Ada Udang Dibalik Kwetiau

Ada Udang Dibalik Kwetiau - Keberadaan Koalisi Merah Putih, awalnya merupakan kekuatan politik yang cukup diperhitungkan setelah berhasil "mencopet" jabatan Ketua DPR dan Ketua MPR dengan begitu mudah dari partai pemenang Pemilu.

Mereka juga sesumbar bahwa jika mau, mereka akan dapat mengubah semua seluruh peraturan perundangan sesuai keinginan mereka di tanah air melalui kekuatan partai pendukung KMP di DPR.
"Kami adalah koki, pemerintah adalah waiters / pelayan. Waiters tidak akan bisa menyajikan makanan jika koki tidak memasak", begitulah pernyataan dari para pentolan KMP ketika berhasil menguasai pimpinan parlemen.

Percayalah... Niat yang tidak baik bakal dihancurkan oleh sebuah ketulusan.

Sekretaris Harian Koalisi Merah Putih (KMP), Fahri Hamzah dengan sombong mengatakan sejak awal cukup banyak yang meragukan KMP bisa bertahan lama.

Sejak dideklarasikan sebelum Pilpres 2014, sekalipun sinisme bermunculan, "Kalau Prabowo menang KMP bertahan tapi kalau Prabowo kalah KMP akan bubar."

Namun kenyataannya KMP tetap ada dan belum "tamat" hingga saat ini.

Sementara itu...

Presiden Jokowi sangat cerdas dalam mengamati perkembangan di DPR yang sangat membahayakan posisinya dan dapat "mengganggu" semua kebijakan yang pro rakyat dari pihak eksekutif.

Melalui tangan Menkumham, Jokowi "mengaduk-aduk" Golkar dan PPP, dan tetap dibiarkan kisruh hingga saat ini, dengan tujuan untuk menghadang laju kekuatan KMP di parlemen.

Upaya ini berhasil...

Lambat laun, kekuatan KMP mulai melemah..

Tahun 2016 ini adalah tahun ujian terbesar bagi KMP...

PAN sudah jelas mengumumkan bergabung dengan pemerintah meski menyatakan tetap di KMP (arghhhh... Basa basi doank)

Demokrat dengan "pintar" bermain politik dengan dua kaki, menyatakan tetap sebagai kekuatan penyeimbang dan berada di luar pemerintah, tapi akan tetap mendukung kebijakan yang pro rakyat.
SBY sebagai pucuk pimpinan tertinggi Demokrat akan tetap dapat memainkan perannya dalam perpolitikan nasional melalui "bargaining" politik dengan pemerintah. Ini juga sebagai efek dari "post power syndrome" setelah lengser dari kursi RI 1.

Beberapa hari belakangan ini, kita disuguhkan lagi oleh lakon drama dari Partai Golkar, yang secara bulat menyatakan dukungannya kepada pemerintah. Sama seperti PAN, Golkar menyatakan akan tetap ada di KMP. (Jiahhhh...anak kecil juga tahu kalau ini cuma guyonan)
Ketua Harian KMP yang katanya "sangat berkuasa", berbalik haluan memunggungi pemrakarsa KMP, Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Mengapa Partai Golkar versi Munas Bali, secara dramatis berbalik arah mendukung pemerintah?
Menurut analisaku yang sempit dan dari sudut pandang yang luas :
(1) Agar pemerintah segera mengakui keabsahan pengurus versi Munas Bali ataupun versi munas mereka sendiri.
Walaupun terlihat, seakan-akan mengikuti usulan Wapres untuk mengadakan Munaslub sebelum Lebaran, namun sebenarnya mereka sudah "menguasai" para pemilik suara dan tinggal formalitas pengesahan dari peserta Munaslub saja.
Berulangkali mereka telah mengadakan konsolidasi untuk mematangkan niatnya melalui Nurdin Halid yang sudah kita kenal kepiawaiannya dalam "mengkondisikan" sesuatu.
Artinya mereka akan tetap langgeng sebagai "pemilik perusahaan" Golkar.

(2) Ibarat sedang bermain bola, mereka sedang menyusun kekekuatan baru dengan merotasi pengurus yang tidak loyal kepada ARB dan berupaya menancapkan kuku mereka ke sayap-sayap organisasi pendukung Golkar.

Lihat saja, bagaimana seorang Aziz Syamsuddin berhasil menjadi ketua Kosgoro.
Dan mereka tetap harus merangkul pemerintah untuk mendukung langkah-langkah tersebut.
Sobatku sekalian....

Intinya, apa yang dilakukan penguasa Golkar saat ini tidaklah setulus seperti yang disampaikan mereka di depan publik.

"Ada udang dibalik kwetiau", peribahasa ini sangat cocok disematkan untuk mereka.

Manuver-manuver dari seorang pemain bola tidaklah begitu penting, yang paling utama adalah mencetak gol, baik itu dengan kaki, kepala, bokong atau bahkan tangan.

Masih terlintas di benakku dulu, saat sedang terjadi pertarungan menuju RI 1, tatkala ARB berjabat tangan dan berangkulan dengan Jokowi di sebuah pasar di Jakarta.

ARB dengan senyum tipis tanpa kata-kata, mengiyakan semua perkataan Jokowi bahwa Golkar akan mendukung Jokowi menjadi RI 1.

Semua pengamat terkejut dengan langkah ini, termasuk saya.

Namun hanya selang beberapa hari kemudian, ARB secara tiba-tiba memberikan dukungan kepada Prabowo dan melupakan acara "jabat tangan" dengan Jokowi karena di kubu Prabowo, ARB bakal mendapat posisi sebagai Menteri Utama.

Memang tidak ada yang salah dengan kejadian ini.

Politik itu dinamis...

Namun etika politik itu yang saya persoalkan...

Terlintas sebuah ucapan dari Ruhut Sitompul, "semoga dukungan ini bukan dukungan palsu".
Wallahu A'lam...

Tuhan Maha Mengetahui...

Sepiring nasi putih dengan lalapan sambel pedas menemaniku melihat lakon drama yang tidak lucu itu.

(Salam Demokrasi - Salam UFO) by Firman Bossini