Dongeng Mengenai Kejujuran Para Politisi Culas

Dongeng Mengenai Kejujuran Para Politisi Culas - Dulu sewaktu kecil, saya sangat memimpikan agar kedua orang tuaku dapat membacakan sebuah dongeng tentang tumbuhan atau hewan, sebelum tidur. Namun impian itu tidak pernah terwujud...

Sampai saat ini, saya tidak pernah menyesalinya, karena saya memaklumi sebuah kenyataan, bahwa dulu saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana.

Saking sederhananya, masih terbayang dalam ingatanku, ketika almarhum ayah membeli semangkok mie ayam.

Satu persatu dari kami berenam dipersilakan untuk menikmati semangkok mie lezat itu hanya dengan sekali suapan saja.

Sobat-sobatku yang budiman...

Pelajaran positif yang dapat dipetik dari cerita sebuah dongeng, akan sangat berpengaruh kepada pembentukan karakter anak dari sejak usia dini dan juga bagi pembaca dongeng.

Sudahkah anda membacakan cerita dongeng untuk sang buah hati, sobat-sobatku..?

Atau saya perhalus lagi pertanyaannya, pernahkah Anda mendongeng?

Berikut ini saya akan menceritakan ulang, sebuah dongeng yang memiliki makna yang begitu dalam dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua, khusus bagi para politisi culas yang berjamuran di negeri ini...

____________________________
Suatu ketika, di hutan tropis yang lebat, terlihat seekor induk harimau bersama kedua anaknya yang sudah mulai belajar berjalan.

Pagi-pagi buta ketika kedua anaknya masih tidur dengan sangat nyenyak, induk harimau keluar dari rumahnya, pergi untuk mencari makanan.

Setelah berburu makanan, sang induk harimau berniat untuk mengajari anak-anaknya yang mulai tumbuh besar untuk mencari makanan, sekaligus belajar untuk menjaga diri dan cara menghindar dari bahaya predator lainnya, seperti singa atau serigala.

Setelah berhasil memangsa seekor kelinci, sang induk harimau segera membawa buruannya kembali ke rumahnya.

Namun naas, ketika dalam perjalanan pulang, sang induk terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh pemburu.

Induk harimau itu sangat sedih dan berusaha melepaskan diri dari jeratan perangkap. Tetapi dia gagal...

Dalam kerisauannya, sang induk harimau sangat cemas memikirkan nasib anak-anaknya kelak, jika sampai dia tidak berhasil kembali menjumpai mereka.

Sore harinya, seorang pemburu dengan menenteng sebuah senapan, tiba di hadapan induk harimau.

Induk harimau tersebut berlutut memohon kepada sang pemburu agar diijinkan pulang ke rumah sejenak, hanya untuk memberi makan anak-anaknya dan mengajari mereka untuk mencari makan sendiri. Dia berjanji akan kembali ke sini untuk menyerahkan diri. Selanjutnya terserah kepada sang pemburu ingin memperlakukan apapun kepadanya, dia akan pasrah dan tidak akan melawan.

Pemburu ini melihat cucuran air mata keluar membasahi wajah sang induk harimau. Dia merasa sangat terharu dan berniat untuk mengabulkan permintaan sang induk harimau.

Pemburu : "Baiklah, saya akan mengabulkan permintaanmu. Tapi kamu harus bersumpah untuk menepati janjimu."

Induk harimau : "Saya berjanji... Janji adalah hutang dan hutang itu wajib hukumnya untuk dilunasi."
Induk harimau segera bergegas berlari pulang untuk menjumpai kedua buah hatinya.
Sesampainya di rumah, dia segera memberi makan anak-anaknya yang sudah kelaparan dan sekaligus mengajari mereka teknik berburu dan teknik bersembunyi dari predator.

Lalu dia berkata kepada kedua anaknya : “Anak-anakku, Bunda akan menceritakan sebuah kebenaran dan ketidakkekalan di dunia ini kepada kalian. Jika kalian sudah memahami kebenaran ini, maka kelak jika kalian menghadapi kesulitan apapun, kalian tidak boleh menghindar, kalian harus senantiasa berani menghadapinya dengan resiko apapun.”

Induk harimau itu melanjutkan lagi, “Ingatlah... Hidup ini tiada yang kekal. Hidup ini sangatlah singkat. Jalani saja semua ini dengan hati lapang. Segalanya akan berubah dan tidak pernah abadi. Kasih sayang dari orang tuamu yang mengasihi kamu tidak akan kekal, karena dibatasi oleh waktu dan umur. Kalian hanya dapat mengenang kebaikan dan perasaan tulus dariku, namun tidak akan pernah merasakannya lagi setelah Bunda pergi untuk selama-lamanya."

Anak-anaknya menangis sedih karena sudah mengerti bahwa kesempatan unttuk bersama sang bunda sangatlah terbatas.

Mereka bertanya, “Lalu mengapa Bunda masih harus menepati janji kepada orang jahat tersebut? Jika kita berjuang bersama-sama, kami yakin pasti akan dapat membunuh pemburu itu."

Induk harimau berkata, “Anak-anakku... Jauhkanlah sifat culas dan ingkar janji dalam hidupmu. Tanpa iman, dunia akan hancur. Tanpa kejujuran, dunia akan runtuh. Demi kelangsungan dan harapan dunia, saya rela berkorban, daripada menipu orang lain. Bunda rela mati demi integritas dan harga diri daripada harus menipu untuk hidup.”

Setelah selesai memberikan wejangan, sang induk harimau segera berlari keluar rumah sambil menahan tangisannya.

Anak-anak harimau segera mengejar induknya dengan sekuat tenaga.

Dari jauh, pemburu melihat induk harimau datang kembali memenuhi janjinya.

Pemburu itu menjadi sangat terharu dan ikut terisak bersama-sama.

Dengan tangan merangkap di depan dada dan berlutut, dia berkata kepada induk harimau, “Engkau bukan seekor harimau biasa, engkau pasti adalah jelmaan dari Malaikat.”

“Welas asihmu membuat orang menjadi sangat terharu. Kejujuran dan kebesaran imanmu membuat saya sangat malu. Silahkan engkau kembali, hudup bersama keluarga kecilmu. Saya berjanji tidak akan menyakitimu lagi... Bahkan mulai saat ini saya akan meninggalkan pekerjaan sebagai seorang pemburu dan tidak akan pernah menyakiti seekor binatang pun di hutan ini,” kata si pemburu itu.

_____________________________
Dari cerita sederhana di atas, dapat kita lihat sebuah pertunjukan tentang kejujuran dan integritas hidup untuk menepati janji yang luar biasa dari seekor harimau.

Sifat kasih sayang dan kejujuran dari induk harimau ini, akhirnya dapat membangkitkan niat baik serta menggugah relung hati paling dalam dari pemburu tersebut.

Keteguhan hati untuk mempertahankan kejujuran dan tidak ingkar janji, harus (bukan patut) ditiru oleh para politisi di negeri tercinta ini.

Masak... para poltisi kita kalah dengan seekor harimau yang rela mati demi integritas dan harga diri.
Politisi itu manusia dan harimau itu binatang...

Jangan dibalik-balik yah sobatku semua....

Jadi teringat dengan kejujuran Bung Joko, Bung Basuki, Bung Ganjar, Mbak Tri dan Mbak Susi...
(Salam Kejujuran - Salam UFO) by Firman Bossini