Istri Itu Bukan Pembantu

Istri Itu Bukan Pembantu - Pada suatu pagi, aku terbangun dari lelapku....

Suara dentingan panci, kuali dan alat-alat dapur mengarahkan langkahku ke asal suara bising tadi.

Dapur yang sederhana menjadi saksi bisu, ketika ibuku tercinta, sedang sibuk memasak untuk sarapan kami sekeluarga.

Tanpa menghiraukan rasa dingin dan juga mengabaikan rasa kantuk, Ibu telah memulai aktifitas pagi, mendahului anggota keluarga lain yang masih terlelap dalam peraduannya.

Aku : "Ibu sedang memasak apa? Ada yang bisa saya bantu, Bu?"

Ibu : "Ibu sedang menggoreng nasi kesukaan Bapak. Tidak usah dibantu, sudah belasan tahun Ibu bekerja sendiri di pagi buta. Kamu tidur saja, Nak... ".

Aku : “Alhamdulillah.... Pasti enak sekali....Kami semua menyukai masakan Ibu. Lezat dan pasti minta tambah sepiring lagi".

Ibu : "Syukurlah kalian semua menyukai masakan Ibu. Ini menjadi vitamin penambah semangat Ibu untuk membantu Bapak mengurus rumah..."

Aku : "Membantu Bapak mengurus rumah? Emangnya tugas mengurus rumah itu bukannya tugas seorang Ibu? Saya jadi bingung, Bu..."

Ibu : "Jadi selama ini kamu pikir memasak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika dan tugas mengurus rumah lainnya adalah tugas seorang Ibu? Kamu salah, Nak..."

Aku menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti. Mataku terpaku melihat wajah Ibu yang berpeluh dan sedikit berminyak.

Ibu : "Ketahuilah, Anakku yang kusayangi... Semua tugas di atas sebenarnya adalah tugas seorang kepala rumah tangga, yaitu Bapakmu yang sedang terlelap di kamar..."

Aku semakin bingung dan heran.

Aku : "Jadi mengapa Ibu mau melakukan semua pekerjaan ini sendirian, dengan membiarkan Bapak enak-enakan beristirahat?"

Ibu melangkah ke hadapanku, membelai rambutku dan mencium keningku.

Ibu : "Kewajiban utama seorang isteri adalah mengandung dan melahirkan anak. Kedua, seorang isteri harus taat serta mencari ridho dan pahala dari suami..."

Ibu tersenyum melihat diriku yang terus menggaruk-garukkan kepala walau tidak merasa gatal.

Ibu : “Baiklah anakku... Menurut kamu, nafkah itu apa? Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk menafkahi isteri dan seluruh anggota keluarganya. Kamu setuju Nak?"

Aku : "Setuju sekali Bu. Ini merupakan konsekuensi dari seorang kepala keluarga yang harus menyediakan sandang, pangan dan papan yang layak untuk seluruh anggota keluarga..."

Ibu : “Nah...itu dia maksud Ibu... Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci pakaian hingga bersih adalah kewajiban suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa bahan mentah, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa dimakan. Sehingga memasak hingga matang adalah kewajiban suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal yang layak adalah nafkah. Sehingga menjaga kebersihan rumah adalah kewajiban suami juga....”

Tanpa sadar aku bertanya lagi kepada Ibu dengan pertanyaan yang sama : "Jadi mengapa Ibu rela bercapek-capek melakukan pekerjaan yang melelahkan ini sepanjang hari, tanpa menuntut kepada Bapak sekalipun?"

Ibu tersenyum sangat manis, lalu berkata : "Ibu menyayangi dan mencintai Bapak setulus hati. Apakah Ibu rela melihat Bapak yang sudah bersusah payah mencari nafkah sepanjang hari, lalu pulang ke rumah masih harus mengurus rumah? Dimana hati nurani dan rasa cinta, jika Ibu masih membiarkan Bapak untuk melakukan ini semua?"

Aku mulai paham dengan semua yang Ibu sampaikan....

Ibu : "Semua pekerjaan yang Ibu lakukan bukanlah atas nama kewajiban, melainkan sebagai wujud cinta Ibu kepada Bapak. Juga wujud seorang isteri yang mencari ridho dan pahala dari suaminya”.

Ibu mengambilkan segelas air putih, menyuruhku untuk menghabiskannya.

Aku : “Jadi selama ini, kami kaum adam sudah salah sangka ya, Bu. Tidak sepantasnya seorang suami menuntut hal yang berlebihan kepada isterinya. Lebih menghargai dan menghormati jerih payah seorang isteri yang melakukan pekerjaan yang bukan merupakan kewajibannya..."

Ibu : "Kamu sudah pintar anakku... Sebentar lagi kamu mau menikah. Ingatlah, menikah itu bukan hanya menuntut hak dari kedua belah pihak. Yang paling utama sebenarnya adalah harus mampu menahan diri atas sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati, harus bisa menurunkan ego, mau mengalah dan selalu memupuk rasa cinta dan keharmonisan keluarga".

Ibu melanjutkan lagi : "Menikah itu ibarat sebuah perlombaan, berlomba-lomba melakukan yang terbaik untuk pasangannya dengan tulus dan tanpa pamrih. Ibu juga bersyukur tidak diberikan pembantu untuk mengurus rumah, karena sebenarnya tugas mulia mengurus rumah merupakan ladang pahala bagi Ibu..."

Aku : "Oh ya...Bu... Kayaknya calon isteriku tidak bisa memasak dan tidak pernah menyuci loh…”

Ibu : “Lah, terus kenapa..? Kamu dong yang harus memasak dan mencuci baju yang kotor. Itu merupakan kewajiban seorang suami. Ingat itu...!!!"

Aku : "Ibuuuuuuuuu......."

Suara tawa kami memecahkan keheningan subuh pagi yang dingin menusuk kulit...

(Salam Harmoni - Salam UFO) by Firman Bossini