Ibuku Seekor Harimau

Ibuku Seekor Harimau - Alkisah....

Di sebuah kerajaan yang makmur, sedang terjadi pergolakan untuk meraih singgasana raja.

Para pemberontak yang dipimpin oleh seorang Panglima Perang yang kejam, akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan Sang Raja.

Sang Raja beserta keluarga dan para pengikut setianya dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah yang pengap dan gelap gulita hingga ajal menjelang.

Tidak hanya itu, untuk memutus mata rantai keturunan kerajaan, Panglima Perang yang kejam itu memerintahkan tiga orang perajuritnya untuk membawa Sang Pangeran, anak satu-satunya dari Sang Raja yang masih berwujud bayi, ke dalam hutan untuk dibunuh.

Tatkala hendak membunuh Sang Bayi, ketiga prajurit dikejutkan oleh senyum manis dari wajah polos seorang bayi. Walaupun pedang sudah terhunus untuk segera dihujamkan ke leher Sang Bayi, namun akhirnya mereka mengurungkan niatnya.

Kemudian, ketiga perajurit tersebut meletakkan Sang Bayi di dalam sebuah goa kecil di tengah hutan.

Sebagai gantinya, para perajurit membunuh seekor anjing hutan dan membiarkan pedang mereka berlumuran darah, yang nantinya akan ditunjukkan kepada Panglima Perang, sebagai bukti telah membunuh Sang Bayi.

Di dalam goa yang gelap dan sempit, Sang Bayi merasa sangat kedinginan, kelaparan dan menangis selama berjam-jam.

Karena terlalu lama menangis, energi Sang Bayi menjadi terkuras. Suara tangisnya menjadi pelan dan akhirnya menjadi tidak terdengar sama sekali.

Sang Bayi yang sangat kelaparan terus mengecap-ngecap, mengatup-ngatupkan mulutnya, seperti naluri seorang bayi yang ingin menyusui.

Pada saat Sang Bayi membalikkan badan, mulut mungilnya menyentuh puting susu seekor harimau betina yang kebetulan sedang beristirahat tepat berada di samping Sang Bayi di dalam goa.

Untunglah, Sang Bayi berhasil menuntaskan rasa lapar setelah meminum susu harimau betina tersebut.

Rupanya, harimau yang telah menyusui Sang Bayi, baru saja kehilangan anak satu-satunya setelah beberapa minggu dilahirkannya.

Setiap hari harimau betina itu tidak pernah absen untuk menyusui Sang Bayi. Dia juga melindungi Sang Bayi dari segala ancaman mara bahaya.

Diantara keduanya terjalin ikatan batin yang sangat erat, layaknya antara seorang anak dengan seorang ibu, hingga Sang Bayi tumbuh besar dan menjadi seorang pemuda yang gagah.

Sementara itu...

Setelah berjuang bertahun-tahun lamanya dari rongrongan sisa-sisa pengikut setia Sang Raja, akhirnya Panglima Perang yang kejam itu berhasil menjadi seorang raja.

Sang Raja baru mendapat laporan dari bagian intelijen-nya bahwa bayi raja yang dulu dibawa ke dalam hutan ternyata tidak dibunuh.

Sang Raja menjadi sangat khawatir kalau-kalau kekuasaannya bakal direbut kembali.

Sang Raja memerintahkan seluruh pasukannya untuk mencari dan membunuh Sang Pangeran yang ada berada di dalam hutan.

Selama tiga tahun para perajurit kerajaan melakukan pencarian terhadap Sang Pangeran, namun tidak pernah membuahkan hasil.

Begitu banyak anggaran kerajaan yang terkuras hanya sekedar untuk melaksanakan proyek pencarian itu. Melihat hasil buruk dari pekerjaan para prajuritnya, Sang Raja menjadi semakin kalap.

Menjelang tahun keempat, Sang Raja mengeluarkan kebijakan ekstrim yaitu menangkap setiap laki-laki yang dijumpai di dalam hutan.

Bahkan, untuk memastikan Sang Pangeran bisa terbunuh, ia memerintahkan para perajuritnya untuk membabat habis dan membakar semua pohon di hutan yang berada di wilayah kerajaannya.

Akibat kebijakan Sang Raja yang lalim, menyebabkan hutan-hutan banyak yang menjadi gundul, dan berdampak pada terjadinya bencana longsor.

Sumber air menjadi semakin langka, sawah-sawah milik rakyat menjadi kekeringan dan udara yang tadinya sejuk berubah menjadi semakin panas.

Merasa bahwa Sang Pangeran telah terbunuh bersama kobaran api yang melalap segala isi hutan, kehidupan Sang Raja mulai menjadi tenang kembali.

Untuk memulihkan anggaran pendapatan dan belanja kerajaannya yang kedodoran akibat kebijakan bodohnya, Sang Raja mengundang para raja kerajaan tetangga untuk berkumpul membicarakan pinjaman dana.

Saat pertemuan sedang berlangsung, tiba-tiba para hadirin dikejutkan oleh kemunculan seekor harimau yang mengamuk dan memporak-porandakan seisi ruangan pertemuan.

Sontak saja, seluruh peserta pertemuan, tidak terkecuali Sang Raja menjadi sangat ketakutan dan berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Para prajurit yang dilengkapi dengan senjata canggih, tidak mampu menghentikan aksi harimau yang sedang murka itu.

Selesai mengamuk di ruang pertemuan, harimau tersebut masuk ke dalam istana kerajaan dan duduk di tengah ruangan tepat di depan kursi singgasana raja.

Berhari-hari harimau itu duduk santai, maka selama itu pula Sang Raja tidak bisa merasakan empuknya duduk di kursi singgasananya.

Untuk mengusir harimau tersebut, Sang Raja membuat sayembara, yang berhadiahkan sebuah pernikahan mewah dengan puteri tercintanya.

Beribu-ribu orang dari seantero negeri dan dari kerajaan tetangga, mencoba untuk memenangkan sayembara ini, namun semuanya tidak ada yang mampu mengusir sang harimau..

Saat sayembara akan ditutup, tiba-tiba seorang pemuda masuk ke dalam istana dan berniat untuk mengikuti sayembara.

Setelah mendapat persetujuan dari Sang Raja, pemuda itu melempar sebuah kerikil kecil ke arah harimau.

Tiba-tiba saja, harimau yang semula garang dan siap menerkam siapa saja, kelihatan menjadi jinak.

Pemuda itu membisikkan sesuatu kalimat ke telinga harimau, lalu dengan tenang menarik telinga dan menuntun harimau itu masuk dalam kerangkeng besi yang sudah dipersiapkan oleh Sang Raja.

Menyaksikan adegan itu, suasana menjadi gegap-gempita. Seluruh orang bertepuk tangan dan berdecak kagum memuji kehebatan Sang Pemuda.

Sesungguhnya, Sang Pemuda itu adalah seorang bayi yang dulu ditinggalkan di sebuah goa kecil, dan yang saat ini tumbuh besar menjadi seorang pemuda yang tangguh.

Atas keberhasilan mengalahkan harimau, akhirnya Sang Raja pun menikahkan puterinya yang cantik jelita dengan Sang Pemuda.

Setelah menikmati pesta pernikahan yang dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam, Sang Pemuda meminta ijin kepada Sang Raja, bapak mertuanya, untuk memboyong isterinya dan membawa sang harimau ke dalam hutan.

Pada awalnya, Sang Raja tidak mengijinkan mereka, namun karena Sang Puteri yang telah jatuh hati kepada Sang Pemuda juga ikut-ikutan membujuk ayahnya, akhirnya dengan berat hati Sang Raja mengijinkan puterinya beserta Sang Pemuda dan sang harimau untuk meninggalkan istana.

Bagi Sang Pangeran, pilihan untuk tidak tinggal di istana dan lebih memilih tinggal di dalam hutan, diambil agar dia tetap dapat menjaga ibunya (Sang Harimau) yang sudah mulai tua, sekaligus berupaya untuk melindungi kelestarian hutan demi anak cucunya kelak.”

(Salam Hormat - Salam UFO) by Firman Bossini