan kedua telah saya sia-siakan...
Setelah kepergianmu, hati saya benar-benar kosong...
Jiwaku tidak lagi bersama ragaku...
Saat engkau kembali, saya sudah tidak ada lagi...
Jangan engkau tangisi masa lalumu...
Ayah telah memaafkan semua tingkah lakumu..."

Setelah Sinchan membaca tulisan itu, di bagian belakang buku kitab suci tersebut, terselip sebuah STNK dan BPKP (buku hitam) atas nama Sinchan, lengkap dengan kuitansi pembelian mobil, tepat sehari sebelum hari wisudanya.

Petugas Notaris menyerahkan sebuah kunci mobil dengan merek Ferrari dan mengarahkan Sinchan menuju garasi belakang.

Sinchan segera berlari menuju garasi, dan menemukan sebuah mobil sport berwarna merah yang sudah ditutupi oleh debu selama belasan tahun.

Meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak pernah digunakan, namun Sinchan masih sangat mengenal jelas mobil sport idamannya dulu.

Dengan hati-hati, dia membuka pintu mobil, interior (bagian dalam) masih baru dengan kursi jok mobil masih terbungkus ileh plastik pelindung.

Di atas dashboard terpampang tiga buah foto, yaitu : foto pertama adalah foto mereka bertiga sekeluarga, Sinchan dan kedua orang tuanya, foto kedua adalah foto ketika Sinchan kecil sedang disuapin bubur oleh ayahnya dan foto ketiga adalah foto Sang Ayah yang sedang tersenyum bangga di samping Sinchan yang sedang mengenakan pakaian wisuda.

Sinchan memukul-mukulkan kepalanya ke dashborad berulang kali hingga akhirnya dicegah oleh anak isterinya.

Air mata Sinchan tidak dapat terbendung lagi. Seluruh tubuhnya bergetar dengan keras. Rasa penyesalannya tidak mungkin terobati lagi....

______________________________

Sobatku yang budiman....

Jangan pernah menilai kasih sayang yang tulus, dari seberapa mahal barang yang diterima...

Seberapa berharganya kita pernah kehilangan sebuah barang, namun tidak akan pernah semenyesal jika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai...dan akan menjadi penyesalan seumur hidup, saat kita terlambat meminta maaf kepadanya...

(Salam Pengabdian - Salam UFO) by Firman Bossini