Kasih Ibu Yang Disingkirkan

Kasih Ibu Yang Disingkirkan - Kasih Ibu sepanjang masa...

Ungkapan sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam.

Seorang Ibu akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengasuh anak-anaknya tanpa kata lelah maupun rasa bosan.

Beliau sanggup menahan rasa sakit tatkala sedang mengandung selama 9 bulan dan berjam-jam menahan perih ketika hendak melahirkan...

Beliau rela mengurangi waktu tidur hanya untuk menanti kepulasan anak-anaknya.

Bahkan beliau sangat rela dan ikhlas mengurangi jatah makanannya demi sang buah hati...

Ada sebuah kisah menyedihkan yang pernah saya baca yang dilansir dari media vemaledotcom.
Berikut ini kisahnya :

Seorang perempuan renta memilih tinggal bersama anak bungsunya yang telah menikah. Semua anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal di luar kota.

Perempuan itu merasa bahagia dapat tinggal bersama anaknya, apalagi ditambah dengan kehadiran seorang cucu yang baru berusia enam tahun.

Perempuan tua itu sudah sangat lemah. Lututnya sering gemetar tak kuat lagi menyangga beban tubuhnya sendiri. Tangannya pun sering bergetar saat memegang benda. Penglihatannya mulai rabun.
Sudah menjadi tradisi keluarga, setiap akhir minggu, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan malam bersama.

Di ruang makan yang cukup luas, berkumpul seluruh anak-anak dan cucunya menikmati hidangan santap malam yang lezat.

Mereka sengaja datang dari luar kota untuk merayakan tradisi keluarga yang sudah dilakukan sejak dulu.

Saat seperti inilah yang sangat di nanti-nanti oleh sang perempuan tua itu.

Pada saat makan malam seperti inilah, terkadang perempuan tua yang sudah pikun itu sering membuat kekacauan.

Tangannya yang lemah dan gemetar serta penglihatan yang mulai rabun, membuatnya sulit untuk memilih serta menyantap makanan.

Tak jarang, sendok dan garpu jatuh ke lantai, sayur sup tumpah membasahi taplak meja, karena beliau tidak sanggup lagi menyangga mangkuk sup.

Semua anak dan menantunya menjadi jengkel dan gusar dengan tingkah perempuan tua itu. Mereka merasa sangat direpotkan dengan semua kejadian itu.

Si sulung lalu berkata, "Kita harus melakukan sesuatu. Aku sudah muak dan bosan melihat kejadian seperti ini terus menerus, sehingga kita tidak dapat menikmati makanan dengan tenang dan gembira."
Lalu, mereka akhirnya sepakat untuk membuatkan sebuah meja kecil untuk Ibu mereka. Meja kecil itu ditempatkan di salah satu sudut ruang makan, terpisah dari meja makan utama.

Di kursi serta meja itulah, perempuan tua itu akan duduk untuk menikmati makan malamnya, sendirian. Meja kecil itu juga dilengkapi dengan piring dan gelas kayu, agar tidak pecah saat terjatuh.
Selanjutnya....

Tak ada lagi kekacauan di acara minggu berikutnya. Semua orang makan dengan lahap, anak-anaknya menyantap makanan dengan lahap tanpa terganggu oleh ulah sang ibu.
Agar perempuan tua itu tidak memecahkan piring serta gelas, anak-anaknya membuatkan juga mangkuk serta gelas dari kayu.

Begitulah seterusnya, acara makan malam mereka tidak lagi terganggu sehingga mereka benar-benar menikmati kelezatan makanan yang mereka santap.

Di sudut ruangan, perempuan itu tetap berusaha menikmati makan malamnya, meski kali ini ia harus tersingkir dari anak-anaknya sendiri.

Perempuan tua itu merasa sangat sedih. Air matanya mengalir melewati gurat keriput di pipinya saat ia menyuapkan nasi ke mulutnya yang tak lagi bergigi.

Sejak si nenek disingkirkan di sudut ruangan, cucunya yang biasa bermain dengannya merekam kejadian yang menimpa neneknya itu ke dalam memori otaknya.

Setiap acara makan malam bersama, ia selalu melihat kesedihan di wajah tua neneknya.

Suatu malam, setelah acara makan malam bersama selesai, ia mengambil sepotong kayu dan meraut kedua ujungnya. Ayahnya yang melihat hal itu lalu bertanya, "Nak, kamu sedang membuat apa?"
"Oh, aku sedang membuat meja kayu buat Ayah dan Ibu, seperti halnya Ayah membuatkan untuk Nenek. Kalau Ayah dan Ibu sudah tua seperti Nenek, aku akan meletakkan meja ini di sudut ruang makan, persis seperti Nenek," ujar anak itu sembari melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban spontan itu membuat kedua orangtuanya terkejut dan sangat terpukul. Mereka tidak menyangka bahwa anaknya yang baru berumur enam tahun, mampu berkata seperti itu.

Bersamaan dengan itu, airmata mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, mereka mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Setelah kejadian malam itu, Si Bungsu selalu memapah ibunya ke meja makan untuk bersantap dan duduk berkumpul bersama dengan anak-anaknya.

Tak ada lagi omelan yang keluar dari mulut mereka pada saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak meja ternoda. Mereka makan bersama lagi di meja utama. Dan anak kecil itu, kini tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

_____________________________
Sobatku yang budiman...
Masih ingatkah kapan terakhir kali kita disuapi makan oleh Ibunda tersayang?
Masih ingatkah kita kapan terakhir kali kita dimandiin oleh beliau?

Sebaliknya, masih ingatkah kapan terakhir kali kita mencium kedua pipi Sang Bunda?
Ingatlah...

Janganlah sekali-kali kita membuat perhitungan dengan beliau karena seumur hidupnya beliau tidak akan pernah berhitung sudah berapa tenaga, pikiran, kasih sayang dan uang yang telah beliau keluarkan untuk kita.

Sayangilah Ibu kita dengan tulus, setulus beliau mendidik dan mengasuh kita sejak kecil hingga kita beranjak dewasa...

Jika kita masih memiliki Ibu, maka kita adalah orang yang sangat beruntung sebab masih banyak orang di luar sana yang amat merindukan kasih sayang seorang ibu.

(Salam Kasih Sayang - Salam UFO) by Firman Bossini