Prasangka: Edisi 1 - Pengalaman Pribadi

Prasangka: Edisi 1 - Pengalaman Pribadi - Ada satu kejadian diantara ratusan kejadian menarik yang masih bersemayam dalam benakku hingga saat ini, mengenai prasangka buruk dari seorang sahabatku.

Sahabatku yang bernama Roland (nama samaran) cukup akrab denganku, melewati suka dan duka bersama-sama.

Hingga suatu hari, Roland mengirim SMS kepadaku.

Roland : "Bro, lagi ngapaen? Bisa minta tolong? Aku lagi butuh duit 500 ribu. Penting sekali. Nanti kalau sudah di Medan, aku pasti balikin. Thanks yah..."

Aku membalas SMS Roland : "Okay, bro. Tapi tunggu sejam-an lagi yah. Soalnya aku lagi kuliah. Ntar aku kabarin kalau sudah ku transfer".

Namun...
Sudah lewat satu jam, aku belum juga memberi kabar.

Ketika Roland menelepon, ternyata hapeku juga tidak aktif, alias tidak dapat dihubungi.

Roland merasa sangat kecewa terhadap kelakuanku yang tidak bisa dihubungi.

Dua jam kemudian, Roland mencoba kembali menghubungi hapeku, namun lagi-lagi yang muncul suara "veronica" (suara mesin otomatis yang berbunyi : "Telepon yang Anda tuju, tidak dapat dihubngi. Silakan coba beberapa saat lagi").

Kejadian ini menambah kemarahan dirinya kepadaku. Roland menganggapku bukan lagi sebagai seorang sahabat.

"Masak gara-gara 500 ribu, dia harus menghindar dariku. Kalau tidak ada duit, bilang saja terus terang. Kalau begitu khan aku bisa cari alternatif lain. Parah nih...", Roland berkata dalam hati yang sedang jengkel.

Akhirnya setelah 3 jam, Roland mengirim SMS kepadaku.

Roland : "Bro, aku tidak menyangka kamu berbuat begitu keji kepadaku. Selama ini aku tidak pernah mengecewakan dirimu. Kita selalu saling tolong menolong. Di kala kamu susah, aku selalu mengulurkan tanganku untukmu. Demikian juga dengan dirimu. Mengapa saat ini kamu sudah berubah? Apakah salahku padamu? Sebaiknya kita putuskan saja hubungan persahabatan ini".

Tapi status pengiriman SMS-nya adalah "PENDING" alias belum terkirim.

Namun, 10 menit kemudian, ada telepon masuk dariku kepada Roland...

Muncul sedikit keraguan dalam benak Roland untuk menerima atau me-reject panggilanku.
Akhirnya Roland menerima juga panggilan teleponku.

Roland : "Tak kusangka dirimu bisa berbuat demikian kejam... Mengapa kamu tidak bisa dihubungi...?"

Belum sempat kujawab pertanyaan Roland, tiba-tiba ada SMS masuk ke hape baruku.
"Sorry, bro... Bentar yah.. Ada SMS masuk, mungkin ada yang penting setelah hapeku tidak aktif 3 jam-an. Sorry...", jawabku.

Aku segera mematikan panggilan percakapan dari Roland dan membuka folder message untuk melihat siapa yang mengirim pesan kepadaku.

Ternyata SMS ini berasal dari Roland, walaupun tidak tertulis nama Roland sebagai pengirim (hape baru yang belum sempat aku input nama-nama teman dan nomor hape mereka).

Setelah selesai kubaca SMS dari Roland yang kuanggap cukup "kasar" (menurut ukuranku), aku segera menghubungi Roland kembali dan berkata dengan bibir agak bergetar :
"Oh My God, bro.... Kamu kok begitu sich sama aku? Prasangka negatif dan buruk sangkamu telah menusuk hatiku yang terdalam. Semoga Tuhan mengampunimu, brooo..."

Roland menyela pembicaraanku dan berkata : "Jadi, mengapa kamu harus menghindariku? Kalau sedang tidak ada duit, kan bisa langsung menelepon aku, bilang belum ada duit. Jangan pakai acara matiin hape donk..."

Aku tertegun dengan ucapan Roland dan berupaya untuk bersabar : "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mematikan hape, bro. Apalagi untuk lari menghindar darimu. Hapeku hilang tercecer entah dimana? Mungkin saja dicopet".

Aku melanjutkan : "Karena janjiku untuk mengirim duit kepadamu, sementara nomor rekening bank punyamu ada di hapeku yang hilang, maka aku buru-buru pergi ke gerai Telkomsel untuk mengganti kartu baruku. Itupun harus melalui proses antrian yang lumayan panjang. Padahal ada yang harus aku selesaikan, namun kutinggalkan dulu karena kamu pasti sedang butuh banget. Selanjutnya aku pergi ke mal sebentar untuk membeli hape baru. Sesegera mungkin aku langsung menghubungi kamu, dan ternyata kamu tampak begitu marah kepadaku."

Roland berkata dengan pelan : "Sorry bro... Saya salah..."

Aku : "Untunglah aku masih menghafal nomor hape kamu. Jika tidak, bisa kamu bayangkan apa yang akan terjadi? Persahabatan yang sudah terjalin sejak awal kuliah hingga kini, pasti akan berakhir...". (Medan, Mei 1996) by Firman Bossini

(Quote : Jangan pernah berprasangka buruk kepada orang lain karena kita tidak tahu jalan kehidupan yang telah dijalaninya)