Operasi Tangkap Tangan

Operasi Tangkap Tangan - Istilah "tangkap tangan" menjadi populer kembali saat KPK berhasil menciduk salah satu wakil rakyat yang berparas rupawan, Damayanti Wisnu Putranti (DWP), politisi dari PDIP.

DWP diamankan di kawasan Senayan karena diduga menerima suap dari seorang perantara pengusaha. Uang panas itu disinyalir untuk melicinkan sebuah calon proyek infrastruktur.
Nah...

Apa salahnya si tangan ini hingga harus dioperasi? Tangan tidak bersalah, dan bukan untuk dibedah.
Istilah "tangkap tangan" merujuk pada saat para penegak hukum menangkap para tersangka lengkap dengan barang bukti.

Seharusnya istilah Operasi Tangkap Tangan (OTT) diganti dengan istilah "Operasi Telanjang Diri (OTD)". Sebab pelaku telah menelanjangi diri sendiri setelah ketahuan berbuat kejahatan.
Dimanakah letak perasaan "malu" pada diri pribadi, tanpa merasa bersalah telah "memalukan" harkat martabat diri dan keluarga karena begitu kecilnya "kemaluan" yang dimiliki akibat "dipermalukan" oleh kelakuan yang "malu-maluin"?

Khusus menghadapi operasi tangkap tangan oleh KPK, sebenarnya para pejabat dan politisi hitam memiliki banyak akal bulus untuk menghindar.

Ada politisi Senayan yang sampai memiliki 9 handphone hanya untuk mengacak pembicaraannya agar tidak tersadap oleh KPK.

Ada yang hampir setiap minggu mengganti nomor ponsel dengan tujuan yang sama.
Ada pula yang tidak pernah lagi membicarakan kata "uang" dengan makna sejenis, namun menggantinya dengan kata sandi apel, duren atau bendera.

Hanya saja, para pelaku kriminal dan korupsi itu lupa dengan kenyataan bahwa semua pelaku kejahatan pasti akan meninggalkan jejak.

Apapun itu....!!!
Mereka tidak menyadari bahwa tidak semua langkahnya bisa dihapus. Bahkan, tidak sedikit dari mereka sengaja menghindari pertemuan rahasia yang lokasinya terpantau oleh kamera CCTV.

Mereka tidak lagi bertransaksi di tempat umum seperti, hotel, restoran atau tempat karaoke. Lokasi kegiatan pemufakatan jahat telah mereka geser ke rumah atau apartemen yang jauh dari keramaian. Harapannya, makin sedikit terlihat oleh saksi mata.

Untunglah saat ini, para penegak hukum, khususnya KPK telah dilengkapi oleh sarana dan prasarana yang canggih untuk "mengendus" jejak para "pengkhianat amanat rakyat". Hingga saat ini, KPK sudah berulang kali sukses melaksanakan misinya.

Dan yang harus diingat oleh kita semua bahwa Tuhan Maha Menyaksikan atas segala sesuatu kejadian di muka bumi.

Semua pelaku kejahatan senantiasa berusaha agar selamat dari operasi tangkap tangan. Di sini, di dunia yang fana ini, kita bisa selamat. Tapi, di hari pembalasan, tak akan ada yang bisa menghindar lagi.

Manusia kini hidup diantara kesenangan dan kebutuhan.

Kesenangan sering menjanjikan kebahagiaan palsu.

Kebutuhan yang over dosis atau diluar batas kepatutan/kewajaran juga akan membuat kenyamanan hidup terus terusik.

Dan bukan mustahil keduanya (kesenangan–kebutuhan) yang lepas kendali, pasti akan berujung pada penderitaan juga.

Manusia sekarang berupaya keras mengejar penghasilan atas dasar paham hedonisme (menghambakan materi atas dasar kesenangan hidup).

Dengan penghasilan tersebut, dapat mendorong manusia untuk maju (need of achievement). Kebanyakan manusia mengejar sesuatu yang masih dalam bayangan supaya menjadi kenyataan.
Alhasil manusia telah menjadi subyek dan obyek saling mengejar karena ada kepentingan tertanam (vested interest).

Sayangnya mereka lupa bahwa "saling mengejar" itu amat melelahkan sebab materi yang mereka kejar itu, belum tentu dapat diperoleh. Alhasil, tindak kriminal menjadi satu-satunya cara untuk mewujudkannya.

Dan, sebentar lagi kita akan disuguhkan sebuah tontonan melodrama yang memuakkan....
Setelah keluar dari ruangan pemeriksaan KPK, para tersangka biasanya akan tersenyum dan mengucapkan sebuah kalimat indah yang bernuansa religi : "Ini merupakan cobaan dari Tuhan. Saya harus tabah untuk menjalani semua ujian yang maha berat ini. Mohon doa restu dari seluruh rakyat Indonesia supaya saya kuat menghadapinya".

Haaahhh???
Cobaan??? Ndasmu...!!!
Kalo tidak ketangkap, kamu pasti akan bersenang-senang melupakan janjimu kepada kami...!!! Dan akan mengulanginya kembali...!!!
Ke laut saja gih...!!!
Dan satu lagi....
Biasanya mereka segera bergegas memburu Yang Maha Kuasa, dalam sebuah doa yang khusyuk untuk mendapatkan segenggam kekuatan, bukan penyerahan jiwa sebagai suatu penyesalan diri.
Sebab mereka bakal melakukan hal serupa jika diberi kesempatan lagi.
Capek dech...

Sepiring nasi putih dengan acar timun pedas menemaniku melihat melodrama picisan dari para pelaku korupsi.

(Salam Telanjang Diri - Salam UFO) by Firman Bossini