Pemimpin Pendengar

Pemimpin Pendengar - Khalifah Umar mengelilingi tiap-tiap rumah bersama salah seorang sahabat, menjenguk keadaan umatnya.

Di sebuah rumah, beliau menemukan sebuah keluarga yang sedang kelaparan.

Ketika Khalifah Umar menyambangi ibu tersebut, beliau bertanya tentang keadaan mereka.

Khalifah Umar : “Ibu, sedang merebus apa?”

Ibu miskin : “Saya sedang merebus air berisi batu. Keluarga kami kelaparan”.

Khalifah Umar : “Memang suami ibu tidak ada?”

Ibu miskin : “Tidak ada. Kami sudah beberapa hari ini kelaparan...”

Khalifah Umar : “Apa yang sedang ibu rebus?”

Ibu miskin : “Air berisi batu. Kami kelaparan. Saya hanya bisa berpura-pura memasak sampai tangis anak-anak saya berhenti. Sampai mereka lelah karena terus menangis. Khalifah telah berbuat tidak adil kepada keluarga saya”

Khalifah Umar yang mendengarnya langsung tersentak, beliau kaget akan mendapat jawaban seperti itu.

Ibu tersebut tidak tahu, bahwa lawan bicaranya adalah Sang Khalifah.

Khalifah Umar : “Baiklah ibu, kalau begitu saya akan membawa sekarang gandum agar kalian tidak kelaparan lagi”

Sesampainya di Baitul Mal, sahabatnya melarang Khalifah Umar untuk memanggul sendiri.

Khalifah Umar menolak, beliau berkata kepada sahabatnya itu “Kamu mau memberatkan timbanganku di akhirat kelak? Biar aku sendiri yang memanggulnya”

Khalifah Umar memanggul sendiri karung itu ke hadapan ibu tersebut.

Sang ibu girang bukan kepalang melihat sekarung gandum di hadapannya.

Ia pun berkata kepada Khalifah Umar, “Sungguh, engkau lebih mulia daripada Khalifah Umar Bin Khatab.”

Khalifah Umar hanya bisa tersenyum seraya berkata “Besok, pergilah ke rumah Khalifah Umar bin Khatab”

Kemudian, Khalifah Umar membantu ibu tersebut memasukkan gandum ke dalam panci dan merebusnya.

Beliau juga mengajarkan cara mengaduk yang benar supaya tidak menggumpal.

Esoknya si ibu pergi ke rumah Khalifah Umar dan kaget melihat sosok yang semalam mendatanginya adalah Sang Khalifah.
_____________________________

Sepenggal cerita yang sangat bermakna menggambarkan sosok seorang pemimpin yang mau turun ke lapangan menjumpai rakyatnya.

Seorang pemimpin tidak serta merta menjadi seorang penguasa yang hanya sanggup menitahkan perintah dari atas kursi singgasana yang berlapiskan emas.

Bila kita menelisik karakter para pemimpin di Indonesia, kelihatannya hanya Presiden RI saat ini yang paling senang berkunjung ke daerah-daerah untuk menjumpai dan mendengar keluhan rakyatnya.

Tanpa capek dan lelah bergerak lincah dari satu daerah ke daerah lain dari Sabang sampai Merauke hanya untuk melihat, mendengar dan mengakomodir semua permasalahan rakyatnya.

Presiden sekarang ini tidak pernah merasa jengah untuk turun blusukan memastikan progres pekerjaan yang telah diperintahkan kepada para pembantunya.

Dan, Presiden Jokowi juga tidak mempedulikan nada-nada miring yang tiada hentinya menghujat beliau dari para haters, walaupun tidak dapat dipungkiri kebijakannya memang untuk kepentingan rakyat.

Yang terakhir, beliau adalah seorang "koppig" (keras kepala) yang berani menelurkan beberapa kebijakan yang berseberangan dengan partai pendukungnya.

Walaupun Presiden Jokowi berjalan dalam kesendirian di barisan terdepan, namun saya yakin, sebagian besar rakyat pasti akan mem-follow dan juga melindungi beliau dari gangguan para haters.

Siapapun pemimpin yang sudah dipercaya oleh rakyat melalui Pemilu dan sah secara konstitusi, siapapun juga, mau itu Jokowi, Prabowo, ARB atau mungkin saya sendiri, wajib kita jaga marwah dan kehormatannya.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

(Salam Kebangsaan - Salam UFO) by Firman Bossini