Kisah Lima Lilin Dan Sang Angin

Kisah Lima Lilin Dan Sang Angin - Lilin adalah sebuah benda yang sungguh ajaib. Untuk menerangi ruangan, sebatang lilin kecil akan lebih berguna daripada sebatang tiang listrik yang jauh lebih besar ukurannya.

Alkisah...
Terdapat 5 buah lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit bentuk mereka akan mengecil dan akhirnya akan habis meleleh.

Dalam ruangan yang begitu hening, mereka berlima hanya ditemani oleh Sang Angin yang sedang diam membisu.

Tidak berapa lama kemudian, mereka terlibat dalam suatu percakapan. Sang Angin masih tidak bergeming dari posisinya dan hanya mendengarkan celotehan mereka.

Lilin pertama berkata :
"AKU ADALAH KEDAMAIAN. Saya sangat sedih karena manusia sekarang tidak lagi mengagungkan diriku lagi. Mereka menjadi sangat kejam satu sama lain oleh karena hal-hal sepele. Manusia tidak lagi memilih kedamaian dalam hidupnya. Wahai angin, berhembuslah untuk mematikan diriku."

"Husssshhhh....hushhhh....", Sang Angin menghembuskan nafasnya ke arah Lilin Kedamaian dan lilin ini pun langsung padam.

Lilin kedua berkata :
"AKU ADALAH CINTA. Saya juga merasa sangat sedih karena manusia sekarang lebih memilih nafsu daripada cinta. Nafsu untuk berbuat kejahatan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Manusia juga lebih suka dengan kebencian. Membenci orang lain yang tidak sependapat, membenci orang yang tidak seiman dan bahkan membunuh mereka yang tidak sealiran dengannya. Saya juga tidak ingin menyala lagi. Wahai angin, berhembuslah untuk memadamkan diriku."

"Hushhhh....hushhhhh....", Sang Angin mengabulkan permintaan Lilin Cinta.

Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara:
“AKU ADALAH KEADILAN. Setiap malam aku menangis melihat ketidakadilan di muka bumi. Yang lebih kuat selalu menindas yang lebih lemah. Saat ini manusia membiarkan ketidakadilan menguasai kehidupan mereka. Saya merasa tidak berguna lagi. Wahai angin, saya juga tidak ingin menyala lagi.”

Saat ini hanya tinggal tersisa dua buah lilin yang menyala, ditemani oleh Sang Angin yang mulai menunjukkan gejala tidak senang.

Lilin keempat mulai berujar untuk mengeluarkan uneg-unegnya yang sudah terpendam sekian lama :
"AKU ADALAH KEMAKMURAN. Aku adalah saudara kembar dari Lilin Keadilan. Kami terlahir dari rahim yang sama, dengan nama Adil dan Makmur. Mengapa kemakmuran menjadi barang yang langka? Yang paling dominan saat ini adalah kemiskinan dan kemelaratan. Manusia-manusia bodoh itu sudah kehilangan jati dirinya sebagai makhluk mulia. Mereka sudah lupa apa dan bagaimana menciptakan kemakmuran bagi diri, lingkungan, keluarga dan rakyatnya. Saya malu... Wahai Angin, mohon padam diriku yang tiada berguna ini".

"Hussshhhh....hushhhh....", Sang Angin dengan terpaksa harus memadamkan lilin keempat.
Tinggallah sebuah lilin yang terus menyala...

Jika lilin ini turut padam, maka akan berakhirlah kehidupan manusia di muka bumi ini.

Sang Angin yang juga mulai frustasi, bertanya kepada lilin yang kelima : "Apakah kamu juga tidak ingin menyala lagi? Mohon segera beritahu kepadaku sekarang juga..."

Lilin kelima menegakkan sumbu agar apinya dapat menyala lebih besar lagi, lalu berkata :
"AKU ADALAH HARAPAN dan IMPIAN. Aku tidak akan pernah padam. Aku akan tetap menyala demi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Tuhan menciptakan langit, bumi dan seisinya dengan sebuah pengharapan agar kelak manusia dapat bahu membahu menciptakan KEDAMAIAN, CINTA, KEADILAN serta KEMAKMURAN. Aku adalah HARAPAN dan IMPIAN atas segalanya. Aku akan menyalakan kembali semua lilin yang telah padam".

Akhirnya Sang Angin dapat tersenyum dengan lega setelah mendengar ucapan dari lilin terakhir. Ketakutan akan berakhirnya semua kehidupan manusia, sirna oleh adanya lilin "Harapan dan Impian".

_____________________________
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN dan IMPIAN yang senantiasa bersemayam dalam hati sanubari kita….

Jangan menyerah sobatku...

(Salam Pengharapan - Salam UFO) by Firman Bossini