Kisah Sebuah Galon Yang Cacat

Kisah Sebuah Galon Yang Cacat - Alkisah...

Dua buah galon air minum yang berasal dari dua merek berbeda sedang duduk berdampingan di depan emperan toko. Mereka sedang menunggu calon pembeli yang akan membawa mereka pergi dari toko menuju tempat baru.

Seorang Pemuda bertubuh atletis tiba di toko dan berniat membeli dua buah galon air minum, untuk dibawa pulang.

Ketika hendak mengangkut kedua galon ke atas mobil, Sang Pemuda terpeleset akibat lantai yang licin.

Akibatnya kedua galon jatuh terhempas ke tanah dengan sangat keras.

Galon pertama yang bermerek terkenal (AQU) dan berbahan mahal tidak mengalami kerusakan yang berarti. Masih utuh tanpa mengalami kebocoran dan airnya masih tetap utuh.

Namun galon kedua yang memiliki merek lokal (QITA) dan terbuat dari bahan murah, mengalami kerusakan, bocor di bagian atas hingga pertengahan galon. Praktis, airnya tinggal bersisa setengah galon.

Pemuda tersebut tetap membawa kedua galon pulang ke rumahnya, yang terletak di ujung desa, di atas pegunungan yang tandus.

Sepanjang perjalanan, galon AQU selalu mengejek galon QITA karena merasa lebih kuat dan lebih hebat. Galon QITA hanya terdiam dan merasa sangat sedih, merasa tidak berguna lagi.

Saat ini sedang musim kemarau....

Sang Pemuda memanfaatkan kedua galon untuk mengambil air bersih dari mata air yang terletak 2 kilometer dari rumahnya.

Galon AQU yang masih utuh selalu membawa segalon air penuh, sedangkan galon QITA yang mengalami kebocoran, hanya mampu membawa air setengah penuh saja.

Setiap hari, selama berbulan-bulan, Sang Pemuda selalu melaksanakan aktifitas rutinnya, tanpa pernah absen sekalipun.

Galon AQU merasa sangat bangga dengan kemampuannya melebihi galon QITA. Hampir setiap saat, galon AQU selalu memamerkan prestasinya.

Tentunya hal ini membuat galon QITA merasa sangat sedih. Dia merasa sangat malu dengan ketidaksempurnaan dirinya.

Kejadian pem-bully-an yang dialami galon QITA, membuatnya tidak percaya diri dan berniat untuk menggelindingkan dirinya ke jurang yang dalam.

Setelah mengalami keterpurukan batin yang begitu menyedihkan, akhirnya galon QITA berkata kepada Sang Pemuda : "Boss, saya merasa malu dengan kekurangan pada diriku. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kelemahanku, yang membuat Boss harus bekerja ekstra lebih keras lagi..."

Sang Pemuda : "Mengapa kamu berkata demikian? Kenapa pula kamu harus malu?"

Galon AQU mencibir dan tertawa terkekeh-kekeh dengan nada mengejek.

Galon QITA : "Saya tidak sempurna. Saya hanya mampu mengangkat setengah galon air saja karena bocor. Sedangkan dia mampu mengangkat satu galon penuh air. Karena cacatku ini, telah membuat Boss menjadi susah dan lebih capek".

Sang Pemuda yang bijaksana itu dapat merasakan kesedihan yang dialami galon QITA.

Sang Pemuda mengelus sekujur badan galon QITA, layaknya sedang menghibur dan memberi kekuatan kepada seorang anak kecil.

Sang Pemuda : "Jangan khawatir... Siapa bilang kamu yang mengalami kecacatan tidak dapat memberikan faedah bagi makhluk lain? Besok akan saya tunjukkan sesuatu hal yang akan membuatmu bangga..."

Keesokan harinya, Sang Pemuda menunjukkan kepada kedua galon, sekumpulan bunga-bunga indah di sepanjang sisi sebelah kiri jalan.

Sedangkan sisi sebelah kanan tidak terdapat tanaman ataupun bunga yang mekar. Yang terlihat hanya hamparan tanah tandus yang retak.

Di tengah perjalanan, terlihat juga beberapa ekor ayam hutan sedang menikmati air yang menggenang di beberapa lubang kecil di sisi kiri.

Sang Pemuda : "Wahai galon cacat... Tidakkah kamu melihat adanya kehidupan di sisi kiri jalan, tempat dimana kamu sering meneteskan air dari lubang tubuhmu yang bocor. Lihatlah, betapa indahnya bunga-bunga bermekaran dengan warna yang sangat menarik. Lihat juga beberapa ekor ayam hutan yang dapat melepaskan dahaga mereka dari tumpahan air tubuhmu yang bocor".

Terlihat, saat ini galon AQU tertunduk malu, tidak berani menatap mata Sang Pemuda dan galon QITA.

Galon AQU merasa menyesal telah menghina dan menyepelekan galon QITA yang cacat.

Sebaliknya galon QITA juga merasa malu karena telah merendahkan dirinya sendiri. Dukungan penuh dari Sang Pemuda membuatnya merasa bangga dan bahagia. Galon QITA semakin percaya diri.

Sang Pemuda melanjutkan lagi : "Banggalah dengan dirimu, wahai galon cacat, karena engkau telah memberikan suatu penghidupan kepada makhluk lain, tanpa engkau sadari..."

____________________________

Sobat-sobatku yang budiman...

Janganlah kita menjadi seorang yang lemah, minder dan tidak percaya diri, oleh karena kekurangan yang dimiliki.

Percayalah...

Di mata Tuhan, kesempurnaan fisik manusia bukanlah menjadi ukuran penilaian-Nya.

Akhlak, budi pekerti dan kekuatan iman kita, jauh lebih berharga dari segala-galanya.
Di dalam kelemahan diri manusia, pasti terdapat kekuatan yang akan membawa manfaat bagi penghidupan orang lain...

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini