Istri Yang Berjiwa Besar

Istri Yang Berjiwa Besar - Raut wajah gembira terpancar dari wajah seorang eksekutif muda yang bernama Gundala ketika menerima bonus akhir tahun dari perusahaan tempatnya bekerja, yang seharusnya turun pada awal Januari 2016, ternyata baru cair pada pertigaan Februari 2016 ini.

Gundala sangat antusias untuk mengabarkan berita sukacita ini kepada isteri tercinta yang bernama Merpati.

Walaupun tanpa pernah sekalipun keluar dari mulut Merpati mengenai bonus ini, namun Gundala paham betul, bahwa isterinya sangat mengharapkan uang bonus yang berjumlah 100 juta, agar dapat digunakan untuk berekreasi ke negeri Sakura.

Gundala : "Halo sayangku... Akhirnya uang bonus akhir tahun dari perusahaan telah turun. Coba Merpati cari tahu lagi, kepastian tanggal berangkat dan biaya keseluruhan dari rencana tour ke Jepang untuk kita berdua".

Merpati : "Oh yaa...yaaa... Syukurlah jika uang bonus ini sudah cair. Saya akan coba baca lagi selebaran dari agen travel yang sempat saya simpan dulu... Bentar yah... Hati-hati di jalan, suamiku tercinta..."

Namun, ketika sedang memesan dua bungkus nasi soto, kegemaran Merpati, tiba-tiba saja hape jadul Gundala berbunyi.

Ternyata yang menelepon adalah Ayahanda Gundala yang sedang berada di kampung, "Nak, Bapak perlu mau bicara, ada waktu gak?"

Gundala : "Oh Ayah rupanya... Ada apa Yah?"

Ayah : "Begini anakku... Boleh Ayah pinjam duit kamu 30 juta? Soalnya Ayah ingin membeli bibit tanaman dan pupuk. Harganya sedang murah. Ayah takut jika dibeli dua bulan lagi, harganya bakal melonjak naik".

Gundala sempat mengernyitkan dahi, seperti sedang berpikir.

Namun, setelah dihitung-hitung, menurut perkiraannya, jika uang bonusnya dipakai oleh Ayahnya, masih ada sisa uang, cukup untuk piknik ke Jepang.

Akhirnya Gundala pun menjawab : "Baiklah Ayah, setelah selesai membeli nasi ini, saya segera ke ATM untuk mengirim uang ke rekening Ayah".

Setelah dua bungkus nasi soto, sudah di tangannya, Gundala segera bergegas ke ATM untuk mengirim uang kepada Ayahnya di kampung.

Hanya berselang 3 menit, setelah keluar dari ATM, Gundala mendengar suara jeritan minta tolong dari seseorang di seberang jalan.

Ternyata telah terjadi tabrakan antara sebuah truk sampah dengan sebuah sepeda motor.

Dengan berlari-lari kecil, Gundala menuju ke seberang dan melihat sepasang suami isteri yang tadi berteriak minta tolong, sudah tergeletak di atas aspal dengan darah yang berceceran.

Tanpa menunggu aba-aba, Gundala segera menyuruh orang-orang yang berada di sekitar kejadian untuk mengangkat tubuh kedua orang yang sudah tidak berdaya ini ke dalam mobilnya.

Gundala segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

Pendarahan yang hebat di kepala kedua orang suami isteri itu, menurut dokter, harus segera dioperasi agar dapat menyelamatkan nyawa mereka. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu....

Di lain sisi, pihak rumah sakit mengharuskan adanya uang jaminan atas tindakan operasi yang jumlahnya mencapai 60 jura rupiah.

Gundala kembali harus mengernyitkan dahinya, berpikir semakin keras...

Kali ini, tanpa perlu dihitung-hitung lagi, jika Gundala hendak menolong nyawa kedua orang ini, maka sisa bonusnya tinggal 10 juta rupiah.

Artinya, Gundala dan isterinya, Merpati dipastikan akan gagal berangkat tamasya ke negeri matahari terbit, Jepang.

Nurani Gundala bergejolak dengan hebatnya...

Satu sisi, ingin sekali menolong korban tabrakan...
Di sisi lain, terpancar wajah sumringah Merpati ketika memperoleh tiket pesawat...

Akhirnya, demi alasan kemanusiaan, Gundala segera ke ATM men-transfer dana sejumlah 60 juta rupiah dan menyerahkan bukti transfer kepada pihak rumah sakit.

"Semoga uang ini menjadi berkah penghidupan yang bermakna bagi kedua pasangan suami isteri kelak," Gundala membatin dalam hati.

Setelah meninggalkan nomor hape kepada pihak rumah sakit, Gundala pun berlalu untuk pulang ke rumah, ingin mengabarkan kabar yang kurang menyenangkan kepada Merpati.

Gundala tiba di rumah dengan wajah lesu dan tidak bersemangat.

Merpati heran dengan perubahan sikap Gundala dan bertanya dengan sangat hati-hati : "Ada apa Bang? Mengapa muka Abang begitu murung? Abang sakit? Saya juga sudah dapat info tour ke Jepang. Minggu depan jadwal keberangkatannya".

Gundala menggelengkan kepala sambil menjawab : "Kita tidak jadi berangkat, Dik Merpati..."

Gundala memperhatikan raut wajah isterinya, dan sudah mempersiapkan segala kemungkinan atas pernyatannya tentang pembatalan.

Ekspresi wajah Merpati tidak berubah...

Merpati : "Oh begitu yah... Gak papa lah Bang... Sebenarnya apa yang terjadi Bang?"

Gundala : "Tadi saya mengirim uang 30 juta untuk Ayahku. Beliau butuh uang itu untuk modal bercocok tanam. Terus, ketika keluar dari ruang ATM, saya ada melihat kecelakaan dan segera membawa korban ke rumah sakit. Pihak rumah sakit mengharuskan korban menyiapkan dana 60 juta sebagai jaminan untuk melakukan tindakan operasi kepada sepasang suami isteri, korban kecelakaan tadi".

Gundala sempat menghela nafas panjang...

Belaian tangan halus Merpati di punggungnya, membuat Gundala menjadi sedikit lega.

Gundala : "Saya sempat ragu, namun akhirnya menyetujui syarat itu, sayangku... Maafkan diriku yang terlalu ceroboh, sehingga mengabaikan impian kita untuk pergi bertamasya..."

Merpati tersenyum dan mengarahkan telunjuknya ke bibir Gundala, sebagai isyarat untuk tidak melanjutkan pembicaraannya.

Merpati : "Aduh, bang... Saya pikir, ntah ada masalah penting apa gitu... Rupanya uang bonus tadi sudah terpakai. Ya gak papa... Mungkin belum rezeki kita untuk pergi ke Jepang..."

Gundala : "Benar sekali Dik..."

Merpati : "Biar Abang tahu yah... Sebenarnya uang 10 juta yang tersisa di tabungan itu bukan milik kita, karena ke depannya, pasti akan habis terpakai juga. Di mata Tuhan, uang sebesar 90 juta inilah harta yang bakal kita bawa ketika menghadap-Nya, bukan sisa uang duniawi yang tidak kekal itu".

Gundala begitu tercengang mendengar penuturan Merpati yang sangat bijaksana.

Gundala sangat mengagumi jiwa besar dari isteri tercintanya. Dia yakin, tidak semua wanita akan memiliki hati yang begitu lapang dalam menyikapi dilema seperti ini.

Akhirnya Gundala dan Merpati saling berangkulan dan saling membelai dengan penuh rasa cinta dalam harmoni rumah tangga yang kekal dan bahagia.

Gundala sungguh berbahagia mendapatkan seorang isteri yang berhati mulia dan sangat menghargai setiap tindakan suami...

Sebaliknya, Merpati juga merasa sangat bahagia mendapatkan seorang suami yang begitu welas asih dan berjiwa ksatria....

(Salam Putera Petir - Salam UFO) by Firman Bossini