Adil Itu Bukan Berarti Sama Banyak

Adil Itu Bukan Berarti Sama Banyak -  Cerita ini merupakan sekelumit kisah inspiratif yang menarik dari sebuah keluarga kecil yang sederhana.

Keluarga yang hanya dihuni oleh tiga orang anak, yang sulung bernama Acong (15 tahun), Amin (12 tahun) dan Amon (9 tahun).

Bapak mereka sudah lama meninggal dunia karena penyakit kanker yang tidak dapat disembuhkan lagi.

Sedangkan Sang Bunda harus berpisah dengan mereka dan menjadi seorang TKW di negeri jiran Malaysia.

Keputusan yang sangat berat ini diambil Sang Bunda agar dapat membiayai kehidupan tiga orang anak, selepas meninggalnya sang suami tercinta.

Setiap bulan Sang Bunda mengirimkan sejumlah uang ke rekening Acong, sebagai biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah dan buku, biaya rumah tangga dan biaya sewa rumah.

Praktis, si sulung Acong lah yang harus mengurus dan merawat kedua orang adiknya untuk menggantikan peran orang tuanya.

Setiap hari, Acong memberikan uang saku kepada kedua orang adiknya dengan besaran yang berbeda.

Namun, entah mengapa.... hari ini ketika hendak makan malam bersama, si bungsu Amon mempertanyakan suatu masalah yang sebenarnya sudah menjadi keseharian mereka yaitu masalah pembagian uang saku yang tidak merata.

Amon : "Bang, bolehkan saya bertanya sesuatu hal?"

Acong : "Iya adikku sayang? Ada masalah apa? Apakah kamu masih terus diganggu oleh teman sekolahmu gara-gara kamu seorang anak yatim?"

Amon : "Bukan begitu bang... Saya ingin bertanya, mengapa uang saku saya jumlahnya beda dengan bang Amin? Kelihatannya Abang sudah berlaku tidak adil..."

Acong tersenyum mendengar pertanyaan si bungsu, namun tidak menunjukkan dirinya tersinggung atau marah.

Acong : "Menurut kamu, adil itu bagaimana?"

Amon : "Adil itu artinya sama banyak. Uang yang saya terima seharusnya sama banyak dengan yang diterima bang Amin. Supaya kelak tabungan saya bisa sebanyak tabungan bang Amin..."

Acong : "Ohhh....begitu yah? Sebentar...saya ke belakang dulu mengambil mangkok milik kalian berdua dulu, untuk diisi sop tahu buatanku".

Tidak berapa lama, si sulung Acong yang sangat bijaksana itu mengambil dua buah mangkok. Yang lebih besar milik adik pertamanya, Amin dan yang lebih kecil milik si bungsu Amon.

Acong : "Sekarang coba kalian berdua melihat apa yang saya lakukan. Saya akan mengisi sop tahu ke dalam mangkok kalian masing-masing hingga penuh. Kalian sudah terbiasa dengan menghabiskan sop di mangkok tanpa sisa. Apakah kalian merasa kenyang dan puas?"

Kedua adiknya menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang dikatakan abang tertua mereka.

Acong : "Sop yang ada di mangkok jangan kalian habiskan dulu. Sekarang coba kalian mengambil sebuah mangkok kosong seukuran dengan kepunyaan masing-masing dari dalam lemari. Letakkan di atas meja, berdampingan dengan mangkok yang sudah terisi sop..."

Amin dan Amon mengikuti arahan dari Acong.

Di hadapan Amin, terdapat dua buah mangkok besar, yang satu terisi penuh sop dan yang satu lagi masih kosong.

Di hadapan Amon, terdapat dua buah mangkok kecil, yang satu terisi penuh sop dan yang satu lagi kosong.

Kemudian Acong memberikan instruksi lanjutan...

Acong : "Sekarang, dik Amon menuangkan mangkok yang berisi sop ke mangkok kosong milik Amin dan dik Amin juga menuangkan mangkok yang berisi sop ke mangkok kosong milik Amon. Lihat apa yang terjadi?"

Mereka berdua melakukan semua instruksi dari Acong...

Alhasil, mangkok kosong milik Amin, belum terisi penuh karena mangkok milik Amon terlalu kecil.

Sebaliknya, sop tumpah membasahi meja tatkala Amin menuangkan semua sop ke dalam mangkok kecil Amon.

Si sulung Acong tersenyum melihat mimik muka lucu kedua adik tercinta.

Acong : "Adikku Amon yang tersayang, lihat bagaimana mangkok kecilmu tidak akan sanggup menampung semua sop dari mangkok besar Amin".

Acong melanjutkan penjelasannya : "Jika adil menurutmu adalah sama banyak... Maka seharusnya saya memberikan jumlah sop buat kamu, sama banyak dengan jumlah sop buat Amin... Namun, ternyata, mangkok kecilmu tidak sanggup menerimanya".

Amon menyela : "Jika begitu, besok abang tolong belikan mangkok yang sama besar dengan mangkok bang Amin..."

Amin : "Begini adikku, jika besar mangkok kamu sama besar, apakah kamu sanggup menghabiskan semua sop di dalam mangkok besar?"

Amon terdiam dan menundukkan kepala...

Tidak berapa lama, Amon menggelengkan kepalanya...

Amin segera memeluk kedua adik tersayangnya sambil berkata : "Kita adalah anak yatim yang masih diberi penghidupan yang layak oleh Tuhan. Saya yakin, pasti saat ini kita sangat merindukan Ibu kita...seorang single fighter yang rela berkorban untuk anak-anaknya..."

Serentak mereka bertiga berkata dalam uraian air mata : "Kami rindu Ibu... Kami sangat kangen dengan Bunda di hari raya Imlek ini...".
_____________________________

Sobatku yang budiman...

Hikmah yang dapat diambil dari cerita di atas adalah : "Keadilan itu bukan bergantung dari jumlah yang diterima, melainkan dari ukuran serta kemampuan kita untuk menerimanya".

Tidak jarang kita mengeluhkan nasib kita yang kurang beruntung dibandingkan dengan orang lain : "Mengapa dia kebih kaya dari saya, padahal saya lebih rajin darinya, lebih religius dari dia dan aku bahkan lebih baik darinya".

Percayalah...

Tuhan pasti tahu akan ukuran dan kemampuan setiap hamba-Nya.

(Salam Keadilan - Salam UFO) by Firman Bossini