Negeriku..Negeri Serba Palsu

Negeriku..Negeri Serba Palsu - Kepalsuan tidak akan pernah kehilangan eksistensi (keberadaan) dalam kehidupan peradaban manusia.

Jika ada yang asli dan bagus, pasti akan segera muncul sesuatu yang "palsu" untuk mengiringinya.

"Tidak ada barang yang tidak bisa dipalsukan", begitulah pendapat sebagian orang yang sudah merasa pasrah dengan menjamurnya semua yang bernuansa "kepalsuan".

Yang paling jamak kita dengar adalah cinta palsu dan janji palsu, yang pernah dialami hampir semua orang.

Belakangan ini, kata "palsu" sedang menikmati kepopulerannya :

- Beras palsu yang katanya terbuat dari plastik.

- Kosmetik palsu yang mengandung bahan kimia berbahaya, namun diminati kaum hawa karena harganya yang murah.

- Pupuk palsu yang mengandung zat yang tidak berguna bagi pertumbuhan tumbuhan.

- Event Organizer (EO) palsu yang telah menipu puluhan pasang pengantin

- Dokter palsu yang terjadi di Depok. Si ’dokter’ secara terang-terangan membuka praktik di sejumlah klinik, tanpa mengantungi surat praktek dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia)

- Uang palsu yang selalu populer kapan saja dan dimana saja di seluruh bumi pertiwi.

- Ijazah palsu yang dapat dibeli tanpa harus menjalani proses belajar mengajar sebagaimana mestinya dan marak terjadi di berbagai kampus abal-abal.

Dan yang paling heboh dalam sepekan ini adalah Flight Approval (Persetujuan Terbang) palsu yang dilakukan oleh maskapai Airfast.

Untunglah kejahatan yang dilakukan secara sistematis ini, dan mungkin sudah berlangsung lama, akhirnya berhasil dibongkar oleh Departemen Perhubungan RI, berkat kejelian dari tiga pegawainya.

Alhasil, ketiga pegawai ini mendapat "uang permen" dari atasan tertingginya yaitu Menteri Perhubungan, masing-masing sebesar USD 1000

(Kritik penulis : Mengapa harus pakai dollar, Pak Jonan? Jauh lebih elok kalau dirupiahkan saja)

Yeah...

Sungguh kebijakan yang sangat tepat berkaitan dengan "Punishment and Reward" (Hukuman dan Penghargaan).

Penghargaan ini tentunya akan memacu etos kerja pegawai untuk berbuat lebih jujur dan lebih berani lagi.

Nah...

Kemunculan sejumlah hal yang serba palsu itu tentu membuat kita bertanya-tanya: Mengapa semua ini dapat terjadi dengan begitu mudah? Mengapa kejadian seperti ini terus saja berlangsung dan seolah-olah tidak ada penyelesaiannya secara tuntas?

Jawabannya : Hukum kita masih terlalu lemah untuk "memancung" dan "mengebiri" para pelaku.

Hmmm...

Demikian juga dengan kehidupan berpolitik di negara kita...

Kian hari, kita semakin akrab dengan kepalsuan.

Mendekati masa kampanye, para calon pemimpin daerah, pemimpin nasional dan anggota dewan / senat begitu gampangnya mengumbar janji-janji palsu kepada masyarakat.

Tapi pernahkah kita mendengar mereka ditangkap karena telah membuat janji-janji palsu.

Tidak pernah...!!!

Jangankan ditangkap, para calon pemimpin bahkan selalu dielu-elukan seba­gai sosok yang perlu diteladani, sosok yang terhormat, calon pemimpin yang berhati mulia karena mereka begitu gampang menebar rupiah demi rupiah, yang kelak harus dikembalikan plus dengan bunga yang nilainya berlipat-lipat dari yang telah mereka keluarkan.

Namun, jangan salahkan mereka, karena kita sendiri juga sangat senang dibuai janji-janji palsu..!!!

(Salam Kepalsuan - Salam UFO) by Firman Bossini