Guru Killer Yang Baik Hati

Guru Killer Yang Baik Hati (Edisi 3 : Pengalaman Pribadi) - Semasa SMP saya bersekolah di SMP Methodist 1 Hang Tuah Medan, yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari rumahku.
Setiap hari saya berjalan kaki pergi dan pulang sekolah, kadang sendirian namun tidak jarang berangkat bersama teman-teman atau bersama kakak dan adik.

Di sekolah ini, ada seorang guru yang terkenal "killer" dan tidak bisa diajak kompromi untuk masalah nilai pelajaran.
Kami semua memanggilnya Bapak Jigong, guru berkacamata tebal dan mengajar mata pelajaran Fisika.

Penyebutan "Bapak Jigong" sudah berlangsung turun temurun sejak beliau mengajar di sini.

Alasannya karena beliau selalu tanpa sadar sering mencipratkan air liur ketika sedang berbicara.

Beberapa teman sering sekali terkena cipratan air liurnya. Dan satu lagi, aroma yang "sesuatu banget" dari mulut beliau (baca : bau jigong) akan terhirup oleh murid yang berada di dekatnya.

Untuk urusan nyontek-menyontek, jangan harap para murid bisa melakukannya.

Mengapa?
Ketika hendak mulai ujian semua tas dikumpulkan ke depan, kemudian beliau akan mengosongkan satu meja di bagian belakang kelas. Tujuannya supaya beliau dapat duduk di kursi yang diletakkan di atas meja sambil mengawasi proses ujian. Unik bukan?

Ketika ujian sedang berlangsung, beliau sering sekali melompat dari satu meja ke meja lain sambil memegang setumpuk kapur tulis. Namun bukan seekor monyet loh...

Beliau selalu mengingatkan kami, jika sampai tiga kali bertatapan mata dengan matanya, akan segera dikeluarkan dari kelas.

Jika ada murid yang mencoba-coba "bertingkah aneh", sebuah lemparan kapur tulis akan tepat mengenai kepala murid tersebut. Tiga kali kena lemparan kapur, berarti si murid harus "out" dari ruang kelas.

Praktis setelah ujian, akan banyak ceceran potongan kapur tulis berserakan di atas lantai. Guru lain yang masuk setelah beliau, akan maklum dengan "kekotoran lantai" ini.

Yang membuat saya salut dengan beliau adalah kemampuannya untuk mendikte kalimat yang panjang-panjang (berhalaman-halaman) maupun bejibun rumus Fisika tanpa sekalipun "mengintip" buku. Beliau jarang sekali membawa buku ke dalam kelas.

Bahkan saya merasa, semua materi di buku pelajaran fisika sudah lengket di kepalanya. Artinya, sebelum mengajar, beliau terlebih dahulu menghafal materi pelajaran yang akan diajarkan kepada kami.

Sungguh mengagumkan...!!!

Untuk urusan nilai saya juga salut dengan pola beliau memberi nilai dengan cara menyediakan 12-13 soal ujian.

Bagi murid yang menjawab benar semua soal akan memperoleh nilai 13. Di rapor, tetap tercantum nilai 10. Kelebihan 3 nilai dapat ditabung untuk dipergunakan di kemudian hari, jika mendapat nilai kurang baik.

Makanya tidak heran, saat tiba waktu pembagian nilai ujian Fisika, akan ada murid yang mendapat nilai 10, 11, 12 atau bahkan nilai 13.

Pola seperti ini menurut saya cukup efektif untuk mengangkat nilai murid. Cukup menjawab 7 dari 12 soal saja, maka nilai Fisika di rapor "tidak merah" lagi.

Jujur saja...
Saya sangat merindukan sosok beliau, seorang guru yang begitu tulus dan konsisten dalam mengajar.
Beliau mengajarkan nilai-nilai kejujuran, memberikan reward (penghargaan) bagi yang serius untuk belajar dan memberikan punishment (hukuman) bagi murid yang berlaku culas dalam ujian.

Beliau adalah salah satu dari sekian orang guru yang akan saya kenang seumur hidupku.

Quote : "Hormati gurumu, sayangi temanmu, Itu tandanya kamu murid budiman"

(Salam Hormat - Salam UFO) by Firman Bossini
Buat sobat-sobatku, saya yakin, pasti memiliki banyak kenangan mengenai sosok guru selama di sekolah dulu, baik itu yang positif maupun negatif.
Alangkah indahnya jika dapat berbagi cerita...