Salah Sebut Nama

Salah Sebut Nama ( Edisi 2: Pengalaman Pribadi ) - "Apalah arti sebuah nama". Demikian pujangga dunia, William Shakespear mengungkapkan...

Namun, bagiku eksistensi sebuah nama itu menjadi begitu penting, tatkala kita melakukan kesalahan dalam menyebutkan nama orang pada momen penting tertentu.


Ada kejadian yang cukup memalukan diriku dan sangat membekas di benakku hingga kini.

Kebetulan, saat itu saya sekolah di SMA Negeri 1 Medan. Di dalam kelas, hanya saya sendiri yang yang berasal dari suku Tionghoa.

Kami semua berteman dengan sangat baik tanpa merasa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Intinya kami sekelas sangat kompak dalam satu ikatan kekeluargaan yang utuh.

Kejadian yang memalukan diriku, berawal dari meninggalnya orang tua dari temanku Jenny ( Jey Jones ).

Untuk mengungkapkan rasa turut belasungkawa, ketika Jenny kembali hadir di tengah-tengah kami, setelah absen beberapa hari, wali kelas kami Bpk Sudiono, mengucapkan sepatah dua kata kata sambutan mewakili para guru.

Selanjutnya, Bpk Sudiono memilih satu diantara kami untuk memberikan ucapan belasungkawa mewakili teman-teman sekelas. Kebetulan saya yang terpilih untuk melaksanakan misi ini.

Saya terkejut dan cukup surprise atas penunjukan ini. Saya berusaha tetap tenang, walaupun raut wajah saya tidak dapat menutupi perasaan gugup dan minder.

Akhirnya dengan bermodal keberanian, saya berjalan ke depan kelas dengan diiringi oleh tatapan puluhan mata dari teman-teman sekelas.

"Selamat pagi... Salam sejahtera buat kita semua. Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di dalam kelas ini dalam keadaan sehat walafiat. Mewakili teman-teman semua, saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya orang tua Sudiono........."

Saya masih tidak menyadari kesalahan ucapan dan terus melanjutkan kata-kata sebagai berikut :
"....semoga keluarga sahabat kami, Sudiono ...."

Untuk kedua kali saya melakukan blunder.

Beberapa temanku memberikan kode agar saya meralat ucapan yang keluar dari mulut ini, tanpa kusadari.

Namun saya tidak melihat kode tersebut, sebab sejujurnya, saat berpidato, tatapan mata saya kosong ke depan atau kadang menunduk ke bawah.

Bapak Sudiono segera menepuk pundakku, seraya berbisik : "Jenny...bukan Sudiono.."

Bagaikan tersadar, saya segera meralat ucapakanku...

Mukaku terlihat merah padam bagaikan kepiting rebus. Malu bok....!!!!

Dan, yang membuat saya salut adalah perilaku teman-temanku yang tidak menertawakan diriku atau mengejek diriku. Two thumb for you guys...

Sejak saat itu, saya berjanji untuk belajar berpidato, dengan media cermin di dalam kamar.

Untuk merealisasikan tekadku, saya juga membeli sebuah buku berjudul "Cara Berpidato Yang Baik" di toko buku Gramedia.

Ternyata usaha saya tidak sia-sia...dan amat berguna bagi saya dalam menjalani kehidupan berorganisasi maupun dalam berbisnis di usia muda...hingga kini...

Terima kasih kepada Bapak Sudiono, salah satu guru teladan SMA Negeri 1 Medan, guru idolaku, yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar "public speaking", melalui penunjukan langsung yang tidak terduga-duga.

(Quote : Setiap kesalahan yang terjadi, pastilah ada hikmah positif jika kita dapat mengelola perasaan hati dengan baik, bukan dengan berburuk sangka)

(Salam Malu-Maluin - Salam UFO) by Firman Bossini