Tangga Darurat

Tangga Darurat - Abece dan sahabat akrabnya Xwaizet sedang menikmati kopi hangat buatan si Anita, pegawai dari warung Bu Sur, bukan buatan si Anida yang sudah dipecat karena meracuni bebek Bu Sur.

Dari jauh terlihat Miyabi berjalan cepat menuju ke arah mereka.
Dengan nafas masih terengah-engah, Miyabi mengajak Abece dan Xwaizet ke kantor bapaknya di kota karena ada barang penting ketinggalan di sana.

Dengan berbonceng tiga menggunakan sepeda motor Xwaizet mereka segera menuju ke kota.
Sesampainya di gedung berlantai 50 mereka bergegas menuju lift.

Apa daya, ternyata lift gedung sedang tidak berfungsi karena sedang ada pemadaman PLN.
Seorang satpam mengabarkan bahwa genset gedung juga sedang mengalami kerusakan.
Alhasil mereka harus menggunakan tangga darurat karena ruangan kantor bapak Miyabi terletak di lantai terakhir alias lantai 50.

Sebenarnya Abece dan Xwaizet enggan menemani Miyabi karena membayangkan harus menaiki tangga satu per satu hingga lantai 50.

Namun karena kasihan melihat Miyabi harus berjalan sendirian, takut ntar diganggu oleh orang-orang yang lalu lalang menggunakan tangga darurat, akhirnya Abece dan Xwaizet bersedia menemani Miyabi.
Xwaizet : "Bro, kamu kan orang pintar. Ada ide bagaimana caranya agar kita dapat menaiki tangga darurat ini dengan tidak merasa capek?"
Abece berpikir sejenak...

Tingg...!!!
Sebuah ide brillian muncul dari kepala Abece...
Abece : "Begini saja... Kita menaiki tangga setinggi 50 lantsi dengan saling bercerita. Saya akan bercerita tentang cerita yang lucu-lucu dari lantai 1 sampai dengan lantai 20. Kamu, Xwaizet melanjutkan dengan cerita seram-seram dari lantai 21 sampai dengan lantai 40. Dan terakhir Miyabi bercerita tentang cerita-cerita sedih dari lantai 41 sampai lantai 50. Bagaimana menurut kalian?"
Xwaizet dan Miyabi serempak menjawab : "Mantap juga otak kamu... Setuju banget."

Segera mereka bertiga menuju tangga darurat yang terletak di belakang gedung.

Abece memulai dengan memceritakan pengalaman pribadinya yang koplak. Saking lucunya, mereka bertiga terus menerus tertawa sepanjang jalan hingga tidak terasa sudah sampai di lantai 20.

Selanjutnya giliran Xwaizet menceritakan cerita yang seram-seram. Saking seramnya, mereka segera melangkahkan kakinya secepat-cepatnya bagaikan sedang dikejar hantu pocong. Tak terasa juga mereka sudah sampai ke lantai 40.

Sekarang tibalah saatnya bagi Miyabi untuk menceritakan kisah yang sedih-sedih.

Entah karena Miyabi yang bercerita dengan penuh perasaan atau barangkali Abece dan Xwaizet yang terbawa arus perasaan karena harus mengarungi 50 lantai melalui tangga darurat, akhirnya mereka bertiga larut dalam kesedihan yang begitu dalam.

Sambil berjalan menaiki anak tangga, air mata terus bercucuran, dan jatuh membasahi lantai tangga.
Tidak terasa, mereka sudah hampir sampai ke tujuan yaitu lantai tertinggi di gedung ini. Tinggal 1 lantai lagi mereka akan menemukan ruangan kantor bapak Miyabi.

Miyabi : "Sebenarnya saya lupa menceritakan sebuah cerita sedih lagi, lebih sedih dari semua ysng tadi saya ceritakan."

Abece : "Sudah cukup sayangku. Sudah hampir kering air mataku mendengar ceritamu dari tadi.."
Miyabi : "Benaran...ini ada satu cerita yang paling sedih, tolong dengarkanlah..."

Abece dan Xwaizet tidak mampu melihat ratapan Miyabi dan akhirnya memperbolehkan Miyabi untuk bercerita.

Miyabi : "Sorry banget yah. Tadi papa pesan kalau kunci ruangan harus diambil di ruang utama sekuriti?"

Abece : "Dimana ruang utama sekuriti?"

Miyabi : "Maaf beribu maaf.... Lantai basement..."

Plak...plak...
Terdengar dua kali suara gamparan di kulit manusia....

Ternyata Abece dan Xwaizet sama-sama menepok jidatnya masing-masing dengan sangat keras.
Abece berkata : "Alamakkkkk....
Lantai basement, Cin.... Ini lantai 49 bro... Matilah Eike naik turun tangga lagi..."
Singkat cerita mereka bertiga harus menjalani ritual naik turun naik tangga sebanyak 198 lantai, sebelum meninggalkan gedung untuk sebuah barang yang sangat penting....yaitu "Gigi Palsu Nenek Miyabi".

Gubrakkkk....
(Salam cekikik - Salam UFO) by Firman Bossini