Filosofi Pohon Bambu

Filosofi Pohon Bambu - Alkisah...

Pada suatu waktu, ada seorang pemuda sehat dan berbadan tegap hendak menjadi seorang pendekar terhebat setelah beberapa kali kalah bertarung dengan pemuda lainnya.

Untuk mewujudkan keinginannya, sang pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk mencari seorang guru sakti yang akan menurunkan ilmu kungfu terdahsyat kepada dirinya.

Setelah sekian lama mengembara, akhirnya sang pemuda berhasil menemui seorang guru sakti, sudah tua, berjenggot dan beralis putih.

Dengan bersimpuh di atas jedua lututnya, sang pemuda memohon agar Sang Guru sakti mau menerima dirinya menjadi muridnya.

Melihat keseriusan dan tekad kuat dari sang pemuda, akhirnya Sang Guru bersedia menerimanya menjadi murid dengan syarat tidak boleh membantah apapun yang diperintahkan olehnya.
Syarat berat telah menanti di hadapan sang pemuda...

Pagi hari harus bangun sebelum ayam berkokok, menyiapkan sarapan untuk semua penghuni perguruan dan mengambil air dari sungai yang letaknya sejauh tiga kilometer.

Siangnya harus berjemur dan berlatih mengangkat beban selama 2 jam.

Sore hari harus mencuci semua pakaian kotor dan menyiapkan makanan malam.

Dan sebelum tidur harus membereskan piring kotor dan berdiam diri di "ruangan pengosongan pikiran" untuk memperkuat nilai-nilai kebathinan.

Semua pekerjaan harus dilakukan setiap hari tanpa boleh alpa sehari pun . Jika gagal, maka Sang Guru tidak akan meneruskan niatnya untuk mengajari sang pemuda.

Hari berganti bulan...

Bulan berganti tahun...

Tidak terasa tiga tahun waktu berlalu demikian cepat...

Kegelisahan dan rasa bimbang mulai menyelimuti benak sang pemuda, tatkala dia merasakan Sang Guru hanya menyuruhnya melakukan pekerjaan tanpa sekalipun mengajari jurus-jurus silat.
Kebosanan mulai sampai titik ubun-ubunnya...

Akhirnya sang pemuda memberanikan diri untuk menanyakan mengapa dia tidak pernah diajari jurus-jurus sakti..

Sang Guru tersenyum mendengar pertanyaan polos tersebut. Beliau sangat memahami isi hati sang murid.

Sang Guru : "Marilah kita pergi ke halaman belakang perguruan ini. Di sana tumbuh banyak sekali pohon bambu"

Selanjutnya, Sang Guru memerintahkan sang pemuda untuk mencabut satu buah pohon bambu saja.
Lantas, pemuda tersebut berupaya sekuat tenaga untuk mencabut dan mengangkat sebatang pohon bambu. Sekilas kelihatan sang pemuda hampir berhasil, karena pokok bambu sudah bergoyang-goyang seperti hendak terlepas dari tanah.

Namun kenyataannya, sang pemuda tidak mampu mengangkat pohon bambu tersebut. Berulang kali dia mencoba, namun hanya kegagalan yang selalu diperolehnya. Dan memang akhirnya sang pemuda tidak berhasil melaksanakan perintah Sang Guru.

Dengan tenang dan penuh kebijaksanaan, Sang Guru mulai menjelaskan maksud dan tujuan dari perintahnya tadi.

Sang Guru mulai bercerita tentang daur hidup pohon bambu....

Bambu adalah tanaman sangat unik. Dalam empat tahun pertama, kita akan merasakan pohon bambu tumbuh sangat lambat. Hampir tidak ada perubahan yang berarti terjadi pada batangnya.

Namun, kita jangan sampai terkecoh dan menyatakan bahwa pohon bambu yang sedang ditanam bukanlah pohon bambu yang baik. Alias bambu bantet.

Sebenarnya, sedang terjadi transformasi yang luar biasa pada bagian akarnya.

Pohon bambu terlebih dulu membentuk sruktur akar yang kuat, mengeraskan tanah dan mengambil ruang bersaing dengan tanaman lain.

Akar bambu bertumbuh dengan cepat agar kelak dapat mengokohkan berdirinya batang.

Setelah pertumbuhan akar sudah rampung, barulah batang bambu akan muncul dan berkembang hingga menjulang ke atas.

Apakah keistimewaan pohon bambu dibanding pohon lain?

Mengapa pohon bambu tidak tumbang atau patah batangnya ketika diterpa angin kencang atau badai topan?

Apakah karena akarnya tumbuh menjulur sangat dalam?

Salah..!!! Akar pohon pinus jauh lebih dalam.

Apakah karena batangnya kuat?

Bukan..!!! Pohon jati lebih kuat batangnya dibandingkan pohon bambu.

Jika demikian, apakah yang menjadi penyebab pohon bambu bisa bertahan dalam hembusan angin kencang?

Rahasianya terletak pada kekuatan akar dan kelenturan batangnya...

Ketika badai dan angin ribut datang menerjang...

Akar bambu tetap berpegang pada pijakannya di dalam tanah. Bahkan akarnya justru menjadi kian mendalam. Badai justru membuat pohon bambu menjadi semakin kuat.

Akar bambu memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga dia tidak mudah patah dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya
Demikian juga dengan batang bambu yang akan bergoyang-goyang mengikuti gerakan irama angin. Uniknya lagi, gerakan batang pohon bambu seringkali menimbulkan suara mendesis yang cukup nyaring.

Batang bambu sangat lentur dan elastis, membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh tiupan angin ke segala arah, tanpa pernah berupaya melawan. Batang bambu bersifat lentur, yaitu bisa berlekuk atau melengkung.

Sifat lentur itu menyebabkan pohon bambu mampu bertahan dalam badai dan topan. Pohon bambu akan kembali berdiri tegak setelah angin badai berlalu. Pohon lain berkonfrontasi (melawan) terhadap angin, sebaliknya pohon bambu dapat beradaptasi.

"Wahai muridku yang masih sangat polos.... Saat ini kamu sedang membangun pondasi diri agar kelak kamu tidak terombang-ambing oleh pengaruh dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitarmu. Banyak sekali orang hebat yang harus jatuh karena tidak memiliki sifat seperti akar bambu, mereka mudah melakukan perbuatan tercela yang akhirnya dapat menghancurkan karir dan kehidupan mereka. Sudahkah kamu mengerti apa yang saya katakan?"

Sang pemuda menundukkan kepala sambil manggut-manggut tanda mengerti. Dia merasa malu karena berpikir sang guru pelit ilmu dan hanya berniat mempermainkan dirinya.

Sang Guru melanjutkan kembali ucapannya : "Jika kelak kamu sudah menguasai semua ilmu sakti yang kuajarkan, jangan sekali-kali kamu menjadi sombong dan jumawa. Jika kamu mulai berpikir untuk memamerkan kesaktian ilmumu, percayalah, kamu akan binasa dalam kegelapan dan hidupmu menjadi sia-sia belaka. Camkan itu baik-baik".

Akhirnya sang pemuda melanjutkan niat untuk menuntut ilmu dari sang guru sakti, sakti dalam ilmu bela diri dan sakti dalam ilmu kebijaksanaan.

_____________________________
Apa yang dapat kita pedomani dari cerita di atas? Pohon bambu..!!
Banyak sekali pembelajaran yang dapat dipetik dari pohon bambu :
(1) Kesetiaan dan Ketulusan
Filosofi bambu ini mengajarkan kita untuk setia menanam dan merawat. Walaupun hasilnya tidak langsung akan kelihatan, namun jika kita tetap gigih dan tulus berpegang pada komitmen maka sesuatu itu pasti akan indah pada waktunya.
Untuk menjadi baik dan memperoleh kesuksesan, tidak ada jalan lain selain ketekunan dan kegigihan dalam berusaha.
Namun, kebanyakan orang cenderung malas berproses, apalagi kalau proses itu sarat dengan kerja keras, keringat, dan penderitaan.

(2) Berdaya guna dan memiliki nilai manfaat
Selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. “Setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air."
Kita sebagai manusia sosial harus dapat menempatkan diri sebagai makhluk yang berguna dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

(3) Nilai Kesopanan
Semasa kecilnya, pohon bambu berdiri tegak. Tapi, saat tua akan menunduk. Ini lambang sebuah filosofi hidup yang selalu menjaga tata krama dan sopan santun.

(4) Menjadi diri sendiri
Meskipun berlatar tanaman rumput, pohon bambu berubah menjadi tanaman yang berbeda karakternya dibandingkan tanaman rumput lainnya. Kegunaan dan cara bambu mengekspresikan diri menjadikan nya sebagai pembeda.
Penentu keberhasilan hidup kita adalah bagaimana kita berupaya mengekpresikan potensi diri, dan membaurkan diri secara "homogen" dalam lingkungan sekitarnya. Tidak memandang sepenuhnya latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya, membuat kita menjadi pribadi yang luar biasa.

(5) Tegar dan tangguh
Ketika mendapat hembusan angin kencang, pohon bambu akan merunduk. Setelah angin berlalu, dia akan berdiri tegak kembali.
Seperti perjalanan hidup seorang manusia, pastilah tidak lepas dari cobaan dan rintangan. Jadilah seperti pohon bambu.
Yakinlah bahwa cobaan dan rintangan itu akan berlalu. Setelah itu segeralah bangkit dan berdiri tegak, seperti pohon bambu yang kembali tegak setelah angin berlalu.
Dalam keadaan sesulit apapun kita harus tetap tegar dan menjadi manusia tangguh. Jangan berlarut dalam kesedihan dan meratapi kegagalan yang telah terjadi.
Tidak berlama-lama mengutuki kegelapan, tetapi segera bangkit untuk menyalakan pelita.

(6) Flesibilitas (kelenturan)
Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap kokoh tak bergeming.

Pohon-pohon lain dengan batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya hembusan angin.

Kita perlu fleksibel dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Dengan begitu, kita tetap akan hidup dan menikmati hidup yang lebih bermakna, bagi diri sendiri dan orang lain.
Sobat-sobatku yang budiman...

Hidup hanya sekali.. Sejarah akan mencatat kita sebagai apa dari apa yang telah kita perbuat.
Kita tidak perlu menjadi orang besar, namun lakonilah hidup ini agar bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Jadilah seperti pohon bambu...
(Salam Pencerahan - Salam UFO) by Firman Bossini