Gelang Eiffel

Gelang Eiffel - Cerita ini merupakan cerita fiksi (bukan cerita sebenarnya) mengenai seorang gadis kecil berumur 5 tahun yang bernama Eiffel.

Pada suatu sore, Eiffel menemani Mamanya berbelanja di Pasar Ramai, sebuah pasar tradisional yang terkenal di kota Medan.

Seperti biasanya, sebelum berangkat ke pasar, supermarket maupun mal, Eiffel sudah berjanji tidak akan meminta barang apapun selain yang sudah disetujui Sang Mama untuk dibeli.

Ketika Mamanya sedang sibuk memilih disc film, Eiffel melihat sebentuk gelang imitasi mungil berwarna emas berkilauan, di dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat indah.

Gelang tersebut kelihatan begitu cantik dan pas di pergelangan tangan Eiffel, sehingga Eiffel sangat ingin memilikinya. Tapi, Eiffel tahu pasti bahwa Mamanya akan berkeberatan dan menolak permintaanya.

Sebelumnya Mamanya sudah membelikan sebuah boneka Marsha kegemaran Eiffel.
Namun karena keinginan yang begitu kuat untuk memiliki gelang emas tersebut, Eiffel memberanikan diri untuk bertanya : "Ma, bolehkah Eiffel memiliki gelang emas itu?"
Eiffel mengarahkan jari telunjuknya ke gelang yang berada di dalam meja pajangan di toko sebelah.
Kemudian Eiffel bertanya lagi : "Mama...bolehkah Eiffel memiliki gelang tersebut? Mama boleh mengembalikan boneka Marsha kesukaanku ke toko boneka tadi. Eiffel benar-benar pengen sekali. Boleh yah Ma..."

Mamanya melihat begitu besar keinginan Eiffel, akhirnya mengarahkan langkahnya ke toko sebelah dan menanyakan harga gelang tersebut.

Ternyata harga gelang tersebut dua kali lebih mahal dari harga boneka yang sedang dipegang Eiffel.
Mamanya melihat ke arah mata Eiffel yang juga sedang memandangnya dengan penuh pengharapan.
Sebenarnya Mamanya bisa saja langsung membelikan gelang itu untuk sang buah hati, namun dia tak mau bersikap tidak konsisten.

"Baiklah jika itu maumu, Eiffel. Eiffel boleh memilik gelang emas ini, namun Eiffel harus mengembalikan boneka Marsha yang sudah dibeli tadi. Dan karena harga kalung lebih mahal dari boneka yang Eiffel pilih, maka Mana akan mengurangi uang jajan Eiffel minggu depan. Apakah Eiffel setuju?"

Eiffel mengangguk ddan tersenyum lega.

"Terimakasih Mama", kata Eiffel sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Mamanya.
Ternyata, Eiffel sangat menyukai dan menyayangi gelang emas tersebut. Menurutnya, gelang emas itu telah membuatnya kelihatan cantik dan menawan.

Eiffel merasa dirinya saat ini secantik Mamanya. Gelang itu tak pernah lepas dari pergelangan tangannya.

Gelang itu hanya akan dilepas Eiffel ketika dia hendak mandi atau berenang.

Mamanya ada mewanti-wanti Eiffel, bahwa jika gelang itu sampai basah, maka warnanya akan memudar dan dapat menyebabkan pergelangan tangan Eiffel menjadi kehijauan.

Setiap malam saya selalu membacakan dongeng anak untuk menemani Eiffel tidur. Kebiasaan ini telah kulakoni sejak Eiffel sudah mengerti tentang cerita dongeng yang kusampaikan.

Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita dongeng mengenai kisah "Seorang Permaisuri Kerajaan", saya bertanya kepada Eiffel : "Sayangku, Eiffel sayang gak sama Papa?"
Eiffel menjawab dengan mimik yang lucu : "Tentu dong, Pa... Eiffel pasti dong sayang banget sama Papa. Eiffel juga sayang sama Mama. Pokoknya sayang sekali sama Papa dan Mama".

Saya menjawab : "jika Eiffel sayang kepada Papa, mau nggak Eiffel memberikan gelang emas yang melingkar di tangan Eiffel?"

Eiffel menyela sambil menjauhkan tangan yang ada gelangnya dariku : "Jangan dong Pa... Gelang ini kan sudah menjadi milik Eiffel dan Eiffel sangat suka memakainya. Papa kan bisa membeli gelang yang lebih besar dan lebih bagus dari ini".

Saya bertanya lagi : "Berarti Eiffel tidak sayang dong sama Papa?"

Eiffel : "Bukan begitu Pa... Papa boleh ambil boneka Doraemon kesayanganku, atau barang milik Eiffel yang lain, kecuali gelang ini".

"Okelah kalau begitu...gak pa pa kok. Tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang Eiffel boleh tidur". Saya mencium kedua pipi dan kening Eiffel sebelum keluar dari kamar.

Kira-kira seminggu kemudian, setelah selesai membacakan cerita dongeng anak mengenai "Anak Petani Yang Baik Hati", saya kembali bertanya lagi, "Eiffel..., Eiffel sayang nggak sih, sama Papa?"

Eiffel : "Papa inilah... Berulangkali menanyakan hal sama. Papa pasti tahu kalau Eiffel sayang sekali sama Papa".

"Kalau begitu, tolong berikan gelang emasmu kepada Papa", ujar saya dengan nada memohon.
"Jangan begitulah Pa... Jika Papa mau, Eiffel akan memberikan mobil remote control ini kepada Papa", kata Eiffel seraya menyerahkan mobil remote control favoritnya.

Ternyata, dua kali permintaanku akan gelang emas yang dipakainya, cukup mengganggu pikiran Eiffel.

Hingga suatu ketika, saat saya masuk ke dalam ruang tidurnya, saya melihat Eiffel sedang tidur terlungkup. Gelang emasnya sudah dilepas dan saat ini berada di dalam genggaman Eiffel.

Ketika saya berjalan mendekatinya, aku melihat air mata Eiffel mengalir membasahi wajah imutnya. Rupanya Eiffel sedang menangis diam-diam.

Saya terkejut dan segera membelai kepalanya sambil bertanya : "Ada apa anakku sayang? Mengapa Eiffel menangis? Eiffel sakit?"

Eiffel tidak bergeming dan masih dengan posisi telungkup. Tidak berapa lama kemudian, Eiffel bangkit dari tidurnya dan menyerahkan gelang emas kesayangannya kepadaku.

Eiffel : "Jika Papa benar-benar menginginkan gelang ini, ambillah Pa. Eiffel ikhlas kok. Kan Eiffel sayang banget sama Papa".

Saya tersenyum kegirangan...

Saya segera mengambil gelang itu dari genggaman tangan Eiffel, lalu saya masukkan ke dalam saku atas baju tidurku.

Dari kantong celana, saya mengeluarkan sebentuk gelang emas yang asli dan bukan imitasi.

Walaupun sedikit berbeda, namun jika diperhatikan sekilas, gelang emas itu mirip dengan gelang kesayangan Eiffel...

"Eiffel, anakku yang paling kusayang.... Papa memberikan gelang pengganti untuk Eiffel. Mirip bukan? Memang begitu nampaknya, tapi gelang ini tidak akan membuat pergelanganmu menjadi hijau".

_____________________________
Sobatku yang budiman...
Demikian pula halnya dengan Tuhan...

Terkadang Tuhan "meminta sesuatu" dari kita, karena sebenarnya Dia berkenan untuk menggantikan "sesuatu" yang menjadi milik kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Namun, kebanyakan dari kita, sering berperilaku seperti Eiffel, gadis mungil yang masih masih dangkal kemampuan cara berpikirnya.

Kita akan senantiasa menggenggam erat sesuatu yang dianggap amat berharga, dan tidak ikhlas bila harus kehilangan.

Untuk itulah perlunya sikap tawakal dan berpasrah diri, karena kita harus yakin bahwa Tuhan pasti akan mengganti sesuatu yang milik kita dengan yang lebih baik.

(Salam Pencerahan - Salam UFO) by Firman Bossini